Kartini Masa Kini dan Tantangan Deradikalisasi

Kartini Masa Kini dan Tantangan Deradikalisasi

- in Suara Kita
382
0

Sekalipun masih ada yang mengatakan bahwa peran perempuan tidak signifikan, nyatanya perempuan sampai hari ini masih mewarnai dinamika kehidupan dunia. Dalam konteks Indonesia, misalnya, ada srikandi-srikandi yang luar biasa. Dikatakan demikian karena sumbangsihnya dan dedikasinya untuk negeri ini benar-benar dirasakan sampai sampai hari ini. Diantara srikandi itu ada yang namanya Raden Ajeng Kartini.

Kartini tidak sekedar memperjuangkan nasib dan hak perempuan kala itu, namun juga menjadi inspirasi generasi berikutnya. Buktinya, berangkat dari jasa Kartini, saat ini banyak perempuan yang tidak sekedar di dapur, sumur, dan kasur, melainkan sudah berkarier melalui berbagai macam cara, bahkan juga sudah ada yang ‘unjuk gigi’ dalam ranah dunia.

Begitulah jasa Kartini. Tak ayal, setiap tahun (tanggal 21 April) tidak pernah ketinggalan dan sepi berbagai perayaan untuk mengenang jasa Kartini digelar di seluruh pelosok negeri. Sekali lagi, semua ini dimaksudkan agar melahirkan Kartini-kartini di setiap zaman dengan perjuangan yang sesuai dengan perkembangan zaman itu sendiri.

Nah, Kartnini masa kini tugasnya tidak kalah beratnya dengan perjuangan Kartini di masa lalu. Jika Kartini di masa lalu memperjuangkan hak perempuan dalam tataran untuk meraih pendidikan, maka Kartini masa kini (dalam konteks NU ada Fatayat dan Muhammadiyah ada Aisyah-red) memiliki segudang tanggungjawab yang harus segera diselesaikan. Salah satunya adalah deradikalisasi.

Perempuan dan Terorisme

Sebagaimana yang lebih dulu diuraikan Tri Pujiati dalam artikelnya berjudul ‘Perempuan Pendidik Utama Anti-Radikalisme, bahwa perempuan (Ibu) memiliki peran signifikan dalam konteks deradikalisasi sejak dini, yakni menanamkan benih toleransi dan mengajarkan nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan.

Senada dengan itu, Rabia Siddique, dalam forum Konferensi Internasional tentang Perempuan dan Jihad yang digelar Pusat Kajian Negara dan Komunitas Muslim (CMSS) di Universitas Australia Barat (UWA), menjelaskan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam radikalisasi dan deradikalisasi sekaligus. Kemudian, ia menyodorkan data yang mencengangkan. Menurutnya, diperkirakan sebanyak 15 persen orang asing yang direkrut ISIS adalah perempuan dan metode yang digunakan terhadap calon pengikut adalah narasi yang penuh dengan ajakan manis termasuk rayuan bahwa anggota baru akan mendapat suami atau istri yang cantik (Antarariau.com, 11/10/2015).

Berangkat dari pemaparan di atas, penulis hendak mengurai beberapa faktor penyebab perempuan terlibat dalam gerakan ekstrimis seperti terorisme. Pertama, tidak dicurigai sebagai teroris. Selama ini, dunia disodorkan pada realita yang menyebutkan bahwa pelaku bom seringkali didominasi oleh kaum laki-laki. Adalah benar fakta ini. Akan tetapi, jangan salah, perempuan juga banyak yang terlibat teroris. Salah satu buktinya adalah pelaku penyerangan di San Bernardino, California pada  2 Desember 2015 silam. Aksi ini dilakukan oleh dua perempuan.

Jadi, ini setrategi baru kelompok militan yang condong pada aksi radikal untuk mengelabui dunia, yakni menggunakan ‘jasa’ perempuan agar tidak dicurigai sebagai teroris sehingga perempuan lebih leluasa untuk melancarkan aksinya.

Kedua, generasi muda yang kesepian. Kesepian ibarat virus yang mudah untuk menyerang siapa saja, terutama generasi muda, termasuk perempuan. Efek yang ditimbulkan dari fenomena semacam ini banyak sekali, salah satunya rawan dicekoki ideologi tertentu.

Kelompok radikal selalu mempunyai cara mujarab dalam merekrut anggota untuk bergabng dengan kelompoknya. Iya. Selain mencari pembenaran terhadap kesamaan ideologi mereka dengan ideologi lainnya (NU, MU, dll), mereka juga menyerang generasi yang kesepian.

Ketiga, mudah terpengaruh. Kesepian yang berlarut-larut menyebabkan seseorang mudah terpengaruh. Terlebih generasi muda, wabil khusus perempuan, yang tidak teganan dan sangat mudah untuk dirayu. Kondisi dan situasi seperti ini, sekali lagi, dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk masuk, mencuci otak mereka. Yang melakukan cara ini biasanya ISIS.

Keempat, tidak menguasai ilmu dasar (basic). Entah karena pengaruh globalisasi atau apa, yang jelas, generasi saat ini tidak memiliki ilmu dasar, baik ilmu agama maupun tentang kewarganegaraan. Akibatnya, mereka sering terombang-ambing oleh ideologi luar.

Sebagai contoh: kelompok radikal mengatakan bahwa Pemerintahan Pancasila sudah terbukti gagal (dan disebutkan fakta-fakta mutakhir). Setelah itu, ia mengungkapkan dan mengambil referensi sejarah tentang kejayaan Khilafah di masa lalu. Dari sini, pemuda akan digiring menuju pemahaman bahwa Pancasila harus segera diganti. Jika pemahaman agama dan kewarganegaraan lemah, sudah pasti akan mengikuti kelompok yang bersangkutan.

Program Deradikalisasi

Harus disadari sekaligus diakui bahwa perempuan memainkan peran penting dalam proses deradikalisasi. Faktor-faktor penyebab di atas harus dijadikan sebagai bahan renungan betapa perempuan, selain terlibat dalam terorisme, mereka juga paling berpotensi menyebarkan ideologi kekerasan serta melahirkan generasi intoleran.

Untuk itu, perempuan-perempuan kekinian harus memainkan peran lebih dalam konteks deradikalisasi. Sebagaimana disinggung diawal bahwa deradikalisasi merupakan tanggungjawab terbesar Kartini masa kini.

Setidaknya ada beberapa hal yang menuntut untuk segera dilakukan oleh Kartini masa kini dalam lingkup program deradikalisasi.

Pertama, mengkampanyekan Islam moderat. Islam harus dipahami sebagai norma atau nilai-nilai yang universal dan rahmat lil alamin. Sebab, hanya Islam moderatlah yang dapat menangkal paham radikal yang dewasa ini jor-joran.

Kedua, sebagai madrasah pertama. Perempuan (ibu) adalah madrasah pertama bagi anaknya. Sebagai madrasah pertama, ibu memiliki peran strategis. Salah satu peran strategis itu adalah membentengi sang buah hati dari ajaran yang dapat merusak masa depan dan membahayakan orang lain ada negara. Caranya, memperkuat basic keilmuan dan pemahaman sang anak akan nilai-nilai islam dan kebangsaan.

Dalam konteks ini, perempuan (ibu) adalah makhluk yang paling efektif dalam menjalankan deradikalisasi dalam keluarga. Kedekatan dan pengaruhnya terhadap anak menjadi senjata yang mengalahkan program deradikalisasi yang dicanangkan pemerintah.

Hasilnya bisa dilihat dari pernyataan anak Amrozi ketika bertemu Komisaris Jenderal Suhardi. anak Amrozi, teroris yang telah dieksekusi di Nusakambangan bersama kakaknya, Muklas, pada 2008, mengatakan: ‘‘Pak, bapak saya dihukum mati. Namun saya ingin menjadi orang yang baik.’’ (Pohon Harapan dari Kampung Amrozi, Detik.com,  Irwan Nugroho (ed), 11/4/2017).

Jelas kata, perempuan mempunyai dua peran siginifikan sekaligus. Disatu sisi, perempuan bisa menjadi pelaku teror yang paling sempurna. Di lain sisi, ia bisa menjadi sosok yang lembut dan efektif dalam mencegah paham radikalis yang sudah mulai massif. Teruntuk Kartini-kartini masa kini, tanggungjawabmu amatlah besar, yakni melahirkan generasi yang toleran, bebas dari paham yang sesat dan membahayakan banyak orang, termasuk negara.

Facebook Comments