Setiap memasuki bulan Desember, ruang publik Indonesia selalu diselimuti perdebatan klasik tak berujung: bolehkah umat Muslim ikut membantu mensukseskan perayaan Natal? Perdebatan itu kembali muncul tahun ini, terutama ketika ada kelompok yang dengan serta-merta menuduh bahwa membantu saudara sebangsa dalam merayakan Natal adalah bentuk toleransi yang kebablasan, bahkan dianggap sebagai penyimpangan akidah. Padahal, jika kita telisik lebih dalam, yang sebenarnya kebablasan bukanlah toleransinya, melainkan cara sebagian orang memandang hubungan antarumat ...
Read more 0 natal
natal
Belakangan ini, ruang publik kita kembali diramaikan oleh perdebatan sensitif terkait relasi agama dan negara. Wacana bahwa Kementerian Agama akan menggelar perayaan Natal bersama bagi pegawainya memicu tuduhan sinkretisme, penyamaan agama, bahkan dianggap sebagai tindakan yang menggadaikan akidah. Fenomena ini mengisyaratkan bahwa sebagian masyarakat muslim kita masih terjebak dalam cara pandang “hitam-putih” dalam beragama. Padahal, realitas keindonesiaan berdiri di atas pluralitas agama, budaya, dan suku yang tidak mungkin diseragamkan. Itulah ...
Read more 0 Diskursus publik kita belakangan ini diuji oleh sebuah polemik yang sebetulnya tidak perlu diperdebatkan. Rencana Kementerian Agama (Kemenag) untuk mengadakan rangkaian perayaan Natal 2025 memicu reaksi keras dari segelintir pihak. Narasi-narasi menakutkan seperti “sinkretisme”, dan “pengadaian akidah”, dilontarkan ke ruang publik, menciptakan ketegangan yang tidak produktif. Reaksi reaktif ini menunjukkan adanya kesalahpahaman mendasar tentang fungsi negara dalam masyarakat majemuk. Ini bukan tentang seorang Muslim yang dipaksa mengikuti sakramen teologis, melainkan ...
Read more 0 Penolakan kegiatan Natal Bersama Kementerian Agama menandakan bahwa sebagian umat beragama terutama Islam masih terjebak pada nalar dikotomistik. Nalar dikotomistik beragama dapat diidentifikasi dasi setidaknya tiga hal. Pertama, disparitas yang tajam atau mutlak. Dalam artian melihat segala sesuatu yang berbeda dengan pendekatan konfliktual. Maka, segala yang berbeda akan dianggap bermusuhan. Kedua, pola pikir hitam putih yang menjurus labelisasi juga penghakiman. Nalar pikir hitam putih ini melihat segala sesuatu dengan perspektif ...
Read more 0 Dalam spiritualitas Islam terdapat tiga kutub yang diyakini mewakili tiga bentuk pendekatan ketuhanan yang kemudian berkonsekuensi terhadap sikap keberagamaan. Tiga kutub itu adalah Syekh Abdul Qadir al-Jilani (yang mewakili pendekatan ibadah), Jalaluddin Rumi (yang mewakili pendekatan perasaan), dan Muhyiddin Ibn ‘Arabi (yang mewakili pendekatan pengetahuan). Saya tak hendak menyingkap dua dari yang pertama karena memang dalam kejawen atau spiritualitas yang berbasiskan budaya Jawa tak cukup memiliki pengaruh atau tak cukup ...
Read more 0 Setiap menjelang peringatan Natal, ruang publik digital kita riuh oleh perdebatan tentang boleh tidaknya umat Islam mengucapkan selamat Natal pada umat Kristen. Tahun ini, debat itu kian riuh oleh rencana Kemenag mengadakan perayaan Natal Bersama. Natal bersama dianggap sebagai bentuk sinkretisme yang membaurkan ajaran agama-agama. Natal bersama dianggap sebagai upaya mendangkalkan akidah umat Islam. Benarkah demikian? Satu hal yang wajib kita pahami terlebih dahulu adalah bahwa Natal bersama salah rangkaian ...
Read more 0 Di tengah pluralitas agama yang menjadi ciri khas Indonesia, gagasan “agama cinta” sering terdengar sebagai semboyan yang indah namun sulit diwujudkan. Padahal, jika dipahami dengan tepat, agama cinta bukan konsep abstrak yang hanya cocok dipidatokan, melainkan sebuah cara hidup yang berakar pada nilai paling mendasar dalam ajaran Islam yang relevan. Karena itu, ketika kabar mengenai rencana Kementerian Agama menggelar perayaan Natal bersama bagi para pegawai beragama Kristen muncul dan dibalas ...
Read more 0 Belakangan ini, lini masa media sosial ramai dengan perbincangan terkait keputusan Kementerian Agama untuk menggelar perayaan Natal bersama bagi pegawainya. Sebagian pihak menyambutnya dengan kecurigaan yang besar, bahkan mengaitkannya dengan tuduhan-tuduhan berat, seperti sinkretisme, penyamaan agama, dan ancaman terhadap akidah umat Islam. Sebuah wacana yang sejatinya mengundang perdebatan serius tentang arti dan kedudukan toleransi dalam kehidupan beragama di Indonesia, negara yang sejak awal kemerdekaan telah memilih Pancasila sebagai dasar negara ...
Read more 0 Agenda Natal Bersama Kementerian Agama 2025 menuai polemik di tengah masyarakat. Agenda itu dianggap sebagai sinkretisme agama bahkan penggadaian akidah oleh sebagian kalangan. Agenda Natal Bersama juga dianggap sebagai kampanye terselubung paham pluralisme agama. Mudah ditebak, tudingan itu muncul dari kelompok konservatif. Kaum yang menganggap pluralisme agama sebagai ancaman. Pertanyaannya, mengapa mereka begitu curiga dengan pluralisme? Salah satu faktor utamanya adalah mereka gagal paham terhadap definisi pluralisme itu sendiri. Kaum ...
Read more 0 Di era modern ini, kita sering terjebak dalam sebuah kerancuan berpikir yang cukup fatal mengenai toleransi. Atas nama perdamaian, sering kali kita tergoda untuk berkata, “Semua sama saja.” Kalimat ini terdengar manis di telinga, seolah menjadi obat paling ampuh untuk meredam konflik antar-identitas, baik itu agama, budaya, maupun ideologi. Namun, jika kita telelisik lebih dalam dengan kejernihan akal dan kejujuran hati, pandangan yang memaksakan penyatuan segala hal, atau yang kita ...
Read more 0
