Bagaimana Alquran Merespon Hoax?

Bagaimana Alquran Merespon Hoax?

- in Suara Kita
371
0

Suatu ketika, al-Harits bin Dhirar al-Khuza’i, pimpinan Bani Musthaliq, menghadap Rasulullah Saw untuk mengikrarkan keislamannya. Iapun mengucap dua kalimah syahadat. Rasulullah Saw lalu mengajaknya membayar zakat. Ia menyanggupinya seraya berkata: “Ya Rasul, aku akan pulang ke kampungku untuk mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Orang-orang yang mengikuti ajakanku, aku akan kumpulkan zakatnya. Apabila telah tiba waktunya, kirimlah utusan untuk mengambil dana zakat yang telah aku kumpulkan.”

Sesuai waktu yang ditetapkan, Rasulullah Saw mengutus al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith untuk mengambil zakat yang dikumpulkan dari Bani Musthaliq. Ketika berangkat, di perjalanan hatinya merasa gentar dan takut. Ia lalu pulang sebelum sampai tujuan dan melaporkan pada Rasulullah Saw bahwa al-Harits tidak mau menyerahkan zakat padanya, bahkan mengancam untuk membunuhnya. Laporan ini membuat Rasulullah Saw sangat marah, hingga hampir-hampir melakukan penyerangan pada Bani Musthaliq karena dinilai melanggar kesepakatan.

Di sisi lain, al-Harits menunggu-nunggu kedatangan utusan Rasulullah Saw, sesuai kesepakatan. Karena utusan itu tak kunjung tiba, sementara dana zakat sudah terkumpul, maka ia meyakini telah terjadi sesuatu pada Rasulullah Saw. Ia bahkan mengira Rasulullah Saw marah, karena bukan kebiasaan beliau tidak menepati janjinya. Atas rasa penasaran dan kekhawatirannya, al-Harits lalu berangkat ke Madinah untuk menemui beliau.

Di sisi lain lagi, Rasulullah Saw mengirim utusan lagi pada al-Hârits. Di tengah perjalanan, utusan kedua ini bertemu al-Harits dan para shahabatnya. al-Harits bertanya pada mereka: “Kepada siapa engkau diutus?”

“Kami diutus kepadamu,” jawab mereka.

“Mengapa?”

“Sesungguhnya Rasulullah Saw telah mengutus al-Walid bin ‘Uqbah. Namun ia mengatakan, engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan bermaksud membunuhnya.”

“Demi Allah yang Maha Mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya. Aku tidak melihatnya. Tidak ada yang datang padaku.”

Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah, bertanyalah beliau: “Mengapa engkau menahan zakat dan akan membunuh utusanku?”

“Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan sebenar-benarnya. Aku tidak berbuat demikian,” jawabnya.

Atas kejadian ini, sebagaimana dituliskan Ali bin Muhammad al-Syaihi (Lubab al-Ta’wil fi Maani al-Tanzil: IV/178) dan Imam al-Syaukani (Fath al-Qadir: V/69), maka turunlah Qs. al-Hujurat [49]: 6; “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal.

Ayat ini memberikan peringatan keras sekaligus rambu-rambu bagi orang-orang yang beriman supaya tidak menerima keterangan sebelah pihak dari sumber yang tidak kredibel, apalagi dari golongan munafiq penebar kericuhan dan kerusuhan. Dalam konteks kisah di atas, bahkan sekelas Rasulullah Saw saja hampir termakan oleh berita hoax yang dihembuskan al-Walid itu, hingga kemarahannya menggelegak dan nyaris menyerang Bani Musthaliq. Untungnya beliau melakukan klarifikasi dengan mengirim utusan kedua untuk memastikan kebenaran berita yang diterimanya.

Ada beberapa point penting terkait seruan ayat ini pada orang-orang yang beriman. Pertama, “jika datang kepada kamu seorang fasik membawa suatu berita.” Banyak sekali berita berseliweran yang diterima, baik melalui person to person maupun melalui berbagai media sosial. Penyampai beritanya juga memiliki latar belakang dan kepentingan yang berbeda-beda. Ada yang memiliki kredibilitas tinggi dan bahkan banyak yang sama sekali tidak memiliki kredibilitas.

Inilah pentingnya melakukan kritik atau penelitian atas kepribadian penyampai berita, seperti yang dilakukan oleh para ahli Hadis melalui konsep al-jarh wa al-ta’dîl (evaluasi negatif dan positif perawi). Bahkan ada juga orang yang menyampaikan berita dengan niatan yang positif dan banyak yang niatnya negatif, seperti berita hoax. Kehati-hatian ini penting dilakukan oleh orang-orang beriman, apalagi berita itu muncul dari orang-orang fasik yang berniat mengadu domba dan membuat permusuhan.

 Kedua, “maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan.” Maksudnya, jika orang-orang beriman menerima informasi dari siapapun, apalagi dari sumber yang patut dicurigai tidak membawa nilai-nilai positif, maka mereka harus melakukan klarifikasi atau tabayun, hingga mendapatkan kejelasan perihal kebenaran atau ketidakbenaran berita itu. Jika melihat informasi di berbagai media sosial, maka betapa banyak berita yang dinilai haq (kebenaran) nyatanya hoax.

Dan faktanya tidak sedikit berita yang justru menghakkan yang hoax dan menghoaxkan yang hak. Ditambah kecanggihan teknologi, pemalsuan informasi akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan dan uniknya semakin banyak yang mempercayainya. Inilah zaman yang serba keblinger, ketika klarifikasi atau tabayun menjadi barang mahal yang tidak banyak dilakukan. Adu domba dan permusuhan akan sangat mudah terjadi dalam situasi yang demikian, apalagi jika sudah disusupi kepentingan pragmatis semacam kepentingan politik atau kekuasaan.

 Ketiga, “agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal.” Ini terkait dampak yang akan ditimbulkan oleh informasi tidak benar atau bahkan bermotif adu domba. Berita bohong yang disampaikan oleh al-Walid bin ‘Uqbah terkait al-Harits bin Dhirar ini menyulut kesalahpahaman pada diri Rasulullâh Saw. Beliau marah dan nyaris menyerang perkampungan Bani Musthaliq.

Jika Rasulullah Saw yang senantiasa dibimbing wahyu Allah Swt saja nyaris termakan oleh adu domba orang-orang yang tidak bertanggungjawab, apalagi umatnya sebagai manusia pada umumnya yang penuh gelimang dosa? Karena itu, kehati-hatian dalam menerima berita semestinya ditingkatkan hingga beberap kali lipat. Jangan sampai, mereka menimpakan musibah (bisa tuduhan, bisa hinaan, bahkan bisa pembunuhan) pada orang lain yang tidak bersalah, hanya karena didasari pengetahuan atau informasi yang keliru. Inilah yang akan menjadikan orang-orang beriman menyesal. Karena itu, sudah sepatutnya hubungan sosial-kemasyarakatan dijalani dengan penuh kehati-hatian.

Dan dalam konteks Indonesia yang terdiri dari keragaman suku, agama dan ras (SARA), maka kesatuan dan persatuan harus dijaga sungguh-sungguh. Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi perekat kebersamaan bangsa ini, karena aneka provokasi yang bertujuan memecah-belah bangsa ini bisa muncul kapan saja dan dalam kesempatan apapun. Berita hoax dengan menjadikan perbedaan SARA sebagai pemicunya sangat potensial terjadi di negeri ini. Karenanya, bangsa yang cerdas adalah bangsa yang memiliki budaya klarifikasi atau tabayun. Tidak serta-merta membenarkan berita yang diterimanya. Hanya dengan cara inilah, potensi perpecahan akan terhindarkan.

Facebook Comments