Pancasila, Lokalitas Bangsa, Dan Perdamaian Dunia

Pancasila, Lokalitas Bangsa, Dan Perdamaian Dunia

- in Suara Kita
129
1

Bangsa Indonesia patut bersyukur memiliki dasar negara Pancasila. Pancasila telah menyatukan beragam ideologi dan budaya bangsa dalam satu bingkai. Lokalitas bangsa menjadi kuat dan semakin berdaya melalui falsafah Pancasila. Daya jangkaunya juga bahkan hingga level dunia. Indonesia sebagai bagian dari dunia secara sadar dan aktif terus menggelorakan spirit perdamaian di garda terdepan. Khasanah lokalitas bangsa dapat diambil dari semua nilai budaya di seluruh penjuru nusantara.

Semua nilai budaya nusantara dapat dipastikan antikekerasan. Catatan historis yang diwarnai konflik dan darah hanyalah bentuk kecelakaan atau penyelewengan oleh oknum semata. Filosofi dan nilai budaya selalu memberikan pesan nirkekerasan dan berguna bagi sesama di alam semesta ini.

Budaya Nusantara

Khasanah budaya nusantara sudah tidak diragukan banyaknya dan kualitasnya. Budaya ini terajut sejak dahulu kala dan tertempa oleh dinamika zaman. Faktanya eksistensinya tetap kokoh dan semakin dibutuhkan di era modern ini. Kebutuhan ini tentu bukan sekadar nostalgia atau formalisasi eksistensi. Namun benar-benar dibutuhkan dalam intenalisasi nilai dan aktualisasi dalam perikehidupan sehari-hari.

Modernitas dengan gelombang informasi yang dahsyat memberikan konsekuensi masuknya banjir budaya dari semua penjuru dunia. Nilai budaya lokal nusantara diuji dalam fenomena kontemporer ini.  Mampukah ia membentengi diri dan berdialektika dengan perkembangan atau justru tergerus dan hanyut tanpa bekas. Budaya nusantara tentu tidak anti budaya asing. Dalam taraf dan aspek tertentu bahkan butuh dan wajib bersinergi atau berakulturasi demi optimalisasi.

Revitalisasi budaya lokal dibutuhkan guna menemukan kontekstualisasi upaya deradikalisasi. Lembaga budaya atau entitas adat penting diperkuat perannya. Reuter (2013) menyebut revitalisasi tradisi merupakan efektif cara untuk menanggapi radikalisme secara dialogis dan absorbsi. Revitalisasi merupakan cara tradisi lokal merespon pengaruh luar. Respon pada masa dahulu sifatnya defensif atau resisten. Dimana lebih dominan menolak atau jika pun menerima maka sangat selektif. Proses tersebut kini penting untuk lebih terbuka. Tradisi lokal penting mencoba memberi makna baru terhadap pengaruh luar secara kreatif. Selain itu juga memberikan pemaknaan kembali tradisi lokal dan kontekstualisasi masuknya pengaruh baru secara dialogis dan absorbsi. Revitalisasi tradisi mesti partisipatif atau melibatkan masyarakat luas dalam membangun semangat toleran dan dialog.

Prasetyo (2015) memaparkan bahwa kehadiran Islam di nusantara meniscayakan pemahaman dan perilaku nirkekerasan. Akulturasi Islam dan budaya Jawa berhasil membangun model historis Islam yang selalu nguwongke wong atau memanusiakan manusia. Artinya adalah antikekerasan, sangat menghormati manusia lain, toleran dan menjunjung tinggi hakikat perbedaan dalam bingkai nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dinamika ini membuktikan hakikat Islam yang rahmatan lil alamin sejak lahir di jazirah Arab dan hadir beratus tahun lalu di Indonesia.

Upaya Aktualisasi

Deradikalisasi mesti dididik sejak dini melalui pendidikan multikultural. Pendidikan multikultural merupakan proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah masyarakat majemuk, sehingga pencegahan radikalisme bisa dilakukan dengan menerapkan pendidikan multikultural dan anti-terorisme sejak dini (Ahmadi, 2016).

Salah satu strategi pendidikan deradikalisasi berbasis budaya untuk anak usia dini misalnya melalui pendekatan permainan tradisional. Indah (2016) menungungkapkan bahwa Pelestarian permainan tradisional juga memiliki manfaat untuk menanamkan budaya anti kekerasan. Hadirnya permainan atau game modern berbasis teknologi secara tidak langsung turut menyebabkan hilangnya sifat kebersamaan dan toleransi. Hal ini mengingat permainan modern cenderung egois atau individualis.

Penggalian nilai maupun atraksi budaya yang mengajarkan sikap anti kekerasan penting terus dilakukan di tiap entitas budaya. Antar budaya mesti sinergi dan tidak saling menganggap jumawa. Even-even lintas budaya dan komunikasi antar elit kultural dapat diintensifkan.

Pendekatan budaya dengan media modern juga penting dikembangkan. Mengingat teknologi informasi telah menjadi keniscayaan. Hal ini demi mengikuti tren zaman dan keinginan generasi sekarang.

Budaya nusantara dapat menjadi unggulan di level global. Aktualisasi budaya untuk deradikalisasi mesti dikemas sistematis dan dapat ditularkan ke budaya negara lain. Indonesia penting percaya diri dalam memberikan keteladanan deradikalisasi. Budaya nusantara mesti mewarnai peradaban global. Saringan ketat juga penting disiapkan guna memfilter derasnya gelombang budaya modernitas dan mengarah ke hedonisme.

Pendekatan budaya ini juga penting kolaborasi dengan pendekatan lain. Misalnya adalah agama, pendidikan, olahraga, sosial, politik, dan lainnya. Fasilitasi pemerintah  dan partisipasi publik menjadi kunci suksesnya deradikalisasi yang berkesinambungan. Tidak menutup kemungkinan budaya kita juga terbuka belajar dari budaya asing demi optimalisasi deradikalisasi. Forum budaya dunia dapat dikembangkan khususnya dalam upaya deradikalisasi.

Facebook Comments