Nasionalisme dalam Bendera

Nasionalisme dalam Bendera

- in Suara Kita
749
0
Nasionalisme dalam Bendera

Sebagaimana pendefinisiannya dalam KBBI, kita mengenal bendera dalam rupa sepotong kain (atau kertas, plastik) segi empat atau segitiga (diikatkan pada ujung tongkat, tiang, dsb), dipergunakan sebagai lambang negara, perkumpulan, badan, atau sebagai tanda keberadaan, kehadiran, serta keberdaulatannya. Bendera dikenal juga sebagai panji—yang dengannya kita bisa tahu letak keberpihakan antara dua kubu yang berseberangan, posisi, serta aliran seseorang. Bendera juga ditandai sebagai tunggul, yang merupakan pertanda kekokohan, tambatan, kekuasaan, juga kepemilikan.

Dalam sejarah awal mula pemakaiannya, bendera digunakan sebagai penanda kehadiran raja, pejabat, atau wilayah sebuah negeri. Bendera juga sering digunakan sebagai penanda kubu dalam sebuah peperangan. Penggunaan kain dirasa lebih praktis dan memudahkan orang lain untuk melihatnya dari kejauhan, yang semula berupa lencana/emblem.

Momen kelahiran bangsa kita menyertakan ritual pengibaran bendera dengan protokoler tersendiri yang menyiratkan pemberitahuan kepada khalayak luas bahwa negara sudah dinyatakan berdaulat, bersatu di bawah panji merah putih. Kita telah memiliki sesuatu yang layak dibela, diperjuangkan, untuk kemudian dipertahankan. Hormat bendera bukan berarti menyembah dan menuhankannya, melainkan menghormati kemerdekaan dan menanamkan tekad akan senantiasa membelanya. Tuhan dan bendera jelas tak bisa diperbandingkan. Bahkan, dengan tegas agama menyatakan, hubbul wathan minal iman. Mencintai (kemerdekaan)negara adalah sebagian dari bentuk keimanan. Manifestasinya bisa dinyatakan dalam beragam tindakan; termasuk di dalamnya menjaga agar bendera negara bisa tetap berkibar dengan wibawa.

Insiden perobekan bendera merah-putih-biru pada 19 September 1945 di Hotel Yamato menggambarkan hal itu. Kedua belah pihak sama-sama menggunakan bendera sebagai alat untuk memperlihatkan rebutan keberdaulatan keberadaan masing-masing. Dari pihak Belanda, atas perintah WV Ch. Ploegman—pemimpin Indo Europesche Vereniging (IEV) yang diangkat NICA menjadi walikota Surabaya, pada 18 September 1945 malam, bendera Belanda dikibarkan sebagai sambutan perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus. Sementara dari pihak pemuda Indonesia menganggap bahwa hal itu menciderai kedaulatan Indonesia yang sudah menyatakan kemerdekaannya. Buntutnya, pengorbanan ratusan nyawa pada 10 November 1945 bukan berarti demi bendera merah putih belaka, namun lebih dari sekadar itu. Maka, pengibaran bendera Bintang Kejora di tengah-tengah demonstrasi tuntutan keadilan di Papua tentu saja tidak dibenarkan. Bendera Bintang Kejora menyimbolkan kedaulatan yang ingin berdiri di dalam sebuah wilayah yang sudah berdaulat penuh. Namun tentu saja, simbol pemersatu sebuah negara tak hanya terletak pada sebuah bendera. Pengubahan posisi kepala ‘Garuda Pancasila’ oleh Ormas Tunggul Rahayu (Garut, Jawa Barat) juga bisa dikatakan sebagai upaya ketidakpatuhan terhadap kedaulatan negara—apalagi sampai mencetak mata uang sendiri.

Dalam bendera negara, hampir semuanya mengandung penyimbolan tertentu. Bintang-bintang dalam bendera negara Amerika melambangkan jumlah negara bagian. Berbeda dengan lima bintang dalam bendera Singapura yang menyimbolkan demokrasi, perdamaian, kemajuan, keadilan, dan persamaan hak. Demikian pula bintang-bintang dalam bendera Ormas NU yang melambangkan peneladanan terhadap empat khalifah utama pengganti Nabi Muhammad SAW.  Dari bentuk-bentuk gambar yang ada padanya, sampai warna, juga menyiratkan makna tertentu. Pada bendera, kita bisa membaca sejarah panjang sebuah negara, sehingga mengetahui karakter sebuah negara. Bendera membedakan tiap-tiap negara.

Ia menyimpan sejarah panjang perjuangan. Maka tak heran jika kemudian dipertahankan mati-matian dalam sebuah pertempuran. Ia menjadi bagian dari keyakinan yang menenangkan, saat diikatkan ke kepala atau dililitkan ke lengan. Pengikatan bendera merah putih pada soko utama saat ritual munggah kayu pembangunan rumah baru menyatakan kesediaan kita menjadi bagian dari sebuah keberdaulatan. Ia menjadi simbol perwakilan saat dipakai dalam bentuk pakaian dalam sebuah turnamen olahraga. Ia menjadi kebanggaan ketika berhasil ditancapkan di puncak gunung tertinggi, atau dikibarkan di pengalungan medali Olimpiade.

Bendera bahkan kadang kelewat disucikan lantaran dianggap sebagai simbol kehormatan dan harga diri. Dalam kasus tertentu, misalnya, bendera yang bertuliskan kalimat-kalimat suci dianggap sebagai bagian dari kalimat suci itu sendiri—sehingga menistakannya, bisa dianggap sebagai penistaan terhadap keyakinan para penganutnya. Kita tentu masih ingat dengan insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid yang terjadi di Limbangan, Garut, pada peringatan Hari Santri 2018 silam. Simpang siur opini yang menyatakan antara kalimat tauhid dengan lambang partai setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa bendera juga menempati posisi tinggi sebagai simbol keyakinan.

Maka, peludahan, perobekan, pembakaran bendera, bisa diidentikkan sebagai simbol pelecehan, penantangan, pelanggaran kedaulatan, dan permusuhan. Tak heran jika dalam riuh rendah demonstrasi, kejadian semacam itu menjadi jamak dan lumrah—meski seharusnya ada pertimbangan juga akan dampaknya.

Dalam jenis bendera tertentu, kita bisa menemukan manfaat lain dari bendera. Pengibaran bendera palang merah di atas sebuah tenda, menyiratkan bahwa peluru tidak boleh menyasar mereka yang berada di dalamnya. Pengibaran bendera putih dari salah satu pihak yang berperang membawa pesan bahwa salah satu pihak telah menyatakan diri menyerah atau menginginkan gencatan senjata. Apa yang bisa membedakan bendera dengan yang bukan adalah simbol-simbol yang tertera dan disematkan padanya. Kain hitam bertuliskan huruf “A” tidak serta merta membawa pengaruh apa-apa dibanding dengan kain putih polos yang dikibarkan di tengah-tengah peperangan. Foto seorang tokoh yang dicetak pada sebuah bendera juga bisa diartikan sebatas dukungan. Kesepakatan dalam memahami simbol-simbol di dalamnya memberikan arti tersendiri terhadap dua kain yang kita sebut bendera tersebut.

Bendera ternyata menyimpan bahasa yang tak terucapkan. Kita menitipkan banyak hal terhadapnya. Manusia sudah terlalu banyak bicara, namun kurang bekasnya.

Facebook Comments