Interaksi Sosial Semit di Zaman Kenabian

Interaksi Sosial Semit di Zaman Kenabian

- in Budaya, Peradaban
3510
0

Sebagaimana diketahui, Yahudi, Kristen, dan Islam secara ‘garis keturunan’ bermuara pada leluhur yang sama. Yahudi dan Kristen bertemu pada jalur Ishak, sementara dengan Islam kedua agama tersebut bertemu pada sosok Ibrahim. Sedangkan Ibrahim sendiri merupakan keturunan Nuh lewat putranya yang bernama Sem. Karena itu, ketiga agama ini diidentifikasi dengan istilah ‘Semit’, sebuah istilah yang menjelaskan asal-usul nenek moyang dan kesamaan rumpun ketiga agama ini.

Kesamaan rumpun yang terjadi mengantarkan ketiganya pada sebuah konsepsi yang ‘serupa namun tidak sama’. Kesamaan gagasan pokok keagamaan kerap terjadi, meski praktek ajarannya lebih sering berbeda. Persoalan otentisitas antar agama menjadi salah satu isu sentral yang sering dibicarakan hingga kadang menimbulkan konflik terbuka. Distorsi ajaran keagamaan lewat penafsiran dan sikap tendensius pengikutnya sulit terelakkan. Ketiga agama mengproklamirkan sebagai ajaran yang paling benar sesuai kehendak Tuhan dan karenanya ajaran di luar itu keliru.

Dalam catatan sejarah terdapat beberapa peristiwa yang mengisyaratkan proses interaksi dan dialog keagamaan antara Nabi Muhammad dengan penganut Yahudi Kristen. Waraqah bin Naufal, paman Khadijah istri Nabi yang tinggal di Mekah, menjadi orang Kristen pertama yang berdialog perihal kenabian Muhammad. Bahkan, ramalan eksodus Nabi dan pengikutnya dari Mekah yang ia klaim dikutip dari kitab sucinya dikemudian hari terbukti benar. Ia pun berjanji membela Nabi seandainya ia masih hidup saat peristiwa itu terjadi.

Waraqah pula yang menjadi orang pertama yang berhasil meyakinkan Muhammad bahwa yang datang kepadanya adalah al-Namus al-Akbar (Jibril) yang membawa Nubuwwah (legitimasi kenabian). Waraqah dikenal sebagai penganut Kristen yang menguasai Injil dan diyakini telah menerjemahkan beberapa bagian Injil dalam bahasa Arab.

Pada tahun kelima dari kenabian, ketika penganiayaan terhadap para pengikut Nabi semakin membabi buta, ia menyarankan para pengikutnya Hijrah ke Abbisinia. Abbisinia yang kini bernama Ethiophia merupakan wilayah aman dan damai karena masyarakatnya hidup secara lebih teratur baik secara politik maupun religius. Undang-undang dan aturan baku kenegaraan telah berjalan secara disiplin di negeri ini. Kawasan ini dipimpin seorang raja Kristen bernama Negus (Najasyi dalam literatur Islam).

Negus dikenal sebagai pemimpin non Muslim pertama yang memberikan suaka kepada pengikut Nabi yang mengungsi di wilayahnya. Umat Islam yang mendapat perlindungannya dijamin keselamatan harta dan benda sekaligus bebas untuk menjalankan ritual keagamaan. Hal itu ia buktikan saat sejumlah elit Mekah menghadapnya agar diberi izin membawa pulang pengikut Nabi untuk dieksekusi.

Negus pernah meminta Ja’far bin Abi Thalib membacakan salah satu wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad. Ja’far kemudian membacakan QS. Maryam [19]: 1-33 yang bercerita tentang Zakaria dan putranya Yahya (Yohanes), berikut mengenai kronologis kehamilan perawan Maryam (Bunda Maria), kelahiran Isa (Yesus), kenabiannya, dan ajarannya. Setelah mendengar kutipan Alquran tersebut, Negus dan para pembesar istana terkejut, apresiatif, sekaligus simpatik terhadap ajaran Islam yang mengakomodir kisah Yesus Kristus.

Meskipun Nabi dan Negus tak pernah bertatap muka secara langsung, hubungan mereka tetap terjaga dan saling menghormati. Bahkan ketika Nabi sudah menetap di Madinah, Negus pernah mengirimkan delegasi yang membawa hadiah persahabatan kepada Nabi. Para utusan Negus dilayani sendiri oleh Nabi, sebagaimana –menurut Nabi- Negus telah terlebih dahulu memberikan penghormatan yang tinggi terhadap Islam. Bahkan, Nabi menyiapkan ruangan khusus kepada mereka untuk beribadah.

Dalam satu sumber sejarah yang lain, Nabi konon memiliki seorang kawan berstatus budak beragama Nasrani bernama Jabr. Nabi sering terlihat berbincang dengan Jabr di Marwa, dekat Kabah. Selain itu ada pula nama ‘Addas yang juga berstatus budak dan pernah bergaul dengan Nabi ketika sedang di Thaif, kota kecil dekat Mekah. Dampak pergaulan itu berakibat pada propaganda kaum pagan Arab yang menyebut ajaran Islam berasal dari interaksi sosial dengan penganut agama lain (QS. al-Nahl [16]: 103).

Sementara interaksi sosial Nabi dengan komunitas Yahudi lebih banyak terjadi di Madinah. Komunitas Yahudi telah membentuk koloni-koloni perkebunan jauh sebelum Nabi Hijrah ke kota itu. Pasca masuknya Nabi ke Madinah, hal yang diperhatikannya adalah persatuan penduduk. Langkah awal yang dilakukan Nabi adalah membuat kesepakatan pembentukan konfederasi suku dan agama yang dikenal dengan Piagam Madinah. Kesepakatan ini berisi jaminan perlindungan bersama berikut hak dan kewajiban yang sama antar pemeluk agama dan suku yang ada di kota ini.

Keteladanan bersama dari umat beragama di masa itulah yang semestinya menjadi acuan dasar bagi bangsa ini. Karena jika dilihat dari uraian di atas, kehidupan berbangsa di Madinah nyaris serupa dengan kehidupan berbangsa di Indonesia. Madinah masa lalu dan Indonesia masa kini didiami oleh ragam suku, etnis, ras, dan agama. Namun, perbedaaan itu tidak ‘besar-besarkan’ hingga menjadi penghalang kerja sama antar penduduk. Dengan demikian pilihannya cuma satu, persatuan!

About the author

Ahmad Dicky Sofyan
Aktifis, penulis isu-isu keislaman-sosial-sejarah, dan jurnalis. Di sela-sela kesibukannya hampir setiap Minggu alumni jurusan Tafsir Hadits UIN Syarif Hidayatullah ini mengisi sejumlah kegiatan keagamaan dan pengajian kampung dan perumahan di seputaran Depok dan Bogor. Baginya menulis adalah cara merawat otak dan watak. Bisa dihubungi di: [email protected]

Related Posts

Facebook Comments