Hari Santri Nasional; Membangun Trust Culture dengan Menguatkan Konsep Hubbul Wathan Minal Iman

Hari Santri Nasional; Membangun Trust Culture dengan Menguatkan Konsep Hubbul Wathan Minal Iman

- in Suara Kita
1486
0

Dalam konteks Indonesia, tidak perlu ada perbedaan dan pemisahan antara agama dan negara. Beragama dan bernegara bisa senada dan seirama. Semua itu sudah dirangkum dalam butir-butir Pancasila yang menampung semua perbedaan dan kepentingan. Indonesia merupakan negara yang berbeda dengan negara lain, karena mampu membangun spirit kebangsaan dengan agama. Sederhananya, Indonesia yang beragam suku, agama, ras kulit, bahasa sampai dengan budaya bisa bersatu dengan mengedepankan spirit nasionalisme.

Tanggal 22 Oktober yang ditetapkan sebagai hari santri nasional.  Tak lain halnya sebagai salah satu upaya untuk mengingat kembali jasa-jasa santri dahulu, agar menjadi teladan untuk santri sekarang ini. Agar menjadi santri yang bisa mencintai NKRI dan menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Selaras dengan itu, momen ini seharusnya dibingkai dengan indah dan menyenangkan dengan menguatkan konsep yang diusung oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah tahun 1943 yaitu Hubbul Watton Minal Iman. Sebuah paradigma yang menekankan tentang pentingnya Islam dan kebangsaan. Yang apabila dirinci memiliki makna yang mempersatukan dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Hub memiliki arti cinta, wathan berarti tanah air (bangsa), minal iman berarti dari atau bagian dari Iman.

Dalam hal ini KH. Abdul Wahab Chasbullah juga menjelaskan mengapa beliau menggunakan bahasa Arab dalam menyuarakan Hubbul Wathan Minal Iman, tujuannya ialah agar Belanda tidak mengetahuinya. Sebab, jika tahu maknanya Belanda akan melawan kaum pesantren. Ini adalah spirit yang sangat membangun, sebab melalui konsep ini bisa menjadi sebuah landasan dalam menguatkan semangat nasionalisme pemuda ataupun orang-orang yang berada di pesantren untuk bersatu dalam memperjuangkan kebebasan bangsa Indonesia dalam penjajahan.

Menariknya Hubbul Wathan Minal Iman ini tidak lekang oleh waktu, ini bisa disuarakan kapan saja, sebagai bentuk cinta kita terhadap tanah air. Faktanya dalam Presiden Republik Indonesia Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), ada 17 karakter yang dikuatkan.  Dan dari 17 karakter tersebut ada dua karakter yang sejalan dengan Hubbul Wathan Minal Iman, yaitu semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Pemahaman inilah yang harusnya menjadi pertimbangan ideal untuk menjalin hubungan dalam menjadi warga negara Indonesia. Sebab, selain melihat tentang agama, kita juga harus melihat keragaman yang ada di Indonesia, agar cara beragama kita tidak terjerumus dalam tindakan yang bisa memecah belah persaudaraan berbangsa.  

Pun dalam al-Quran sendiri juga dianjurkan, bahwa menjaga keutuhan negara dan kedaulatan rakyat sangat penting dan harus dilakukan oleh setiap manusia. Ini terdapat dalam surah Al-Hujurat ayat 13, yang mengatakan, hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal.

Indonesia terdiri dari suku, bangsa, agama dan ras. Yang berbeda-beda atau negara yang multicultural inilah yang harus dipertahankan dan dijaga antar sesama dalam mewujudkan kebinekaan, guna mencapai persatuan dan tetap utuhnya antara bangsa. Dengan kata lain, meski berbeda tetapi sejatinya kita semua adalah saudara. Dan tugas saudara adalah menjunjung tinggi keharmonisan dalam menguatkan solidaritas, menjaga kebersamaan dan juga kerukunan sesuai dengan konsep dengan Hubbul Wathan Minal Iman.

 Untuk itu sudah seharusnya konsep Hubbul Wathan Minal Iman menjadi landasan sekaligus wadah untuk membimbing generasi penerus yang cerdas. Bagaimana bangsa ini berhasil, aman, serta mendamaikan, tidak lepas dari sikap pejuang yang dengan rela mengedepankan bangsa Indonesia daripada kepentingan sepihak. Sikap saling percaya menjadi poin paling utama bagi mereka. Itulah mengapa agama dan negara di Indonesia diharuskan untuk senada. Sebab, keragaman yang ada di dalamnya mengajarkan betapa pentingnya cinta terhadap Indonesia yang dipenuhi dengan perbedaan.

Facebook Comments