Membaca Konflik Bitung: Dari Kerukunan ‘Simbolik’ hingga Normalisasi Kekerasan Berbasis Agama

Membaca Konflik Bitung: Dari Kerukunan ‘Simbolik’ hingga Normalisasi Kekerasan Berbasis Agama

- in Narasi
5
0
Membaca Konflik Bitung: Dari Kerukunan ‘Simbolik’ hingga Normalisasi Kekerasan Berbasis Agama

Konflik antara Laskar Kristen Manguni Makasiou, selanjutnya disebut Laskar Manguni, dan Massa Aksi Bela Palestina telah mereda. Wali Kota Bitung Maurits Mantiri langsung berkumpul dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bitung, Polres Bitung, serta Komando Distrik Militer (Kodim) 1310/Bitung. Deklarasi perdamaian pun diserukan anggota FKUB dengan mengatasnamakan Makatana Minahasa dan Barisan Solidaritas Muslim (BSM) di Gelanggang Olahraga Manembo-nembo.

Deklarasi damai itu mencakup tiga poin. Pertama, Bitung telah dalam keadaan aman dan damai. Kedua, semua pihak wajib menangkal berita hoaks dan provokasi. Ketiga, masyarakat Minahasa dan BSM bersatu padu dan menyatakan tidak ada konflik lagi, serta mengedepankan kedamaian di atas segala-galanya.

Meski demikian, deklarasi damai itu nyatanya tak pernah menjadi solusi. Banyak video kecaman muncul dari berbagai fraksi Islam menyusul tragedi penyerangan di Bitung tersebut. Tidak sedikit video yang berisi narasi mengarah kekerasan sebagai respon kejahatan aksi Laskar Manguni.

Dalam video yang diunggah akun OMJ Centang Putih di akun X (dulunya Twitter), misalnya, menampilkan sekelompok orang yang mengaku berafiliasi dari Front Jihad Islam. Mereka mengutuk tindakan diskriminasi terhadap Muslim di Minahasa. Mereka juga mengancam, jika aparat diam mereka tak segan-segan bergerak sendiri untuk memetik kepala-kepala Laskar Manguni. Dalam video tersebut, satu orang yang mengenakan kafiyeh menegaskan bahwa Muslim itu satu tubuh. Seandainya Muslim di Minahasa disakiti, maka mereka siap memburu ‘teroris Laskar Manguni kafir’.

Video ini dipublikasi dua hari setelah tragedi penyerangan. Namun tidak dapat dipastikan, apakah narasi Front Jihad Islam tersebut disampaikan dalam konteks penyerangan Aksi Bela Palestina atau bukan. Yang jelas, tragedi penyerangan itu dapat menjadi dalih bagi kelompok-kelompok Islam untuk menormalisasi kekerasan bertajuk ‘bela saudara Muslim’. Hal ini tentu saja menjadi kabar baik bagi para kelompok berpaham radikal terorisme.

Video mengarah pada kekerasan juga diunggah oleh akun X @NinzExe07. Video tersebut berisi sekumpulan orang yang mengatasnamakan diri sebagai Keluarga Besar Yayasan Pendidikan Poskab Sapu Jagad Pusat mengaku siap berperang bagi siapapun yang mendukung zionis israel di Indonesia. Bapak berpeci putih dalam video itu menyatakan kesiapannya untuk membantai siapapun dan siap mengobarkan perang dengan Laskar Manguni. Belum lagi Front Persaudaraan Islam (FPI) yang menyatakan ‘siaga jihad’ terhadap siapapun yang mendukung zionisme.

Hingga tulisan ini ditulis, ‘Manguni’ masih menduduki trending 2 di jagad media X. Posisi ini disebabkan oleh masifnya narasi kecaman terhadap Laskar Manguni yang bisa jadi sebagian besar mengumumkan kesediaan perang. Narasi-narasi ini sekali lagi merupakan kabar baik bagi para kelompok berpaham radikal terorisme.

Ditambah, hoaks dan plintiran narasi sentimen juga digunakan untuk membangun kebencian. Tidak sedikit akun yang mengunggah video yang sebenarnya tidak berkaitan dengan tragedi penyerangan Aksi Bela Palestina dimaksud. Aksi sekelompok Laskar Manguni di Jakarta misalnya, digunakan untuk menebar rasa takut sehingga membuat umat Islam bersatu melawan Laskar Manguni. Padahal, video tersebut adalah video lama. Hanya ia digunakan sebagai media propaganda. Narasi inilah yang patut diantisipasi oleh masyarakat. Sebab, intensitas konflik seringkali meningkat justru karena maraknya narasi propaganda yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ini.

Paham radikal terorisme jelas tidak memiliki agama. Semua paham keagamaan bisa terpenjara dalam ideologi ini. Laskar Manguni adalah contohnya. Sebagai organisasi massa Kristen terbesar di Minahasa, Laskar Manguni cenderung keras jika dihadapkan dengan kelompok Islam di sekitarnya. Tak heran selama bertahun-tahun, konflik agama di Sulawesi Utara selalu melibatkan Kristen Radikal yang ditampilkan Laskar Manguni.

Muncul spekulasi bahwa penyerangan ini berakar dari gejala islamofobia. Penyerangan itu bukan murni karena Laskar Manguni mendukung Israel, namun hanya karena mereka tidak menyukai Islam. Artinya, isu konflik Israel-Palestina ditunggangi untuk melampiaskan kebencian Kristen Minahasa kepada komunitas Muslim. Anggapan ini masih diperdebatkan. Meski begitu, riwayat diskriminasi Laskar Manguni kepada komunitas Islam seperti menguatkan spekulasi ini.

Pada 2015, misalnya, terjadi penyerangan terhadap Masjid As-Syuhada di Bitung, Sulawesi Utara, yang kembali menaikkan tensi konflik rumah ibadah di Indonesia. Tak hanya itu, jika mengacu pada satu dekade ke belakang, ada lebih dari lima pembangunan masjid yang digagalkan oleh oknum komunitas Kristen di sana termasuk pelarangan ibadah Islam di masjid dan musala.

Kabar buruknya, konflik antar identitas di Sulawesi Utara nyatanya tak pernah usai. Sebuah riset dari Balitbang Agama Makassar mengatakan bahwa kerukunan yang tercipta di Sulut sebenarnya adalah ‘kerukunan simbolik’ ataupassive harmony. Mereka masih dalam tataran ‘dirukunkan’, bukan rukun atas inisiatif sendiri.

Mereka akhirnya rukun karena ketika terjadi keributan atau timbul gejala konflik, ada lembaga resmi dan informal yang ‘memaksa’ untuk rukun, yakni pemerintah setempat, tokoh agama, aparat keamanan, serta Badan Kerjasama Antarumat Beragama (BKSAUA), Forkopimda, dan FKUB. Dalam hal ini, kerukunan mereka akan sangat bergantung kepada seberapa cepat lembaga-lembaga tersebut merespon konflik atau persoalan yang bisa mengancam lahirnya konflik.

Dengan kondisi demikian, sulit rasanya membayangkan perdamaian organik dari akar rumput. Hulu dari konflik antar agama ini adalah intoleransi yang berujung pada sikap radikal terorisme. Laskar Manguni menampilkan praktik beragama yang keras, eksklusif, dan otoriter. Di waktu yang bersamaan, sekali lagi, ini memicu normalisasi praktik kekerasan yang mengancam stabilitas nasional.

Situasi ini sangat kontra-produktif. Terutama jika dikaitkan dengan komitmen Indonesia tentang anti-kolonialisme. Sayangnya, tragedi kekerasan ini masih mengusung identitas agama sebagai payungnya. Semua orang sepakat bahwa semua agama mengusung misi perdamaian, namun tidak semua orang sadar bahwa praktik beragama haruslah berlandaskan sikap toleran dan moderat. Tanpa keduanya, komunitas agama akan terjebak pada sikap eksklusif dan intoleran yang akhirnya berujung pada paham radikal terorisme.

Para kelompok intoleran dan radikal teror akan selalu mengeksploitasi ruang-ruang konflik sehingga gagasan mereka bisa tersampaikan secara efektif. Intoleransi dan konflik tidak melekat pada agama. Keduanya adalah produk rekayasa dari oknum yang mengancam keutuhan bangsa. Kesadaran ini perlu dibangun dari bawah untuk membangun fondasi kehidupan damai dari akar rumput.

Lagipula, Sulawesi Utara adalah semacam etalase yang menyimpan beragam identitas. Identitas ini muncul membawa bendera yang berbeda-beda, seperti agama, etnis, dan budaya. Imunitas yang tepat untuk menghadapi propaganda semacam itu adalah kesadaran beragama yang moderat dan kepekaan terhadap distribusi informasi. Melalui kedua prinsip itu, kekayaan identitas ini bisa menegaskan persatuan, bukan justru menjadi sebab lahirnya perang.

Facebook Comments