Konsultasi Kerasulan pada Pendeta

Konsultasi Kerasulan pada Pendeta

- in Keagamaan
1617
0

Isteri Rasulullah Saw, ‘Aisyah bint Abi Bakr mengisahkan, wahyu pertama yang diterima suaminya berupa mimpi yang benar (al-ru’ya al-shadiqah) seperti cahaya pagi/shubuh. Beliau gemar menyepi (al-khala’) setelahnya. Dan Gua Hira menjadi tempat favoritnya.

Tak jarang, hingga beberapa malam beliau ber-tahannuts (menurut Wahbah al-Zuhaili, yakni beribadah) di sana. Aneka perbekalan dibawanya. Beliau pulang ke rumah isteri pertamanya, Khadijah bint Khuwailid, tatkala perbekalannya habis. Lalu pergi lagi ke Gua Hira.

Hingga suatu ketika, putera Abdullah dan Aminah itu dikagetkan oleh datangnya wahyu Allah Swt melalui “sosok” yang sama sekali tak dikenalinya. “Bacalah!” perintahnya. “Aku tak bisa membaca,” jawab Muhammad gemetaran.

“Sosok itu memelukku erat, hingga aku kepayahan. Ia kemudian melepaskanku,” ceritanya. “Bacalah!” pinta sosok itu lagi. “Aku tak bisa membaca!,” jawabnya sama.

“Sosok itu memelukku untuk kedua kalinya. Dan lagi-lagi aku kepayahan. Aku dilepaskannya lagi,” kisahnya. “Bacalah!” pinta sosok misterius itu untuk ketiga kalinya. “Aku tak bisa membaca!,” jawabnya juga untuk yang ketiga kalinya.

Muhammad lalu dipeluknya untuk yang ketiga kalinya. Kemudian sosok itu membacakan Qs. al-Alaq: 1-5, ayat pertama yang diturunkan dalam sejarah nuzul al-Qu’ran. Ada yang mengatakan ini terjadi pada Ramadhan.

Dengan kekagetan yang sangat dan badan yang menggigil gemetaran, Muhammad buru-buru kembali ke rumah isterinya, Khadijah. “Selimutilah aku! Selimutilah aku!,” pintanya. Isterinya yang kaya raya itu menyelimutinya dengan penuh kasih-sayang, hingga ia benar-benar tenang.

“Wahai Khadijah, apa yang terjadi padaku?” tanyanya. “Aku takut atas diriku,” imbuhnya.

“Tenanglah! Berbahagialah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, karena engkau senantiasa menyambung persaudaraan, berkata benar, mengayomi yang lemah, juga membela kebenaran,” terang Khadijah menghibur.

Khadijah lantas mengajak suaminya, Muhammad, menemui sepupunya, yakni Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abd al-‘Uzza bin Qushay. Ia seorang Nashrani taat, yang menuliskan beberapa informasi Injil dalam bahasa Arab. Waraqah yang seorang rahib (pendeta) itu telah berusia lanjut dan buta matanya.

“Hai putera pamanku, dengarkan kisah putera saudaramu!,” pinta Khadijah.

“Hai putera saudaraku, apa yang kau lihat?” tanya Waraqah. Muhammad lalu menceritakan detal-detail peristiwa yang belum pernah dialami sepanjang hidupnya dan sungguh menggetarkan jiwa raganya.

“Inilah al-namus yang diturunkan pada Musa. Andaikan saja aku masih muda lagi kuat dan masih hidup ketika kaummu kelak mengusirmu,” harapnya.

“Apakah mereka akan mengusirku?”

“Ya! Tak seorangpun yang datang membawa apa yang engkau bawa, kecuali diusir kaumnya. Andaikan saat itu aku masih ada, niscaya aku akan membantumu,” katanya.

Peristiwa yang terjadi pada 610 M, ketika Muhammad berusia 40 tahun, ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim. Dinukil ulang oleh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj (XV/700-701). Inilah titik awal dan babak baru kerasulan Muhammad.

Dari peristiwa inilah, sesungguhnya Islam yang membawa kerahmatan bagi alam semesta hadir. Dari peristiwa inilah, masyarakat dunia mendapatkan nilai-nilai luhur kemanusian. Dan dari peristiwa inilah, penghargaan pada keragaman diagungkan. Inilah makna penting tonggak kerasulan Muhammad, sebagai utusan Allah Swt yang pamungkas (Qs. al-Ahzab: 40).

Yang menarik, sesaat setelah menerima wahyu ayat al-Qur’an di Gua Hira itu, oleh Khadijah, Muhammad diajak sowan menemui Pendeta Waraqah bin Naufal untuk berkonsultasi. Justru seorang Nashrani tulen yang dimintainya nasihat. Sebagai ahli Injil, Waraqah mengabarkan, bahwa Muhammad telah menerima mandat kerasulan secara resmi dari Allah Swt, seperti yang pernah diterima oleh Musa melalui al-Namus (Malaikat Jibril).

Apa makna konsultasi kerasulan ini? Maknanya, adalah tiadanya jarak antara Muhammad dan penganut Nashrani itu. Nyatanya Muhammad sama sekali tidak mempersoalkan latar belakang agama atau keyakinan Waraqah. Ia begitu cair dan nyaman. Tak hanya itu, ia juga mempercayai sepenuhnya apa yang disampaikan oleh Waraqah, termasuk akan diusirnya kelak oleh kaumnya.

Dan Waraqah, berdasarkan pembacaannya yang mendalam pada kitab sucinya, telah memahami dengan baik peristiwa pilu yang akan menimpa utusan Allah Swt itu. Karenanya, itulah yang dikabarkannya dengan jujur.

Keakraban dan kesalingpercayaan seperti inilah yang semestinya dikedepankan oleh kita (baik umat Islam maupun selainnya) sebagai pengikut keduanya. Bahkan, ketika Muhammad masih beliau dan sering diajak oleh kakeknya, Abdul Muthallib, berniaga ke Syam, Pendeta Buhairah-lah yang menginformasikan tanda-tanda kenabiannya.

Jika orang-orang baik itu saja saling menyapa dan berkonsultasi, dengan begitu akrabnya, mengapa kita tidak melakukannya?[]

 

Facebook Comments