Pesantren, Islam Nusantara, dan Nasionalisme Santri (1)

Pesantren, Islam Nusantara, dan Nasionalisme Santri (1)

- in Budaya, Peradaban
3022
0

Islam  sudah masuk ke Indonesia sejak pertengahan abad ke-7 Masehi, yaitu era  Kerajaan Kalingga (Groeneveldt, 1960) yang sejaman dengan era Khalifah Ali bin Abi Thalib berkuasa. Menurut Wheatley (1961) yang paling awal membawa seruan Islam ke Nusantara pastilah para saudagar Arab, yang sudah membangun jalur perhubungan dagang dengan Nusantara jauh sebelum Islam.

S.Q. Fatimi (1963) mencatat bahwa pada abad ke-9 Masehi, terdapat migrasi suku-suku dari Persia ke Indonesia yaitu suku Lor, Yawani, dan Sabangkara. Orang-orang Lor mendirikan pemukiman-pemukiman di pantai utara Pulau Jawa yang disebut Loram dan Leran. Terdapatnya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatallah di Leran, Gresik, yang kronogram di batu nisannya menunjuk angka tahun 475 H/ 1082 M adalah petunjuk yang mengarah kepada kebenaran berita kehadiran suku Lor tersebut.

Tahun 1292  Marcopolo yang kembali dari Cina lewat lautan, dalam perjalanan menuju Teluk Persia singgah di enam pelabuhan dagang yang terdapat di pesisir Sumatera. Pelabuhan pertama yang disinggahinya adalah Ferlec (Peureulak). Menurut kesaksian Marcopolo:  Ferlec. “This kingdom is so much free quented by Saracen merchants that they have converted the native to the Law of Mahommet I mean the town people only, for the hill-people live like beasts and eat human flesh (Hambis, 1955), sebaliknya Marcopolo mendapati sebagian saudagar muslim yang tinggal di perlak adalah orang Cina.

Ma Huan yang mengikuti pelayaran Cheng Ho ke-7 pada 1433 M mencatat bahwa di Jawa saat  itu terdapat tiga golongan penduduk. Golongan pertama, penduduk Islam dari barat yang telah menjadi penduduk setempat. Golongan kedua, orang-orang Cina yang lari dari negerinya dan menetap di Jawa. Banyak di antara mereka yang memeluk Islam serta taat melaksanakan ibadah agamanya itu.

Sedang golongan ketiga,  adalah penduduk asli yang sangat jorok dan hampir tidak berpakaian. Rambut mereka tidak disisir, kaki telanjang, dan mereka sangat memuja roh di batu dan pepohonan (Hirth, 1966). Fakta ini menurut  Ricklef (2009) merupakan bukti bahwa sekali pun jaringan perniagaan Islam pada abad 12 sudah terbentuk hingga ke Maluku, tetapi tidak ada bukti bahwa Islam pernah dianut oleh penduduk Nusantara secara besar-besaran.

Historiografi setempat seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kandha, Babad Ngampel Denta, Babad Demak, Babad Cirebon  mencatat Islam datang ke Jawa  sekitar  tahun 1440 – 1446 M dalam kisah kedatangan  Sunan Ampel yang berasal dari negeri Campa. Ini berkaitan dengan catatan sejarah Campa yang berperang dengan Vietnam pada 1446 M yang diikuti terjadinya eksodus besar-besaran penduduk Campa ke daerah selatan seiring jatuhnya Campa pada 1471 M. Dari kedatangan Sunan Ampel sampai terbentuknya Wali Songo sedikitnya dibutuhkan waktu 25-30 tahun, yaitu sekitar tahun 1470-1475 M, yaitu saat putera-putera dan murid-murid Sunan Ampel  dewasa.

Masa setelah Majapahit diserang Girindrawarddhana pada 1478 M yang disusul pembangunan Masjid Demak pada 1479 M, adalah masa dakwah Islam awal yang tampaknya mulai  dijalankan oleh Wali Songo; yaitu Sunan Ampel beserta putera, menantu, murid-murid, dan kerabatnya. Empat dasawarsa kemudian, yakni sekitar tahun 1513 M saat Tome Pires datang ke Jawa, ia mempersaksikan bahwa sepanjang pantai utara Jawa sudah dikuasai adipati-adipati muslim. Raja Jawa bernama Wigiayayang bukan Islam tinggal di Dayeuh (Daha) yang terletak di pedalaman (Cortesao, 1944). Ini berarti, dakwah Islam yang dijalankan Wali Songo butuh waktu sekitar 40-50 tahun untuk mengislamkan sebagian besar penduduk Jawa. Fakta tentang cepatnya Islamisasi Jawa, sampai saat ini menjadi tanda tanya besar bagi kalangan sejarawan yang belum terjawab memuaskan terutama tentang strategi dakwah yang dijalankan Wali Songo dalam menyebarkan dakwah Islam.

(Bersambung)

Facebook Comments