Jejak Toleransi Rasulullah dalam Keberagaman

Jejak Toleransi Rasulullah dalam Keberagaman

- in Suara Kita
435
0

Keteladanan dan sikap toleransi Nabi Muhammad saw dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan seluruh pemeluk agama lain harus kita contoh. Karena hanya kedamaian dalam perbedaanlah yang bisa mengantarkan kita semua menjadi bangsa berperadaban.

Banyak contoh keteladanan Nabi dalam bertoleransi dengan pemeluk agama lain. Sebutlah paman beliau, yang bernama Abu Thalib, meskipun non Islam, paman Nabi tersebut sangat gigih membela dan melindungi Nabi dalam berdakwah. Sehingga ketika pamannya meninggal, Nabi mengalami kesedihan yang luar biasa (‘amul huzni).

Contoh selanjutnya ketika Nabi dakwah di Thaif mengalami penolakan yang luar biasa, Nabi mengungsi dengan terluka sampai giginya berdarah. Hingga beliau ditolong dan dikasih minum oleh budak yang beragama Nasrani yaitu ‘Addas. Bahkan dalam dialognya dengan Nabi, ‘Addas mengatakan kepada Nabi, ketika kondisi sudah seperti ini, tidak ada pilihan lain, kecuali memohon dan berdoa kepada Tuhan (saqwa).

Dari Tha’if Nabi ingin kembali ke Makkah, tetapi kondisi di Makkah belum bisa dipastikan aman. Makanya beliau memberikan kabar dan meminta suaka (jaminan keamanan) kepada Muth’im bin ‘Adiy, pemimpin klan Naufal, yang beragama non Islam dan terkenal berwibawa serta baik hati. Dengan penuh keikhlasan, Muth’im menjaga dan mengawal Nabi masuk Makkah dengan selamat dan aman.

Sebagai contoh toleransi Nabi antara lain, suatu ketika rombongan 60 orang Nasrani kota Najran tiba di Madinah al-Munawarah. Rasulullah kebetulan sedang ada di rumah. Pada saat ashar, mereka masuk ke Masjid Nabawi. Mereka menunaikan sembahyang di dalam masjid. Spontan banyak orang yang ingin mencegah mereka. Tetapi dengan sigap, rasulullah bersabda “biarkanlah mereka menghadap ke arah timur untuk menunaikan sembahyangnya”. Betapa indah sikap rasulullah terhadap keyakinan orang lain, beliau tetap menghormatinya.

Pada saat itu ketika rombongan jenazah yahudi melewatinya, Nabi berdiri (sebagai penghormatan). Sahabat protes “wahai rasulullah tapi dia itu orang yahudi? Rasulullah menjawab “bukankah dia manusia?” Bahkan di lain kesempatan ketika Rasulullah ditanya tentang memberi bantuan materi kepada non Muslim, “Apakah kami boleh memberi bantuan kepada orang-orang Yahudi?” Tanya sahabat kepada Rasulullah saw. “Boleh, sebab mereka juga makhluk Allah, dan Allah akan menerima sedekah kita”, jawab Rasulullah saw sambil bangga atas inisiatif sahabatnya.

Will Durant seorang ahli sejarah dan seorang filosof asal Amerika punya ungkapan tersendiri yang menjadi salah satu dari pandangan dunia terhadap Rasulullah dan Islam. Dikatakannya bahwa Muhammad adalah orang yang paling agung jika melihat sepanjang sejarah karena begitu besar pengaruhnya terhadap manusia dan dari situlah keagungan Nabi Muhammad saw.

Jelas, Nabi bisa melakukan hubungan kerjasama yang baik dan harmonis dengan pemeluk agama lain karena semua didasari spirit perbedaan sebagai rahmat. Beliau melihat bahwa dengan perbedaan agama, tidak menjadikan manusia terkotak-kotak atau bahkan bermusuhan, tidak seperti itu. Malah beliau membangun komunikasi yang baik, sehingga tercipta hubungan yang harmonis.

Nah, dalam konteks Indonesia kita memiliki Pancasila sebagai dasar negara. Kita hidup di Indonesia di mana kebebasan beragama menjadi hak asasi yang paling fundamental dan dijunjung tinggi. Makanya, Nurcholish Madjid menegaskan bahwa pluralisme agama menjadi kehendak ilahi yang harus disyukuri dengan menjunjung tinggi semangat saling menghormati dan menghargai antar pemeluk agama.

Kita harus terus menjalankan spirit keilahian (ketuhanan), bahwa kita sebagai khalifah Allah di bumi, harus meneruskan keteladanan Nabi Muhammad saw untuk mengelola bumi dan kemanusiaan universal. Makanya Yudi Latif, dalam buku Negara Paripurna mengatakan bahwa, sila ketuhanan dalam Pancasila mengajak bangsa Indonesia untuk mengembangkan etika sosial dalam kehidupan publik-politik, dengan terus memupuk rasa kemanusiaan dan persatuan, mengembangkan hikmah permusyawaratan dan keadilan sosial.

Sebagai bangsa yang besar, kita juga harus meniru para tokoh bangsa kita terdahulu. Dari pikiran beliaulah negera bangsa ini bisa terbentuk. Coba tirulah, dalam diri Soekarno terpancar personifikasi dari ide persatuan dan gotong-royong. Pada sosok Mohammad Hatta, terjelma personifikasi cita-cita kedaulatan rakyat dan egalitarianisme. Pada diri Tan Malaka, tampak sosok ideal Indonesia yang bebas. Pada diri Syahrir, terjelma cita-cita Indonesia yang humanis. Pada diri Natsir, terpancar ideal sosok Indonesia yang religius.

Semoga kita semua bisa meneladani sikap toleransi Nabi Muhammad saw dalam keberagaman. Serta kita bisa meneladani figur kerakyatan dari tokoh pendahulu bangsa kita, amin. Wallahu a’lam

Facebook Comments