Sapere Aude: Nyala Nyali Kaum Terdidik

Sapere Aude: Nyala Nyali Kaum Terdidik

- in Suara Kita
128
0

IA bukan Yesus. Tapi ia di salib. Dikutuk. Diludahi. Dicacimaki. Ia bukan maling. Tapi kedua tangannya dipotong. Ia bukan pezina. Tapi tubuhnya dirajam dan dicincang. Ia bukan orang Hindu, Buddhis atau Konghuchu. Tapi tubuhnya yang telah tercincang itu dibakar. Dan abunya, ditebarkan di atas kali Trigis, dari pucuk menara.

Hallaj al-Asrar. Konon, namanya mengacu pada si penjual parfum. Riwayat lain: sang pemintal rahasia.

Nasibnya yang mengenaskan, kata sebuah riwayat, karena ia menyebarkan paham ittihad, seperti Wisnu yang menitis ke Krisna, yang membuat ia—dalam jadzab-nya—bergumam: “Ana al-Haqq.”

Tapi yang jelas, entah karena faktor teologis ataupun politis, Hallaj memang mengetengahkan pengalaman, pemahaman, dan tafsir berbeda dari pusat—dalam hal ini direpresentasikan dinasti Abasiyah.

Hallaj punya nyali untuk mandiri, bahkan dengan guru-gurunya sendiri: al-Maki dan Junaid al-Baghdadi.

Di belahan Bumi lainnya, Galileo bernasib serupa. Versi ilmiah “kebenarannya” ditengarahi menyimpang dari doktrin resmi gereja.

Sapere aude, semboyan zaman yang terlambat datang itu sepertinya mampu memotret benak al-Hallaj dan Galileo, sepenggal motto aufklarung yang memiliki daya hentak nyaris melebihi motto perlawanan lainnya: carpe diem.

Yang pertama, sapere aude, lebih mengutamakan nalar. Adapun yang kedua, carpe diem, hasratnya.

Dalam sejarah filsafat (Barat) ada sepenggal era di mana nalar manusia diberi porsi yang sama atau bahkan lebih banyak dari iman. “Cogito ergo sum (I think therefore I am),” begitulah simpul Descartes, Bapak modernisme.

Di era ini, iman tak semata persoalan keyakinan yang mesti dipegang secara buta. Tapi juga ada olah nalar di situ. Maka, tumbuhlah berbagai gerakan intelektual dan kultural yang tersatukan dalam satu istilah: humanisme.

Ada kecenderungan dalam sejarah agama apapun kekelaman terjadi. Galileo di abad Pertengahan dan al-Hallaj di masa dinasti Abasiyah di atas, hanyalah beberapa bukti dari hal itu. Pada permukaan, kekelaman sejarah tersebut merupakan konflik antara nalar dan iman buta (yang sudah dibakukan, diatur, dan dipaksakan oleh kekuasaan).

Neo-Medievalisme

Apa yang menimpa Galileo dan al-Hallaj terjadi di era Medieval (Pertengahan), di mana pada saat itu dominasi (lembaga) agama sedang mencengkeram sedemikian kuatnya. Apapun ditundukkan pada kekuasaan (lembaga) agama. Ilmu pengetahuan, pemikiran dan seni, tak boleh menyimpang dari dogma resmi gereja atau kerajaan (Abasiyah). Lalu muncullah upaya-upaya intelektual dan kultural untuk melawan dominasi dan koersi yang merupakan hasil persanggamaan agama dan kuasa tersebut.

Humanisme lahir. Kemandirian—lepas dari dominasi apapun, termasuk teks-teks suci yang sudah dibakukan oleh kekuasaan—dalam pencarian “kebenaran” mengemuka. Orientasi intelektual dan kultural yang sebelumnya diarahkan ke Tuhan (teosentrisme) bergeser ke arah manusia (antroposentrisme). Ternyata, hidup yang makin kompleks tak selamanya membutuhkan iman sebagai suluh perjalanan, tapi juga nalar—ilmu pengetahuan.

Sapere aude menjadi menjadi nyala nyali untuk bereksplorasi dalam meraih “kebenaran.” Sekolah, akademi, universitas, makin mendapatkan kemandiriannya. Ilmu pengetahuan menjadi lebih terperinci, terspesifikasi, lepas dari dominasi (lembaga) agama. Sekularisme—yang bagi banyak kalangan diartikan sebagai pemisahan urusan agama dan dunia belaka—tumbuh menjadi tuntutan zaman, atas nama kemajuan. Dan memang, terkadang, tuntutan itu menjadi kebablasan.

Tapi terkait sekularisme tersebut, seandainya mau menyeksamai Imanuel Kant, tak berarti kategori-kategori moral sama sekali tak ada. Hanya saja, kategori-kategori moral tersebut tak lagi didasarkan pada teks-teks suci, tapi nalar. Barangkali, itulah awal mula lahirnya “kode-etik.” Maka di belahan Bumi Barat, banyak kita saksikan orang-orang yang dikenal agnostis atau ateis sekali pun jauh lebih bermoral dari orang-orang yang mengklaim diri mereka religius.

Apa yang terjadi kini, dengan maraknya radikalisme, aksi-aksi intoleran dan terorisme, saya kira, adalah kencenderungan sebagian orang yang ingin kembali ke masa silam, yang dipandang lebih tenteram, lempang, gemilang, dan pastinya lebih suci dari sekarang. Bisa dikatakan, “Apa yang sudah tersurat dalam teks-teks suci, atau apa kata sang Imam, Amir, Khalifah, adalah ‘kebenaran’ yang tak terbantahkan.” Demikianlah tabiat yang merupakan sisa-sisa kegelapan abad Pertengahan bercokol di benak sebagian orang. Di sini, Imam, Amir ataupun Khalifah, adalah “kebenaran-kebenaran” yang mempribadi. Pendangkalan, akhirnya, terjadi di mana-mana. Kekonyolan-kekonyolan telah mengecambah sedemikian parahnya.

Banyak orang mengatakan, bahwa secara global, populisme tengah meraja. Tapi sayangnya, untuk konteks Indonesia, populisme itu cenderung menganan. Ada banyak fakta untuk membuktikan hal itu. Semenjak aksi bela Islam yang berjilid-jilid, kekerasan-kekerasan intoleran yang bersamaan dengan aksi-aksi terorisme beberapa waktu lalu, terbongkar dan terbubarkannya ormas pengusung mimpi khilafah semacam HTI, yang persebarannya tak lagi di seputar kampus, tapi juga sudah melebar ke mana-mana, dan seterusnya. Apa yang sebenarnya menjadi penyebab?

Tentu, ada beragam jawaban untuk pertanyaan itu, banyak faktor yang bisa menjelaskan hal itu. Tapi saya kira, ada satu faktor lagi yang juga ikut membidaninya: hasrat akan rekaman-indah-yang-diangankan

Rekaman-Indah-yang-Diangankan

Radikalisme sebenarnya tak melulu istilah yang mengacu ke sebentuk paham, dalam arti, segugus pemikiran seperti halnya isme-isme lainnya. Sebab, banyak kekonyolan logika di dalam paham-paham yang dikategorikan radikal. Radikalisme, saya kira, hanyalah persoalan hasrat semata yang tak kunjung mendapat pemenuhannya. Barangkali, banyak orang yang masih ingat akan istilah “masturbasi-anti-klimaks” yang dulu sering diungkapkan sebagai pembelaan diri kaum idealis yang ingin mengubah dunia? Baik ekstrim kanan maupun kiri bertemu pada aras eksistensial itu. Tapi tentu, ada juga perbedaannya, variannya.

Apa yang menjiwai kaum radikal (kegamaan) adalah “kembali” ke masa silam, kembali ke “akar,” radix, sebagai jawaban tunggal atas laju kenyataan yang bagi mereka telah keluar dari rel yang seharusnya. Masa silam, “akar” itu, sering diangankan lebih lempang dan gemilang, lebih murni, lebih suci. Apabila ada yang “suci” otomatis ada yang “hina,” bukan? Dan selalu saja, yang dipandang “hina” tersebut sudah sepatutnya dilenyapkan—baik secara simbolik maupun fisik. Logika tanpa alternatif, logika oposisi biner ini sedemikian terpatri dalam jiwa mereka, menjadi satu-satunya perspektif, cara pandang. Takfiri, pada akhirnya, menjadi sikap untuk melawan kenyataan.

“Akar,” masa silam itu, karena berbentuk rekaman, dianggap tanpa varian. Memandang masa silam adalah seperti memandang dari ketinggian: banyak detail yang hilang. Segalanya menjadi tampak sederhana, terbalut lupa.

Orang yang sudah sedemikian gandrungnya akan masa silam, akan rekaman-indah-yang-diangankan itu, secara eksistensial, telah lupa bagaimana al-Qur’an dan pengetahuan-pengetahuan keislaman terkodifikasikan pada masa khalifah Usman. Artinya, tak semua warisan masa silam terbentuk secara damai, ujug-ujug, dan juga diterima secara apa adanya. Senantiasa ada proses, ada renik peristiwa yang tak selamanya manis.

Memperluas Habitat Kaum Terdidik

Ada beragam upaya, tentu saja, untuk menandingi populisme kanan tersebut. Salah satunya, saya kira, memperluas habitat orang terdidik. Bicara orang terdidik adalah bicara tentang institusi pendidikan, kampus.

Dalam tradisi ilmiah, kritisisme menjadi sikap yang mutlak diperlukan. Bukankah pendiri akademi pertama di dunia ini adalah Plato, seorang filosof Yunani? Dan bukankah filsafat, yang notabene disebut-sebut sebagai the mother of sciences, lahir karena kritiknya terhadap mitos—warisan-warisan “kebenaran” yang diterima secara apa adanya?

Artinya, kritisisme tersebut adalah watak yang sudah seharusnya melekat pada orang kampus. Kritisisme tersebut bisa berbentuk macam-macam: observasi, verifikasi, falsifikasi, dekonstruksi, dan seterusnya. Pendeknya, sudah menjadi tabiat orang kampus untuk tak menerima “kebenaran” secara apa adanya. Ada kriteria-kriteria tertentu untuk menentukan dan menerima sesuatu sebagai “kebenaran.”

Apa yang terjadi kini, dominasi populisme kanan itu, salah satunya, adalah juga wujud abainya kaum terdidik terhadap khalayak non-kampus, yang karena faktor kekurangtahuan akhirnya tak bisa bersikap kritis terhadap segala sesuatu.

Ada banyak pengakuan, misalnya, banyak orang yang ikut pengajian keagamaan, tak tahu kalau paham yang disebarkan para da’i-nya ternyata menghasratkan tegaknya khilafah islamiyah, yang sudah tentu anti-Pancasila. Banyak orang yang masih belum paham bahwa paham-paham keislaman ada banyak coraknya, ada yang moderat dan ada yang ekstrim.

Lantas, bagaimana menyikapi oknum kampus seandainya ikut terlibat dalam gerakan-gerakan Islam radikal? Damik saja orang itu bukan orang ilmiah, orang kampus, yang tak gampang menerima sesuatu tanpa reserve. Atau sebut saja orang itu telah lalai habitatnya.

Singkat kata, banyak tradisi ilmiah dan kriteria-kritarianya yang bisa dibudayakan untuk mengikis habis radikalisme. Tinggal bagaimana sekarang tradisi ilmiah ini dibudayakan, ditularkan ke luar kampus.

Facebook Comments