Bertauhid bukan Berarti Intoleransi

Bertauhid bukan Berarti Intoleransi

- in Keagamaan
348
0

Dalam teologi Islam, tauhid menjadi sebuah pembahasan yang paling penting karena dengan tauhidlah seseorang yang beriman dapat dikatakan sebagai mukmin yang benar. Ia adalah unsur pokok  dalam beragama (ushuluddin). Tanpa itu seseorang tidak mungkin dikategorikan sebagai orang yang beriman dengan iman yang sebenar-benarnya.

Para teolog Islam berbeda pendapat dalam membagi tauhid, ada yang membagi kapada dua bagian penting, ada juga yang membagi kepada tiga pembagian. Namun yang paling penting kita ketahui di sini adalah pembagian tauhid yang dibagi oleh para teolog ke dalam dua bagian karena yang lain mungkin agak berat dipahami oleh kaum awam. Kedua pembagian tersebut  yaitu, Tauhid Uluhiya dan Tauhid Rububiyah.

Pertama, Tauhid Uluhiya yaitu menyatukan seluruh perbuatan seseorang hanya kepada Allah semata-mata. Hal ini seperti jika seseorang meminta tolong atau berdoa atau meminta perlindungan maka hanya kepada Allah sajalah meminta tolong atau meminta perlindungan dan berserah diri kepada Allah bukan kepada yang lain. Jika seseorang mendapatkan musibah atau sedang menghadapi masalah kemudian pergi ke tempat lain meminta pertolongan, maka hal demikian itu belum dapat dikatakan bertauhid secara uluhiya. Namun dalam beberapa kasus seseorang seringkali datang ke seorang sufi atau ulama yang diyakini sebagai seorang yang saleh dan dekat kepada Allah karena akhlaq dan ibadahnya untuk meminta didoakan atau meminta agar orang itu mendoakannya, hal yang demikian dibolehkan dalam Islam selama tidak meyakini bahwa orang itulah yang memberikan penyelesaian atau mengabulkan doanya. Persoalan seperti ini disebutkan dalam pembahasan teologi Islam sebagai tawassul yang dimungkinkan untuk dilakukan oleh setiap orang dengan ketentuan-ketentuan tertentu.

Kedua, Tauhid Rububiyah, tauhid ini berarti meyakini bahwa hanya Allah-lah yang mengatur segala-galanya dan dialah yang menguasai segala sesuatu serta dialah yang menciptakan semua apa yang ada di muka bumi dan apa yang ada di langit. Seseorang harus meyakini bahwa apapun yang menimpanya dan apapun yang terjadi pada dirinya dan di sekitarnya semuanya dari Allah dan merupakan ketentuan Allah bukan yang lain. Dalam beberapa kasus juga seseorang seringkali menilai setiap kejadian yang ada di sekitarnya sebagai kejadian alam yang normal atau gejala bumi yang mengharuskan demikian. Namun perlu ditekankan bahwa apapun yang terjadi dan yang akan terjadi di muka bumi ini dan di atas langit pada intinya sudah diketahui Allah dan hanya Allah yang menciptakan gejala itu sehingga hal tersebut bisa terjadi.

Pembagian tauhid di atas dan pemahamannya menunjukkan bahwa makna inti dari Tauhid itu sendiri adalah keimanan terhadap Allah yang sesungguhnya baik yang terkait pada diri kita sendiri bahwa segala sesuatu yang dihadapi harus diyakini bahwa hanya kepada Allah-lah kita meminta dan kepada dialah kita berserah diri.  Pada waktu yang sama meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita dan apa yang terjadi di sekitar kita semuanya bersumber dari Allah semata.

Seseorang yang telah memahami arti dan makna dari tauhid ini dan melakoninya maka sesungguhnya ia telah menuju kesempurnaan yang hakiki. Karena menanamkan keyakinan seperti itu dalam diri setiap orang sangatlah berat dan tidak mudah. Bahkan seseorang sering kali lupa diri bahwa apa yang telah dicapai atau telah diraih adalah bukti dari karya sendiri dan begitu pula sebaliknya apa yang mereka rasakan dan diderita adalah hasil dari perilakunya sendiri. Padahal jika seseorang mengimani dengan sesungguhnya maka ia tidak akan terjerumus ke dalam pemahaman yang keliru sehingga tidak akan menyesalkan dirinya jika ia gagal dan tidak akan angkuh jika ia berhasil karena pada intinya semuanya  adalah berkat dan kuasa dari Allah semata.

Keyakinan seperti ini sudah barang tentu secara tidak langsung akan menggeser seseorang menjadi sadar bahwa hidup hanya karena Allah dan apa yang terjadi di sekitarnya semuanya dari Allah. Tidak perlu memaksakan kehendak dengan asumsi melaksanakan atau menjalankan Tauhid, apalagi bersorak-sorak dan berteriak dengan yel-yel tauhid dan simbol-simbol ketuhanan lainnya.

Keragaman yang ada di tengah-tengah kita tidak perlu menjadi penyanggah untuk bertauhid yang sebenarnya kepada Allah, bahkan sebaliknhya keragaman yang ada justru mendorong kita untuk semakin kuat memahamai makna-makna tauhid dan kuasa Tuhan yang tiada tertandingi. Seseorang sejatinya memahami bahwa perbedaan adalah sebuah karunia dan mensyukuri. Jika ia berada pada posisi yang benar bukan sebaliknya menghakimi atau menyiksa atau membunuh.

Jika ada yang berbeda dengan kita karena prilaku seperti ini justru menjauhkan kita dari makna tauhid yang sebenarnya bahkan bisa saja menjermuskan kita ke dalam pahaman yang sempit tentang keagungan Tuhan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Alquran yang artinya bahwa “ Seandainya Tuhanmu  menginginkan kamu menjadi umat yang satu maka ia dapat melakukan hal tersebut akan tetapi ia  menjadikan kamu berbeda beda….. wallahu a’lam.

Facebook Comments