Lebaran, Takbiran, dan Persaudaraan Kebangsaan

Lebaran, Takbiran, dan Persaudaraan Kebangsaan

- in Suara Kita
1106
0
Lebaran, Takbiran, dan Persaudaraan Kebangsaan

Tak terasa, bulan suci Ramadan segera berlalu. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, umat Muslim akan segera bersuka-cita menyambut hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri. Hari Raya Idul Fitri menjadi hari berbahagia setelah menahan lapar, dahaga, dan pelbagai hal yang bisa membatalkan puasa selama berpuasa di bulan Ramadan sebelumnya.

Kebahagiaan tersebut tak lepas dari diperbolehkannya umat Muslim untuk kembali makan setelah selama sebulan sebelumnya dilarang. Sebagaimana arti “Idul Fitri” secara bahasa, di mana “Ied” yang berarti Hari Raya, dan kata “Fitrh” yang bermakna “makan” atau “makanan”. Artinya, umat Islam pada tanggal 1 Syawal kembali diperbolehkan untuk makan, bahkan diwajibkan untuk makan dan justru haram untuk berpuasa. Maka kita kemudian disunnahkan untuk makan sebelum berangkat menjalankan shalat Ied.

Di samping menjadi tanda berakhirnya bulan Ramadan dan selesainya ibadah puasa, Hari Raya Idul Fitri juga sering dimaknai sebagai momentum kembalinya seorang Muslim pada kesucian. Sebab, setelah berhasil menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh dengan penuh keimanan, maka dosa-dosa seorang Muslim akan diampuni. Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan karena keimanan dan mengharapkan keridhaan Allah, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR Ahmad dan Ashhab Al-Sunan).

Momentum Hari Raya Idul Fitri juga sering disebut sebagai Hari Kemenangan. Artinya, pada hari itu, umat Muslim terlahir kembali sebagai orang-orang yang “menang” dalam menundukkan hawa nafsu selama bulan Ramadan. Dalam konteks ini, perjuangan melawan hawa nafsu telah purna dan Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum kemenangan yang dirayakan bersama.

Hari Raya Idul Fitri atau momentum Lebaran kaya akan pelbagai refleksi bagi umat Muslim. Saat malam Hari Raya, misalnya, umat muslim tak henti mengumandangkan takbir. Di masjid-masjid, surau, dan musala-musala, bahkan di jalan-jalan lantunan takbir menggema dalam suasana suka cita. Di Indonesia, malam takbiran bahkan telah menciptakan pelbagai tradisi yang berbeda-beda di setiap daerah. Namun, pada intinya semua merupakan ekspresi kebahagiaan umat Muslim setelah menunaikan ibadah puasa dan menyambut Hari Kemenangan dengan mengagungkan Alllah Swt.

Takbir dan refleksi

Mengucap takbir pada malam Hari Raya mestinya tak sekadar terucap di mulut. Melantunkan takbir perlu dilandasi penghayatan agar kita bisa sampai pada pemaknaan terdalam. Dari palung hati terdalam, pengakuan dan kesadaran atas kebesaran Allah Swt Sang Pencipta harus diiringi refleksi atas segala kesalahan dan betapa kecilnya diri kita sebagai manusia di tengah semesta raya ciptaan-Nya ini. KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam sebuah acara di televisi pernah dawuh, “Kalau kita mengatakan Allahu Akbar dan kita masih belum bisa mengecilkan diri sendiri, kita belum bisa menghayati Allahu Akbar”. Artinya, bertakbir mesti diiringi sikap merendahkan diri sendiri di hadapan-Nya dengan mengakui betapa kecil, betapa lemah, dan betapa tak sempurnannya diri kita sebagai manusia.

Di momentum Hari Raya, penghayatan atas takbir tersebut penting direnungi. Mengucap takbir tak semestinya menjadikan kita sombong. Justru, takbir mestinya membuat kita lebih tawadhu’ sebagai manusia yang serba tak sempurna dan penuh kesalahan. Sikap tawadhu’ ini, pada gilirannya juga membawa pemaknaan takbir pada nilai-nilai persaudaraan pada sesama. Jika kita mampu menghayai takbir dengan melakukan refleksi tersebut, maka kita akan mulai menyadari segala kesalahan dan keegoisan kita selama ini sebagai manusia.

Sebagai manusia, kita kerap berlaku sombong dan egois pada sesama, menganggap diri paling benar, paling hebat, kuat, dan berkuasa. Dari sana, kadang muncul sikap-sikap arogan, bahkan kekerasan dan intoleran pada sesama. Tanpa kita sadari, hal tersebut telah melalaikan kita pada Allah Swt. dengan segala ke-Maha-an-Nya. Seseorang yang bersikap arogan, intoleran, bahkan melakukan kekerasan sehingga menciptakan perpecahan dan pertikaian pada sesama, bisa dikatakan secara tak langsung telah melupakan sifat-sifat Allah, Penciptanya yang Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun.

Maka, dengan mengagungkan Allah Swt, segala bentuk kesombongan yang berkerak di hati kita akan kembali luruh. Segala bentuk keegoisan, kebencian, dendam, permusuhan, dan sifat-sifat yang sering merusak hubungan kita dengan sesama, akan mulai terkikis. Jika itu yang terjadi, gema takbir di Hari Raya Idul Fitri benar-benar menjadi penanda telah kembalinya diri kita pada kondisi fitrah, kondisi suci.

Selanjutnya, diharapkan dalam kondisi jiwa dan hati yang suci dari sifat-sifat negatif tersebut, kita kemudian mampu memancarkan sifat-sifat kasih sayang kemanusiaan, peduli dan menghargai sesama, sehingga persaudaraan akan tumbuh dan menguat. Di sinilah, Idul Fitri kemudian menjadi momentum untuk menguatkan ikatan persaudaraan pada sesama, Dalam konteks bangsa, hal ini relevan diresapi mengingat apa yang terjadi belakangan ini, di mana spirit persaudaraan kebangsaan cenderung melemah karena egoisme, pertikaian, dan sikap-sikap intoleran.

Hari Raya Idul Fitri memang pantas disambut dengan suka cita mengagungkan Allah Swt dengan banyak mengumandangkan takbir. Namun, dari takbir itu pula kita belajar berkaca, melihat segala ketidaksempurnaan dan kesalahan diri. Kita akan sadar betapa kecilnya kita di hadapan kekuasaan dan keagungan Allah Yang Maha Besar, sehingga—sebagai hamba-Nya—kita akan malu untuk menyombongkan diri pada sesama manusia. Wallahu A’lam..

Facebook Comments