Karakter Pejuang [Tak] Harus Diwujudkan dengan Tindakan Anarkis

Karakter Pejuang [Tak] Harus Diwujudkan dengan Tindakan Anarkis

- in Suara Kita
1249
0

Andai segenap bangsa ini tidak memiliki karakter pejuang, maka hingga hari ini Indonesia masih dalam masa kolonial yang menyedihkan. Hal ini bukan bualan belaka, melainkan sejarah yang membuktikan. Kita ketahui bersama bahwa kemerdekaan Indonesia bukan pemberian secara Cuma-Cuma, melainkan diraih dengan perjuangan yang mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa.

Kini, semangat perjuangan itu harus terus digelorakan, terutama dalam konteks menjaga persatuan dan kesatuan republik ini dalam bingkai NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. Inilah amanat kemerdekaan yang harus dipikul dan menjadi tanggung jawab semua bangsa Indonesia tanpa terkecuali.

Adalah sebuah fakta yang kasat mata bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki berbagai macam karakter, ras, agama, golongan dan etnik yang berbeda. Namun, keragaman tersebut seringkali memunculkan konflik horizontal yang mencekam sehingga mengancam intregrasi bangsa. Oleh sebab itu, diperlukan upaya-upaya agar perbedaan ini menjadi sebuah rahmat dan harmoni. Dan semua itu memerlukan adanya karakter pejuang.

Karakter pejuang adalah memperbaiki, tidak merusak, menyatukan bukan memecah-belah dan merangkul bukan memukul. Inilah yang harus dilestarikan oleh generasi saat ini. Bukan mengklaim sebagai pejuang; aspirasirasi rakyat dan sejenisnya, namun dilampiaskan dengan aksi-aksi anarkis. Yang demikian itu bukanlah pejuang, melainkan ‘pecundang’.

Menjadi pejuang bukanlah harus menunggu kita menjadi tokoh, punya pengikut dan lain sebagainya. Setiap dari kita bisa menjadi pejuang. Misalnya, tidak menyebarkan hoax, memfitnah dan saling mencaci-maki antar sesama. Tidak mendukung atau bahkan ikut gerakan radikal yang merusak persatuan dan kesatuan. Semua ini bisa dilakukan oleh individu.

Beberapa Karakter

Berkaca pada sejarah Indonesia, maka dalam rangka menjadi pejuang bagi bangsa Indonesia, khususnya menjaga persatuan dan kesatuan republil ini, maka ada beberapa karakter yang harus ada dan diterapkan oleh segenap bangsa ini.

Pertama, peduli terhadap sesama saudara se-Tanah Air. Kepedulian menjadi kunci menjaga persatuan dan kesatuan. Karena dengan sikap ini, akan melahirkan harmoni dan persaudaraan yang sulit digoyah hanya persoalan isu perbedaan etnis dan lain sebagainya. Para pejuang kemerdekaan Indonesia tidak ada yang hidup untuk mementingkan diri dan keluarganya. Orientasi hidup mereka untuk kepentingan bersama.

Melihat rakyat kelaparan, dipekerjakan dan diperlakukan secara tidak manusiawi membuat nurani para pejuang tergerak untuk rela berkorban demi kebahagiaan saudara se-Tanah Air. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi segenap bangsa ini untuk tidak peduli terhadap sesama, terutama di era pandemi saat ini. Bantulah saudara kita yang kurang beruntung atau yang membutuhkan, tentu saja sesuai dengan kadar atau kemampuan kita masing-masing.

Kedua, memiliki toleransi yang tinggi. Memang, umat Islam memiliki kontribusi yang luar biasa terhadap kemerdekaan bangsa ini. Meskipun demikian, kita tidak boleh menafikan fakta bahwa kemerdekaan bangsa ini bukan karena satu golongan, melainkan ada berbagai golongan lain yang turut kontribusi.

Bangsa Indonesia lahir dari rahim persatuan dan kesatuan seluruh elemen. Maka, mengucilkan atau mendiskreditkan kelompok lain, meskipun kecil atau monoritas, sesungguhnya mengkhianati perjuangan para pendiri bangsa ini. Oleh sebab itu, toleransi menjadi sikap yang harus, bahkan terus dijunjung tinggi. Dan dengan sikap toleransi antar sesama, adil dan saling peduli, Indonesia akan menjadi bangsa yang besar, tidak mudah diadu domba dan dipecah-belah.

Ketiga, mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, maka Pancasila sebagai konsensus para pendiri bangsa tidak bisa diabaikan. Pancasila adalah amanat dari para pejuang bangsa untuk generasi setelahnya.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa menjadi pejuang di era saat ini adalah dengan cara mengamalkan butir-butir Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, juga menjaga Pancasila dari serangan ideologi lain. Sudah bukan rahasia lagi bahwa sampai hari ini kelompok yang hendak menggati Pancasila sebagai dasar dengan dengan ideologi atau dasar yang lain masih bercokol di mana-mana.

Berjuang meng-counter narasi dan gerakan-gerakan dari kelompok yang hendak mengganti Pancasila sebagai dasar negara merupakan perjuangan atau jihad pada saat ini. Untuk itu diperlukan karakter-karakter pejuang sebagai mana diuraikan di atas agar langkah kita benar-benar optimal dan memiliki dampak yang luar biasa untuk kemajuan bangsa.

Sejarah, selain sebagai cara untuk menguatkan karakter bangsa, juga menyadarkan kepada kita semua arti perjuangan yang sesungguhnya. Bahwa perjuangan kita belum-lah berakhir. Selama ketidak-adilan, provokasi, intoleransi, individualisme dan radikalisme masih terjadi di bumi pertiwi, selama itu pula kita harus terus berjuang.

Berjuang Membasmi Kelompok Anarkis

Benar bahwa provokasi merupakan penyakit sosial yang acapkali diproduksi oleh pihak-pihak yang hendak meraih keuntungan dengan cara keji. Kehadiran media sosial menambah runyam, karena narasi provokasi bisa dengan mudah menyebar ke tengah-tengah masyarakat. Provokasi ini seringkali diarahkan untuk menciptakan sebuah kekacauan yang berawal dari tindakan anarkis.

Dalam rangka membasmi provokasi yang mengarah pada tindakan anarkis, yang merebak di media sosial, maka ada cara ampuh yang bisa diterapkan, yaitu menjunjung tinggi etika bermedia (sosial). Ada beberapa etika.

Pertama, cross-check (tabayyun). Pembawa berita dan isi berita harus menjadi perhatian kita. Artinya, pembawa berita harus benar-benar dipastikan kredibilitasnya. Sementara isi berita mengandung arti sebuah penyelidikan kebenaran sebuah berita. Dengan cara ini, kita tidak hanya terhindar provokasi, melainkan juga terhindar dari hoax.

Kedua, meningkatkan literasi. Literasi yang matang dan tinggi berbanding lurus dengan upaya meminimalisir penyebaran provokasi dan hoax secara bar-bar. Sebab, kemampuan literasi seseorang akan bisa dengan mudah mendeteksi suatu berita atau informasi tersebut. Bahkan bisa melakukan konter narasi atau meluruskan provokasi. Dua modal di atas setidaknya bisa menghalau upaya-upaya jahat namun terstruktur yang dilakukan oleh kelompok anarko dan radikalis. Karakter pejuang yang diwariskan oleh pendiri bangsa ini memang harus kita warisi, namun harus ditempatkan pada posisi yang semestinya. Berjuang tidak melulu harus menempuh jalur kekerasan. Pejuang yang mengutamakan tindakan anarkis bukanlah pejuang sejatinya, melainkan ‘pecundang’ yang mengklaim di sana sini sebagai pejuang

Facebook Comments