Siskamling 4.0: Digital Security untuk Mengikis Narasi Kebencian

Siskamling 4.0: Digital Security untuk Mengikis Narasi Kebencian

- in Suara Kita
491
0
Siskampling 4.0: Digital Security untuk Mengikis Narasi Kebencian

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sangat pesat di berbagai belahan dunia juga berimbas kepada semakin canggih dan variatifnya bentuk-bentuk ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa di jagat maya. Untuk menghadapi dan mengantisipasi situasi dan kondisi tersebut diperlukan pembekalan pengetahuan TIK yang tinggi dan komprehensif bagi para generasi digital natives.

Ibarat dua sisi mata uang logam kemajuan TIK berdampak dua arah, positif dan negatif. Positifnya dengan TIK inilah ini globalisasi menjadi terealisasi. Sebagai sebuah proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi, yaitu ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam Perkembangan TIK menyebabkan ledakan informasi dan terciptanya lalu lintas informasi dan komunikasi bebas hambatan, sehingga terjadi transformasi pola hidup manusia di berbagai bidang menuju masyarakat berbasis TIK.

Namun, sisi negatif yang tidak dapat dihindari, laju perkembangan TIK juga banyak digunakan untuk berbagai tujuan yang kontra produktif, bahkan destruktif, baik oleh perorangan (individuals) maupun kelompok. satu negara (state actors). Mereka mengeksploitasi informasi guna menyebarluaskan hoax dan atau ujaran kebencian di ruang-ruang virtual. Bahkan di tahun politik ini, gerakan destruktif hoax dan ujaran kebencian menjadi semakin masif untuk digunakan sebagai alat kampanye ataupun cara-cara untuk meraup suara dari pemilih.

Baca juga : Siskamling Medsos Kunci untuk Menangkal Hoax dan Hate Speech

Berbagai persoalan tersebut tentu harus segera kita lawan dan antisipasi, salah satunya dengan Siskampling 4.0 sebagai Digital Security di medsos untuk mengikis berbagai narasi kebencian di ruang virtual. Mengingat, di era digital dewasa ini pemanfaatan TIK yang destruktif pada dasarnya juga merupakan ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Ketidakmampuan menghadapi era digital bisa menjadi ancaman apabila suatu bangsa tidak memiliki kapabilitas atau kemampuan untuk memanfaatkan TIK secara baik, benar dan tepat guna. Berdasarkan hal itulah diperlukannya digital security melalui Siskampling 4.0.

Dalam Siskampling 4.0 pendidikan literasi memainkan peranan utama agar teknologi informasi tepat sasaran dan minim penyalahgunaan. Narasi kebencian yang dapat mengkikis kebhinekaan bisa diantisipasi dan kita basmi. Pendidikan literasi hendaknya dimulai sedari kecil, agar terbentuk generasi digital native yang tak hanya melek media. Namun, juga paham etika dan aturan bermedsos, bijak dalam membaca dan menulis, serta berpikir kritis.

Untuk mewujudkan itu semua tentu memerlukan langkah nyata di dalam praktik pendidikan, mulai dari pendidikan keluarga, sekolah, sampai lingkungan masyarakat. Keluarga sebagai sekolah pertama dengan ibu-bapak sebagai gurunya memegang peranan vital membentuk karakter anak. Orang tua harus bisa menjadi kontrol bagi anak-anaknya dalam penggunaan internet dan medsos. Orang tua juga harus meningkatkan pengawasan kepada mereka dalam berinternet atau bermedsos. Beri pemahaman kepada mereka mana konten yang baik dan mana yang jelek. Demikian juga mana narasi kasih sayang yang harus disebarkan dan mana narasi kebencian yang harus dihindari. Di sini pendidikan literasi mulai dikenalkan sedikit demi sedikit, agar si anak cerdas dan bijak dalam bermedsos.

Sementara pendidikan literasi di sekolah bisa dilakukan menggencarkan budaya literasi media cinta damai. Ini tentu harus ditunjang dengan metode dan strategi pembelajaran yang menarik berbasis TIK. Misalnya, Problem Based Learning (PBL), investigasi, dan memecahkan berbagai isu persoalan saat ini. Selain itu, guru di sini harus kreatif dan inovatif. Peserta didik diajarkan untuk selalu menyebar narasi kebaikan dan ujaran kasih sayang serta meredam ujaran ujaran kebencian ataupun hoax.

Masyarakat harus bisa menjadi kontrol dan filter informasi yang beredar. Bila ada situs atau oknum yang menebar hoax ataupun ujaran kebencian, harus segera dilaporkan. Salah satu cara yang bisa dilakukan yaitu, setelah melihat sumber berita (website) dan jika telah dipastikan bahwa berita tersebut adalah hoax, dapat melacak siapa pemilik website tersebut dengan cara mencari IP Address atau cukup menuliskan nama situs web tersebut dalam who.is.net maupun domainbigdata.com misalnya, maka akan diketahui identitas yang cukup lengkap dari pemilik situs web penyebar hoax atau ujaran kebencian tersebut.

Untuk mewujudkan itu semua tentu perlu adannya sinergitas antara pemerintah dengan masyarakat, harapannya siklus hidup berita hoax dan narasi kebencian dapat diputus, sehingga tidak menjalar ke mana-mana. Lambat-laun pun hoax dan ujaran kebencian dapat diberantas sampai ke akar-akarnya.

Facebook Comments