Posisi Strategis Budaya Banjar Sebagai Benteng Masyarakat dari Ideologi Trans-nasional

Posisi Strategis Budaya Banjar Sebagai Benteng Masyarakat dari Ideologi Trans-nasional

- in Suara Kita
787
0
Posisi Strategis Budaya Banjar Sebagai Benteng Masyarakat dari Ideologi Trans-nasional

Rasa memiliki yang ditanamkan oleh kearifan lokal merupakan modal yang sangat berharga untuk mendetektsi, mencegah, dan melawan ideologi trans-nasional. Menghidupkan kembali budaya lokal yang dimiliki oleh Nusantara merupakan salah satu cara efektif menangkal laju gerak penetrasi ideologi trans-nasional.

Laporan survei Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tahun 2018 menunjukkan bahwa 63,60 % masyarakat menilai bahwa kearifan lokal bisa menjadi daya tangkal radikalisme dan terorisme. Angka tersebut merupakan kategori tertinggi. Kepercayaan masyarakat ini merupakan nilai plus yang harus diberdaya-gunakan.

Strategi kearifan lokal bisa dilakukan dengan cara-cara memaksimalkan peran masyarakat lokal dalam pencegahan Selain itu juga, peran tokoh adat dan tokoh agama setempat diberikan ruang yang luas untuk ikut-aktif dalam kerja-kerja pencegahan.

 Budaya lokal, baik itu nasihat, legenda, cerita, dan permainan tradisional, maupun dalam bentuk nilai-nilai universal yang diajarkannya, perlu dilirik oleh pemerintah sebagai bagian dari kerja pencegahan radikalisme.

Secara formal, keikut-sertaan masyarakat, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan tokoh agama di tingkat lokal bisa mencegah – setidaknya memiminalisir – virus dan akses-akses radikalisme. Selama ini, kerja-kerja pencegahan lebih banyak –kalau tidak mengatakan seluruhnya –bersifat sentralistik.  

Artinya strategi yang digunakan selalu lewat komando pusat dengan tak-tik dan prosedur yang ketat. Di tingkat lokal, peran masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama ternyata sangat fungsional. Sebab mereka mempunyai otoritas sendiri di lingkungannya.

Kearifan lokal adalah salah satu cara untuk merangkul dan menjadikan seseorang menjadi bagian dari bangsa dan negara ini. Rasa memiliki itu merupakan kunci nyata dalam merawat perdamaian, keamanan, toleransi, dan harmoni dalam kehidupan nyata.

Sifat Baru Radikalisme

Satu fakta yang harus dipahami terlebih dahulu bahwa sifat radikalisme-terorisme di era kontemporer sangat rumit dan kompleks. Jika radikalisme pra-modern mudah dideteksi siapa pelaku dan di mana tempat terjadinya, maka radikalisme saat ini sulit dideteksi aktor, lokus, motif, dan sebab-musababnya.

Dulu, radikalisme itu datang dari pinggiran, yakni mereka yang termajinalkan, terpinggirkan, tersisih dari kekuasaan, atau mereka yang mau memisahakan dari kekuasaan negara. Saat ini, radikalisme bersifat acak, global, bisa datangnya dari pusat dan sangat sulit diidentifikasi gerak-geriknya.

Radikalisem saat ini tidak lagi pandang usia, ia bisa masuk kemana saja, dari anak-anak sampai orangtua; dari kalangan tidak terdidik sampai kalangan terdidik; dari yang tidak paham agama sampai kepada yang paham dan tokoh agama; dari kalangan pra-sejahtera sampai kepada kaya raya sekalipun.

Di tengah kondisi seperti ini, maka menangkal radikalisme-terorisme butuh pendekatan yang beragama, lintas disiplin, dan lintas budaya. Tidak bisa lagi dengan cara-cara militeristik dan konvensional semata. Butuh pendekatan budaya dan kearifan lokal.

Dalam konteks inilah, merujuk kembali kepada budaya lokal masing-masing, sebagai daya tangkal radikalisme sangat urgen dilakukan. Kearifan lokal dinilai bisa menangkal radikalisme. Sebab dengan sistem kekeluargaan, kekerabatan, dan adat-istidat yang terdapat pada suatu daerah menyebabkan individu merasa bagian dari daerah itu. Yang pada akhirnya, dia merasa memiliki.

Terjadinya aksi terorisme salah satu sebabnya adalah hilangnya  rasa memiliki itu. Kearifan lokal menjadikan manusia menjadi bagian dari daerah tersebut. Meleburnya seseorang terhadap suatu komunitas tertentu, otomatis akan menyebabkan dia enggan untuk merusak dan menghancurkan komunitas tersebut.

Logika yang sama, jika seseorang sudah merasa dan diperlakukan menjadi bagian dari suatu bangsa dan negara Indonesia, maka ia tidak sampai hati akan merusak dan menghancurkan negara dan bangsa itu.

Khazanah Budaya Banjar

Kalimantan Selatan kaya akan budaya, tradisi, dan kearifan lokal. Mulai dari bentuk bangunan, tarian, sistem kekerabatan, sampai kepada nasihat-nasihat, dan nilai-nilai religi yang tersebar luas di masyarakat. Banyak kearifan lokal yang bisa difungsikan sebagai daya tangkal radikalisme.

Seni tuturan Madihin misalnya. Seni tutur ini berisi nasihat-nasihat penuh kebaikan dan kebijaksanaan. Petuah para leluhur untuk tetap harmoni, guyub, dan menjaga sistem kekeluargaan dan tatanan kehidupan bersama adalah modal yang sangat besar untuk mencegah radikalisme.

Seni tuturan yang penuh dengan pesan perdamaian dan menjauhi kekerasan dan permusuhan perlu diaktualisaskan di era sekarang. Generasi millennial harus disadarkan, bahwa Kalsel memiliki banyak ragam budaya yang masih cocok dengan laju gerak kemajuan zaman.

Hal yang sama bentuk bangunan, tarian, dan cerita-cerita legenda penuh makna, dan nilai-nilai religi yang selalu melekat dalam urat nadi masyarakat Kalsel harus dikontekstualisasikan dalam upaya pencegahan segala tindakan yang berpotensi melahirkan radikalisme dan terorisme.

Budaya kalsel sangat adaftif dan sangat fungsional sebagai wasilah dalam meminimalisir aksi terorisme. Mengacu pada laporan survie Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalimantan Selatan (2019), kearifan lokal Kalsel 56.67% mempengaruhi budi pekerti, 34,66% mempengaruhi kepribadian, dan 11, 67% mempengaruhi kesadaran diri.

Posisi strategis budaya dan kearifan lokal Kalsel ini adalah modal utama untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian penuh toleransi kepada masyarakat umum, terkhusus pada pada masyarakat Kalsel sendiri. Memfungsikan kearifan lokal adalah salah satu cara mengusir radikalisme dan terorisme di bumi Kalimantan Selatan.

Facebook Comments