Budaya Kritis: Menangkal Intoleransi di Sekolah

Budaya Kritis: Menangkal Intoleransi di Sekolah

- in Suara Kita
1085
0
Budaya Kritis: Menangkal Intoleransi di Sekolah

Baru-baru ini viral sebuah postingan disertai beberapa tangkapan layar oleh Donny Dhirgantoro di Twitter tentang dugaan intoleransi dan pemakaian sentimen agama dalam pemilihan calon ketua OSIS di SMAN 6 Depok, Jawa Barat.

Hello guys aku minta tolong banget , di sma ku.. SMA NEGERI ada “calon” ketua osis yang bernama E…. yang memenangkan pemilihan ketua osis ( kinerjanya bagus,banyak orang yang mendukungnya termasuk guru2) , namun ada beberapa oknum dari sekolah yang tidak terima sampai mengadakan voting ulang hanya karena dia non-muslim. aku minta tolong untuk kalian semua agar dishare kasus ini, sehingga E… mendapatkan keadilan dan kesempatan untuk memimpin sekolahnya.. mohon bantuannya agar di up kesocial media guys,”  (Kompas, 12/11/2020)

Tentu saja, praktik ini menjadi tamparan keras terhadap upaya-upaya menegakkan harmoni kebinnekaan. Menjadi alarm peringatan bahwa pembangunan toleransi beragama di Indonesia masih belum benar-benar usai. Masih harus terus digalakkan. Pertanyaannya, mengapa praktik-praktik intoleransi masih saja terjadi di sekolah?

Matraji (2017) mengungkapkan bahwa setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi kenapa mereka memiliki sikap seperti itu. Pertama, kurang adanya pendidikan toleransi di sekolah. Kedua, pendidikan keagamaan yang dilaksanakan saat ini lebih cenderung kepada doktrin dan simbol, kurang mengakomodasi substansi agama itu sendiri dalam perspektif yang universal. Dengan kata lain, pendidikan agama yang dilakukan di sekolah-sekolah saat ini masih gagal.

Lebih lanjut, Brenda Watson dalam Education and Belief (1987) pernah mengatakan ada tiga sebab utama yang menjadikan gagalnya pembelajaran agama di sekolah-sekolah. Pertama, proses pendidikan yang diajarkan guru lebih mengarah kepada proses indoktrinasi sehingga pembelajaran agama diposisikan sebagai sesuatu yang bersifat absolut dan tak terbantahkan. Kedua, lebih menekankan pada pembelajaran agama yang bersifat normatif-informatif. Ketiga, kuatnya ideologi atau komitmen agama yang dianut oleh sang guru.

Menumbuhkan Budaya Kritis

Jelas bahwa praktik intoleransi umat beragama lahir dari cara beragama yang mengedepankan doktrin yang tidak disertai kemampuan bernalar yang baik. Padahal, pendidikan sejatinya merupakan sarana membangun kemampuan bernalar yang baik bagi para siswa. Sebab, tanpa kemampuan bernalar yang baik, siswa tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, mengedepankan toleransi dan mampu menjawab tantangan zaman.

Sejarah mencatat, peradaban umat manusia ikut dibangun oleh kemampuan berpikir kritis. Misalnya saja, andai Edison tidak berpikir kritis untuk memperbaiki penemuan lampu bohlam dari 22 ilmuwan sebelumnya, mungkin sampai detik ini dunia masih gelap gulita. Atau, jika saja Founding Fathers NKRI tidak berpikir kritis untuk mencapai kemerdekaan, mungkin hingga sekarang bangsa kita masih terjajah (Hendrawan, 2019).

Sementara itu, di era post-truth dimana setiap orang akrab dengan teknologi informasi dan komuniasi seperti sekarang, berpikir kritis penting untuk membantu kita dalam mengelola setiap informasi dengan baik. Tujuannya, agar kita tidak mudah dibohongi oleh informasi-informasi palsu (hoax) yang dapat menyebabkan kemunduran peradaban yang telah dibangun selama ini. Dampak informasi hoaks bersifat multidimensional yang berimplikasi pada berbagai lini kehidupan (Hendrawan, 2019).

Dalam konteks beragama, budaya kritis penting agar tidak terjadi disinformasi dan pembelokan tafsir dari sumber-sumber keagamaan. Al-Qur’an dan Hadits jelas kebenarannya, namun kemampuan memahami al-Qur’an tiap orang berbeda-beda. Artinya, potensi penyalahgunaan makna ayat sungguh demikian besar. Maka itu, perlu budaya kritis agar tidak terjadi pembelokan makna-makna yang terkandung dalam suatu ayat.

Sebab, jika hal tersebut terjadi, al-Qur’an yang semula penuh dengan ajaran-ajaran kedamaian dan toleransi, justru akan diputarbalikkan. Memang, al-Qur’an itu menunjukkan sikap tegas terhadap siapa pun yang berkhianat dan kaum kafir yang memerangi muslim, tapi lebih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukkan betapa Islam mengajarkan sikap lemah lembut dan cinta kedamaian. Lagipula, teladan yang diberikan Nabi Muhammad SAW juga mengedepankan perilaku santun. Dan, sungguh Rasulullah juga diutus untuk menyempurnakan akhlak.

Itulah sebab, budaya berpikir kritis harus ditumbuhkan di ruang-ruang kelas di sekolah dan dibantu oleh keluarga serta lingkungan masyarkat. Mereka perlu bekerja sama untuk memfasilitasi anak-anak agar tercipta suasana pembelajaran yang membangun daya kritis. Terutama guru dan orang tua. Sebab, guru dan orangtua adalah orang yang bertanggungjawab atas tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh siswa. Hanya saja, guru memegang peran dominan dalam membentuk karakter siswa karena sekolah adalah miniatur masyarakat dimana siswa belajar pertama kali. Dan, guru adalah teladan sekaligus rujukan dalam setiap pengetahuan yang dicerna siswa. Termasuk pemahaman keagamaan. Maka, peran sentral guru sebagai garda depan mendidik karakter siswa jangan sampai diabaikan.

Jika hal tersebut dilakukan, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang toleran dan inklusif dalam memaknai perihal perbedaan yang ada di antara umat beragama. Sehingga, ke depan, tidak ada praktik intoleransi dengan basis agama dan identitas kemanusiaan. Wallahu a’lam.

Facebook Comments