Memberdayakan Generasi Z Sebagai Katalisator Perdamaian dan Persatuan

Memberdayakan Generasi Z Sebagai Katalisator Perdamaian dan Persatuan

- in Narasi
321
0
Memberdayakan Generasi Z Sebagai Katalisator Perdamaian dan Persatuan

Serangkaian peristiwa mewarnai ruang publik kita belakangan ini. Kasus perundungan di Cilacap belum sepenuhnya usai. Muncul video rekaman lelaki memarahi anak muda yang memainkan rebana di dalam masjid. Dia beralibi bahwa musik itu haram dan mungkar.

Di era digital, peristiwa apa pun berpotensi menimbulkan kegaduhan publik. Ironisnya, dimana ada kegaduhan di situ ada para penumpang gelap yang menambah keruh suasana. Pada kasus perundingan, muncul narasi bahwa bullying adalah bukti gagalnya pendidikan nasioal. Bahwa pendidikan yang diterapkan di Indonesia cenderung sekuler dan tidak sesuai dengan Islam. Puncaknya, muncul klaim andalan bahwa persoalan perundungan akan selesai jika khilafah tegak.

Peristiwa sosial yang saling berjalin kelindan itu tentu tidak bisa dipandang sepele. Peristiwa bernuansa kekerasan yang terjadi di tempat dan waktu berbeda berpotensi diorkestrasi oleh pihak tertentu untuk meradikalisasi masyarakat.

Dalam konteks inilah narasi perdamaian dan persatuan itu menjadi urgen dan krusial. Salah satu pihak paling bertanggung jawab secara moral membangun narasi itu adalah generasi Z. Mengapa harus generasi Z?

Karena kelompok inilah yang saat ini mendominasi dunia maya, dan selalu menjadi trend setter di media sosial. Di satu sisi, mereka memang kerap diklaim sebagai generasi mudah galau, dan rentan terkena isu kesehatan mental. Namun, di sisi lain generasi Z sebenernya memiliki sejumlah keunggulan.

Survei menyebutkan bahwa kelompok generasi Z adalah kelompok yang paling sedikit menyebarkan hoaks di media sosial. Angka tertinggi korban dan penyebaran hoaks masih dipegang oleh generasi baby boomer yang saat ini berusia 50 tahun ke atas. Sebaliknya, generasi Z cenderung terhindar dari jebakan hoaks karena memiliki kecerdasan digital yang lebih baik ketimbang para generasi sebelumnya,

Fenomena ini dilatari salah satunya karena generasi baby boomer merupakan kelompok immigrant digital yang mengenal teknologi internet dan media sosial setelah mereka berusia lanjut. Maka dari itu, literasi digital mereka cenderung lemah. Sebaliknya, generasi Z yang merupakan digital native cenderung lebih kuat dari sisi literasi digitalnya.

Bagaimana Generasi Z Berperan Sebagai Agen Perdamaian dan Persatuan?

Maka, relevan mendapuk kaum gen Z sebagai katalisator perdamaian dan persatuan. Kaum muda harus menjadi duta damai dan agen toleransi di ranah digital. Langkah pertama yang wajib diambil adalah memutus rantai penyebaran hoaks dan ujaran kebencian yang memecah belah di kanal digital.

Caranya dengan tidak meneruskam informasi palsu atau pesan bernada kebencian di media sosial. Jika mendapati berita palsu atau siar kebencian, maka cukup endapkan kontennya dan laporkan akun penyebarnya.

Langkah kedua, melawan narasi provokasi dan perpecahan dengan konten-konten yang mencerahkan, mendamaikan, dan menyejukkan. Media digital saat ini telah menjadi arena pertempuran (battle ground) berbagai opini dan narasi dari ragam kelompok. Ironisnya, algoritma media sosial acapkali tidak bisa mengenali mana informasi atau opini yang valid dan faktual. Algoritma medsos hanya berpihak pada narasi, informasi, dan opini yang terus-menerus direproduksi dan didistribusikan.

Pendek kata, semakin sering sebuah konten dilihat dan dibagikan, kemungkinan viralnya akan lebih besar. Tidak peduli apakah konten itu valid dan bermanfaat atau tidak. Maka, jalan satu-satunya untuk mendominasi dunia maya dengan pesan dan opini positif adalah memperbanyak konten yang bernuansa damai dan menyatukan.

Ketiga, mengedukasi generasi baby boomer yang masih rawan terpapar konten negatif dengan penguatan literasi digital. Kaum muda milenial dan gen Z harus berperan aktif dalam mengedukasi generasi di atasnya agar lebih memahami karakter media digital, peta wacana di ruang publik digital, dan bagaimana memposisikan diri di tengah carut-marut informasi dan silang opini di dunia maya.

Generasi Z harus menjadi contoh bagi baby boomer ihwal bagaimana mengelola perbedaan identitas dan pandangan agar tidak berujung menandi konfrontasi apalagi konflik. Dari segi manajemen konflik ini, generasi Z terbukti jauh lebih mumpuni ketimbang milenial apalagi baby boomer.

Terakhir, namun tidak kalah pentingnya adalah kaum muda idealnya selalu menjaga idealismenya serta pantang menggadaikan hal itu demi tujuan pragmatis. Hari ini, banyak kaum muda menggadaikan idealismenya demi kepentingan ekonomi atau politik praktis. Tidak sedikit anak muda mau mengampanyekan hal negatif di media sosial, karena iming-iming uang atau kekuasaan.

Ada influencer yang dengan sadar menjadikam akun medsosnya sebagai arena promosi judi online. Padahal, hal itu sangat berpotensi merusak generasi bangsa. Ada pula, influencer yang sengaja menjadi buzzer bayaran yang saban hari kerjanya mengadu-domba publik dengan beragam narasi kebencian. Praktik yang demikian ini jelas berlawanan dengan spirit kaum muda sebagai agent of change; katalisator perubahan masyarakat.

Arkian, menjadi muda bhnalah sekadar menjalani fase usia peralihan dari remaja menuju dewasa (tua). Menjadi muda adalah menjalani peran dan tanggung jawab sosial-kebangsaan. Menjadi muda berarti ikut menyumbang andil dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan. Salah satunya melawan narasi provokasi dan pecah-belah di ranah digital.

Facebook Comments