Agama dan Batu Akik

Agama dan Batu Akik

- in Peradaban
5180
0

Kemegahan batu akik kini berangsur meredup, deretan orang-orang yang biasanya berjejal di stand-stand penjual dan pengrajin batu akik pun mulai surut. Pada kondisi ini, demam batu akik sepertinya telah mulai membuat beberapa penjual akik ‘demam’ beneran. Impian tentang raupan keuntungan dari bisnis batu akik mulai berubah menjadi himpitan hutang yang kian mencekik; keyakinan memang tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Batu akik yang beberapa waktu lalu masih menjadi bahan kebanggan, kini mulai perlahan disembunyikan di kantong belakang.

Beberapa orang memang masih mengenakan batu akik, entah dengan menjejalkannya pada jari, atau menggantungnya di leher dengan rantai besi. Sementara yang lain bahkan mulai lupa kapan terakhir mereka melihatnya. Sebagai benda mati, batu akik tentu tidak melakukan kesalahan hingga akhirnya perlahan ia mulai dicampakkan. Batu akik mungkin hanya kebetulan terperosok dalam lingkaran tabiat sebagian besar manusia yang sangat mudah bosan; untuk sementara waktu mereka memuja, namun tidak lama kemudian mereka melupakannya begitu saja.

Ditengah anjloknya kemegahan batu akik, agama sepertinya tengah mengalami nasib yang bisa dikatakan tidak lebih baik. Entah murni karena bosan, atau jengah melihat berbagai aksi kekerasan yang dilakukan atas nama agama, tidak sedikit orang yang akhirnya –entah mengakuinya atau tidak—meninggalkan agama dan tidak lagi percaya pada janji-janji surga.

Laiknya batu akik, agama terlalu kerap ditampilkan sebagai sesuatu yang malas memberikan hal baru; hanya berputar-putar pada kisah heroik di masa lalu dan harapan-harapan semu. Orang-orang yang merasa mengerti agama malah tidak jarang berlaku aniaya, terlalu malas untuk berfikir karena yang mereka tahu hanyalah obral label kafir.

Atas nama agama pula, muncul berbagai jenis berandalan yang terang-terangan menebar kebencian dan kehancuran. Bagi mereka, agama hanyalah alat untuk menyengsarakan kelompok lain yang tidak sepaham dengannya. Perbedaan pendapat dimaknai sebagai pelecehan, atau bahkan tantangan perang. Mereka mengklaim sedang melakukan jihad, meski kita semua tahu mereka sangat jahat. Tidak sedikit dari mereka yang marasa menyelamatkan manusia dari ancaman siksa api neraka, namun sepertinya mereka lupa, berbuat aniaya sama saja dengan menolak surga.

Mengaku memperjuangkan agama, tetapi tidak segan menghabisi sesama, merasa sok dekat dengan tuhan, tetapi menebar perilaku yang menjijikkan.

Fakta di atas tentu sudah cukup bagi sebagai orang untuk akhirnya say good bye pada agama; di tengah ramainya janji-janji surga yang menyesaki kepala para penggila agama, ada banyak ketidakdilan dan kekejian yang justru dilakukan oleh kelompok-kelompok yang merasa paling dekat dengan tuhan. Sungguh ironi.

Banyaknya orang-orang yang merasa menjadi wakil tuhan dan kemudian menampilkan wajah agama secara serampangan adalah sebab utama kenapa mulai banyak orang tidak lagi percaya pada agama, ini bukan tentang surga atau neraka, lebih dari itu, agama adalah tentang tuntunan untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Urusan surga dan neraka, serahkan saja pada tuhan sang pemilik resminya.

Mari kita kembali pada pembahasan tentang agama dan kekerasan, apakah benar agama mengajarkan kekerasan? Apa mungkin tuhan yang maha baik itu menghadiahi surga kepada para begundal yang keranjingan menyiksa sesamanya? Jikapun agama tidak pernah mengajarkan kekerasan, lalu kemana agama selama ini, kenapa ia tidak berbuat sesuatu untuk mengakhiri penderitaan manusia? Kenapa? Kenapa?

Bagi saya, perdamaian tergantung pada manusianya, bukan agama. Agama adalah ibarat rambu-rambu petunjuk dan peringatan saja, ia yang menunjukkan arah, tetapi ia tidak menggendong kita hingga sampai tempat tujuan. Dulu saya pernah ditanya, kenapa semua kendaraan berhenti saat lampu merah? “ya karena peraturannya begitu, lampu merah berarti berhenti,” jawab saya.

Benar jawaban saya? Salah! Kendaraan itu berhenti simply karena direm! Siapa yang ngerem? Manusia, bukan lampu merah. Artinya, kita bisa saja terus menerabas lampu merah, tetapi resiko ditanggung sendiri. Mungkin begitu pula posisi agama, untuk saat ini ia hanya berfungsi sebagai pemberi petunjuk sekaligus peringatan. Agama misalnya, melarang manusia untuk berbuat keji, tetapi jika manusianya masih ngeyel ya resiko ditanggung sendiri. Lagipula, tuhan sudah melengkapi tubuh kita dengan otak dan hati, agar kita tidak cepat rusak dan mati.

Bagi mereka yang teliti dan kritis dalam beragama, mereka akan segera paham bahwa kelompok takfiri dan ekstrimis yang kerap membawa-bawa nama agama itu hanyalah sekelompok berandalan alay yang mencoba cari muka. Karenanya, alih-alih meninggalkan agama dan misuh-misuh pada tradisi dan budaya, mereka akan bersama-sama membersihkan agama dari kuman-kuman penyebab kerusakan.

Akhirnya, agama memang tidak bernasib sama dengan batu akik…

Facebook Comments