Kebangkitan Nasional: Inspirasi Temporal Dan Obsesi Global

Kebangkitan Nasional: Inspirasi Temporal Dan Obsesi Global

- in Suara Kita
1090
0
Kebangkitan Nasional: Inspirasi Temporal Dan Obsesi Global

Hari ini kita kembali memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan yang ke-113 kali ini mengambil tema “Bangkit! Kita bangsa yang tangguh”. Spirit kebangkitan membutuhkan inspirasi masa lalu dan obsesi masa depan.

Masa lalu adalah guru, masa depan adalah harapan. Demikianlah semestinya kita dan segenap komponen bangsa menempatkan dinamika perjalanan bangsa sebagai energi membangun kemajuan negeri. Bung Karno pernah berujar “Perjuanganku lebih mudah karena hanya melawan bangsa penjajah, Perjuangan kalian akan lebih berat karena akan melawan bangsa sendiri”. Nasihat futuristik ini akan selalu relevan untuk kita renungkan.

Sejarah nusantara merupakan guru dan modal sangat berharga. Sedangkan cita-cita dan mimpi kemajuan bangsa di level dunia merupakan spirit dan peta jalan yang menyemangati kita. Obyek utama pembangunan adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya. Kunci membangun keunggulan SDM yang berkarakter nusantara adalah memahami sejarah dan meneladani segenap nilai-nilai yang telah diletakkan para pendahulu bangsa. Sedangkan kunci membangun SDM berwawasan global adalah kuatnya visi, visi dan mimpi memajukan negeri guna menjadi terdepan di kancah global.  

Inspirasi Historiografi

Sejarah adalah sumber inspirasi sekaligus keteladanan. Aristoteles mengartikan sejarah sebagai suatu sistem yang mengidentifikasi kejadian dalam bentuk kronologi, yang menjelaskan kronologi dari terjadinya suatu peristiwa. Ia juga menyatakan bahwa sejarah menjadi sesuatu yang terjadi di masa lampau dan dapat dibuktikan dengan adanya catatan-catatan.

Topata (2020) menjabarkan bahwa historiografi memiliki empat fungsi. Pertama adalah fungsi pembelajaran. Edukasi atau pembelajaran sangat membutuhkan sejarah sebagai bahan ilmu pengetahuan. Namun tak hanya untuk bahan ilmu pengetahuan saja, sejarah menjadi salah satu guru terbaik yang dapat diambil hikmahnya. Anda bisa belajar dari kejadian masa lampau, dari sejarah yang tak akan terulang, untuk membangun kehidupan yang jauh lebih baik lagi.

Kedua adalah fungsi instruktif. Maksud dari fungsi sejarah sebagai fungsi instruktif adalah bahwa sejarah menjadi ilmu pengetahuan yang bisa dijadikan sebagai sebuah landasan teori. Teori yang lahir dari konsep dalam sejarah dapat digunakan dalam berbagai macam bidang, seperti dalam bidang konstruksi. Berbagai macam teknik konstruksi kuno menjadi salah satu bahan pembelajaran di bidang konstruksi. Selain itu, juga menjadi sebuah pelajaran bagaimana kehidupan masyarakat atau cara-cara mereka bertahan hidup di zaman dulu.

Ketiga adalah fungsi inspirasi. Untuk masa sekarang, sejarah menjadi hal penting. Dengan mengingat kegemilangan dan kesuksesan sesuatu melalui sejarah, akan membuat setiap orang tergugah untuk mencapai hal-hal yang sama baiknya, bahkan lebih dari pencapaian yang telah ditorehkan oleh sejarah. Misal inspirasi dalam bidang kuliner, kebudayaan, maupun lainnya.

Terakhir yaitu fungsi rekreasi. Banyak tempat-tempat bersejarah yang dijadikan sebagai objek wisata. Bangunan-bangunan kuno kini justru banyak dikunjungi oleh orang-orang untuk berwisata. Museum juga menjadi tempat penyimpanan sejarah zaman lalu yang banyak dikunjungi oleh wisatawan.  

Sejarah tentu tidak sekadar ditempatkan dalam romantisme. Ia adalah guru yang harus digali nilai keteladanannya untuk dikontekstualisasikan dengan perkembangan zaman.

Mimpi Futurologi

Pemimpin masa depan adalah pemimpi masa kini. Tentu bukan mimpi yang asal dan penuh ilusi. Namun mimpi yang terukur dan terpetakan jalan meraihnya. Untuk itulah muncul kajian akademik futurologi yang harus dikuasai dalam proses membangunan bangsa.

Canton (2009) mencatat bahwa disiplin ilmu futurologi dipopulerkan pada periode 1970-an oleh saintis bernama Alvin Toffler. Ia mengajukan ramalan  bahwa kelak dunia akan berubah seiring cepatnya teknologi, dan yang paling cepat mempengaruhi dunia adalah teknologi informasi. Ramalannya terbukti benar, saat ini dunia sedang berpesta pora atas mudahnya akses informasi melalui bebagai macam media: internet, televisi, telepon selluler, yang mau tidak mau mengubah cara hidup manusia.

Salah satu ilmuwan yang juga layak disebut futurolog adalah Samuel Huntington, yang pada 27 Desember 2008 lalu meninggal dunia. Huntington meramalkan, selepas berakhirnya perang dingin, persaingan antar macam peradaban di dunia ini tetap akan berlanjut. “Benturan antar peradaban”, begitu Huntington mengistilahkan, bahkan akan mengambil basis agama dalam pertarungan mereka. Perang berbasis agama telah terjadi, sebagaimana yang telah diramalkan Huntington.

Canton sendiri juga merupakan futurolog. Ia adalah murid langsung Alvin Toffler yang melanjutkan metode ilmiah sang guru dalam memprediksi apa yang akan dialami dunia di masa depan. Canton telah memprediksi mengenai bagaimana keadaan dunia hingga 20 tahun ke depan. Ia meramalkan nasib energi minyak yang akan habis dan tergantikan dengan energi yang terbarukan.

Pada tahun 2025, Canton menurutnya sains masih akan berkembang dengan sangat pesat. Teknologi kedokteran akan semakin maju sehingga usia manusia akan kian panjang. Selain itu, Canton  juga meramalkan bahwa iklim di masa depan akan semakin buruk akibat pemanasan global.

Hal yang menarik dari ramalan Canton adalah bahwa “Benturan Peradaban”, sebagaimana diramalkan Huntington, masih akan terus terjadi. Globalisasi adalah penyebabnya. Semakin mudahnya manusia terhubung satu sama lain justru akan membuat nilai-nilai yang mereka anut saling bertabrakan. Selain itu, Canton memprediksi, Cina akan tumbuh menjadi negara yang sangat kuat, dan menjadi negara penentu dalam ekonomi global.

Negeri ini telah menggariskan mimpinya sebagai cita-cita bangsa yang termaktub dalam UUD NRI tahun 1945. Prediksi futurolog global penting dicermati dan dikaji untuk diantisipasi secara terukur meskipun tidak harus ditelan mentah-mentah. Futurologi ke-Indonesiaan penting dikembangkan dan digali bersama sebagai khasanah ilmiah yang konstruktif.

Facebook Comments