Narasi Pesantren, Karakter Dakwah, dan Semangat Kebangsaan

Narasi Pesantren, Karakter Dakwah, dan Semangat Kebangsaan

- in Suara Kita
617
0

Keberadaan pondok pesantren (Ponpes) di Indonesia memiliki andil besar dalam banyak hal. Baik dalam hal pendidikan dan penyebaran Islam, maupun dalam perjuangan menuju kemerdekaan. Memandang jauh ke belakang, ponpes memiliki sejarah panjang. Ponpes telah ada sejak masa Wali Songo sekitar abad ke-18, masa-masa penjajahan, masa kemerdekaan, dan terus berkembang hingga sekarang. Masing-masing masa memiliki sejarahnya sendiri, yang dari banyak pelajaran yang bisa dipetik.

Masa Walisongo bisa dikatakan sebagai masa awal munculnya pesantren, sekaligus awal penyebaran Islam di Indonesia. Di masa ini, pesantren menjadi tempat menuntut ilmu bagi santri dan kader-kader pendakwah untuk menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara. Jadi, pesantren tak sekadar mengemban misi pendidikan, namun juga dakwah. Sekarang, kita melihat hasilnya; mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Ini tak lepas dari peran para wali, juga para pendakwah dari pesantren yang didirikan di masa Walisongo.

Poin penting terkait pesantren di masa Walisongo adalah jalan dakwah yang dipilih. Sebagaimana diketahui, para wali melakukan strategi dakwah berbeda-beda, bergantung karakter masyarakat saat itu. Namun, secara garis besar, dakwah Walisongo, terutama di Jawa, adalah dakwah yang damai, penuh kebijaksanaan, mengedepankan dialog dan kasih sayang, bahkan melalui pendekatan budaya dengan masyarakat. Seperti dilakukan Sunan Kalijaga dengan kesenian wayang yang bernuansa Islami atau Sunan Kudus yang menghormati pemeluk agama Hindu dengan melarang pengikutnya menyembelih sapi. Ini merupakan karakter atau strategi dakwah yang perlu dipertahankan di kalangan santri. Bahwa jalan dakwah yang mengutamakan kedamaian merupakan hal utama dan relevan di tengah masyarakat kita.

Kemudian di masa penjajahan, pesantren menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjuangan kemerdekaan. Di masa tersebut, pemerintah Belanda berusaha membatasi pendidikan Islam, termasuk perkembangan pesantren. Bahkan, pemerintah kolonial mendirikan sekolah-sekolah tandingan yang lebih modern. Dengan kesadaran melawan kezaliman, pesantren, melalui kiai dan para santrinya kemudian menjadi pelopor pergerakan melawan penjajahan di berbagai daerah.

Karena menyadari peran besar para kiai, Belanda sampai melakukan pengawasan yang sangat ketat terhadap pergerakan kiai dan ulama saat itu. Setiap ada pemberontakan terhadap penjajah, seringkali dipelopori para kiai haji dan ulama dari pesantren. Hal tersebut kemudian membuat Belanda kewalahan dan semakin mewaspadai para kiai haji dan ulama. Bahkan, dalam beberapa sumber ada yang mengatakan jika gelar “haji” yang melekat pada nama seseorang usai berhaji saat ini, tak lain merupakan warisan Belanda. Sebab saat itu Belanda mewajibkan penambahan gelar “haji” di depan nama orang yang telah menunaikan haji agar lebih mudah mengawasi gerak-gerik mereka.

Satu momentum penting terkait semangat kiai dan santri dalam melawan kolonial terjadi saat Agresi Militer Belanda II. Saat kemerdekaan sudah diproklamasikan, tapi Belanda masih bersikukuh menguasai Indonesia lewat Agresi Militer Belanda II. Saat itu pemerintah Indonesia belum mengambil sikap, namun KH. Hasyim Asy’ari, pemimpin salah satu pondok pesantren di Jawa Timur sudah memutuskan resolusi jihad dengan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Momentum tersebut, yang terjadi pada 22 Oktober 1945, kemudian diabadikan sebagai Hari Santri Nasional melalui Keppress Nomor 22 Tahun 2015 lalu. Poin penting yang bisa kita petik dari narasi pesantren di zaman kolonial adalah keberanian dan rasa cinta Tanah Air. Keberanian melawan kezaliman kolonial, yang ditunjukkan para santri dengan digerakkan para kiai.

Pada masa Walisongo, santri dan para ulama dihadapkan pada tantangan berdakwah di tengah masyarakat yang saat itu banyak menganut kepercayaan lama. Dan jalan dakwah yang dipilih adalah perdamaian dan kasih sayang. Suatu model dakwah yang diplomatis, bahkan penuh kreativitas lewat pendekatan budaya. Kemudian di masa penjajahan, semangat jihad ditumpahkan atas dasar rasa cinta Tanah Air, untuk memerangi penjajah. Dua masa dengan dua karakteristik dakwah serta jihad tersebut merupakan hal pokok yang penting direnungkan dan diteladani saat ini. Peringatan Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober menjadi momentum kembali melihat sejarah; mengkaji narasi pondok pesantren dan peran santri dari masa ke masa, untuk kemudian berkaca dan belajar tentang karakter dakwah yang damai, dan jihad membela dan mempertahankan Tanah Air.

Kini, ponpes telah berkembang pesat dan jumlah santri kian banyak. Pada tahun 2012, tercatat ada sekitar 27.230 pondok pesantren yang tersebar di Indonesia, dengan lebih dari tiga juta santri di dalamnya (kemenag.go.id). Dengan jumlah yang sangat besar tersebut, kalangan santri berpotensi memberi pengaruh besar terhadap bangsa ini. Kita berharap, santri, dengan karakteristiknya yang mandiri, cinta ilmu, pengabdi, pejuang, ulet, sederhana, bersahaja, dll. bisa menjadi modal untuk melahirkan tokoh-tokoh besar yang tak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, namun juga semangat membangun bangsa dan komitmen pada kehidupan yang penuh kedamaian. Wallahu a’lam.

Facebook Comments