Pancasila dan Retaknya Ruang Publik Kita

Pancasila dan Retaknya Ruang Publik Kita

- in Suara Kita
69
0

Pancasila di tengah tantangan yang sangat serius: retaknya ruang publik. Laju perkembangan teknologi informasi seharusnya menjadikan Pancasila sebagai basis kemajuan peradaban bangsa, tetapi fakta akhir-akhir ini mengabarkan ruang publik makin retak dan Pancasila juga mengalami keretakan. Terbukti berbagai pertentangan ideologis justru menjadi bahan tertawaan di berbagai media sosial. Pancasila seolah kehilangan kesaktiannya, karena bahan tertawaan dan olokan anak bangsanya sendiri. Kontroversi film G30S hanya sekelumit episode ihwal Pancasila yang jadi olokan anak bangsa. Bisa jadi ini membuat Bung Karno menangis!

Ruang publik kita sekarang dipenuhi ujaran kebencian. Ujaran kebencian di ruang publik selain menumpulkan nalar, tetapi juga mendatangkan konflik sosial. Ruang publik menjadi menakutkan, karena manusia sudah hilang rasa percaya dengan sesama. Teologi kasih sayang sudah digadaikan dengan kepentingan sesaat, yang ditampilkan justru kebencian, kekerasan, dan menghakimi orang lain.

Suburnya gerakan radikalisme menjadi tanda bahwa ruang publik dipenuhi gerak terorisme yang mengancam. Radikalisme menjadi epifeni terburuk paling tragis yang terjadi di langit milenium abad ke-21 sekarang ini. Hampir manusia sejagat disibukkan dengan gelombang terorisme yang terus menyeruak hampir di sekujur tubuh benua di dunia ini. AmerikaSerikat (AS) menjadi negara pertama yang terlibat paling serius dengan skandal dan tragedi terorisme.Tragedi 11 September 2001 menjadi tonggak hadirnya terorisme yang menggempur ruang public tanpa celah sedikitpun. Jaringan terorisme akhirnya menggelembung luar biasa, bukan saja AS yang waspada, tetapi seluruh manusia jagat raya terlibat keras untuk menghadang terorisme. Tak terkecuali Indonesia yang mendapatkan serangan bertubi-tubi para teroris. Indonesia sungguh amat rawan, karena tragedi terorisme selalu datang menghantui publik.

Arundhati Roy dalam Power Politics (2001: 131) menjelaskan bahwa isu terorisme bukanlah tentang kebaikan melawan keburukan, atau Islam melawan Kristen, melainkan tentang perang memperebutkan ruang publik. Isunya mengenai mengakomodasi keberagaman, mengenai pemenuhan hasrat hegemoni, baik ekonomi, militer, bahasa, agama, maupun budaya. Ekologis manapun akan memberitahu kita mengenai bahaya dan rapuhnya sebuah kultur tunggal. Dunia hegemonic itu laksana pemerintah tanpa oposisi sehat. Ia menjadi sejenis rezim dictator. Ibaratnya menaruh dunia tanpa kantong plastik sehingga memutus pernafasan. Suatu ketika, kantong plastik itu akan pecah.

Kultur tunggal yang hegemonic yang dipegang kaum teroris merupakan akibat “ulahnakal” yang diagungkan dunia modern. Globalisasi selain menyeberangkan cita-cita (migration of dream), globalisasi juga menyeberangkan tragedi (migration of nightmare). Walaupun awalnya teroris memenggema di AS dan Afghanistan, tetapi karena kultur global yang tunggal, akhirnya terorisme juga hadir bukan saja ruang geografis yang terbatas, melainkan melampaui struktur geografis yang dihuni penduduk bumi. Efek domino politik menjadikan mereka mendapatkan akases politis yang luar biasa di berbagai belahan  dunia. Karena mendapatkan serangan yang juga hegemonic dari AS, kaum teroris akhirnya juga menjadi isu global yang mengancam seluruh penduduk dunia.

Teroris memang sedang menempuh jalan tragis dalam hidupnya. Selalu saja ada klaim kebenaran yang dilancarkanu ntuk melegitimasi kebiadaban kaum teroris. Sebagai pelaku, dalih agama selalu dilekatkan dalam gerakan mereka. Sementara kalau dilihat dari sisi korban, terorisme sama sekali bukanlah berdalih agama, karena merupakan jihad yang membabi-buta. Ini justru melanggar doktrin agama. Bagi korban, terorisme jelas merupakan tragedi kemanusiaan yang harus dijauhi dan berantas oleh Negara bersama dengan masyarakat.

Berkaca kepada Bung Karno

Di tengah retaknya ruang publik, anak bangsa ini harus berkaca kembali kepada Bung karno. Sepanjang hayatnya, Bung Karno berdiri tegak di tengah pergulatan ideologi yang bertarung dalam merumuskan ideologi negara. Ada kaum nasionalis, islamis dan komunis. Ketiga kelompok ini justru dijadikan Soekarno sebagai potensi besar untuk membangun Indonesia. Makanya, ia merumuskan Pancasila untuk menggandeng ketiganya dalam merumuskan Indonesia. Terbukti, Pancasila sampai kini menjadi kesepakatan bersama, final, bagi ideologi negara. Semua bisa berdiri sejajar dalam bingkai Pancasila dan NKRI. Peristiwa itu terjadi pada 1 Juni 1945, saat para pendiri bangsa melakukan sidang dalam Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Dalam dunia internasional, Bung Karno mampu menjadikan Indonesia sebagai pelopor bersatunya negara Asia dan Afrika. Kesuksesan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955, membuat kaum imprealis saat itu ketakutan. Keberanian Sukarno dalam aksi Ganyang Malaysia, perebutan Irian Barat, pengutukan Amerika Serikat dan Inggris, bahkan menyatakan keluar dari keanggotaan PBB saat itu, sangat membantu Indonesia dalam meneguhkan dirinya sebagai negara yang berdaulat. Sehingga Sukarno semakin dicintai oleh rakyatnya, disamping menjadi salah satu daftar hitam pemimpin dunia bagi AmerikaSerikat.

Tak bisa dipungkiri bahwa Soekarno merupakan cermin keteladanan bagi generasi bangsa ini. Indonesia di tengah pergulatan abad ke-21 ini mestinya bergerak dengan keteladanan para pendiri bangsa, termasu Soekarno. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan yang dimilikinya, Soekarno telah mampu membuktikan dirinya sebagai Bapak Bangsa. Yang bagi dirinya sendiri, perjuangan itu tidak adam atinya, revolusi itu tidak pernah berhenti, sehingga sudah menjadi keharusan bagi setiap anak bangsa untuk ikut serta dan menjadi bagian dari perjuangan, pembangunan, dan revolusi.

Menurut Prof. dr. Soetaryo (2008), ajaran dan pemikiran Soekarno sangat relevan bagi Indonesia dalam meneguhkan kembali Pancasila. Inikarena; pertama, NKRI adalah Negara besar, dan kedua, Indonesia saat ini tengah dihadapkan pada “VOC wajah baru”, yakni neoliberalisme danfundamentalisme pasar. AjaranSoekarno pun ia pahami bukan hanya sebagai ajaran yang tanpa dasar, melainkan merupakan ajaran yang ilmiah karena memiliki dimensi  ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Saatnya bangsa Indonesia mampu menggali demokrasi yang dibangun melalui perjuangan di masa revolusi. Di samping itu, bangsa Indonesia harus mau menjiwai kembali internasionalisme yang selalu diagungkan Soekarno agar Indonesia mampu “berbicara” banyak di pentas dunia. Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus dirumuskan kembali dalam kesadaran nasional kita, sehingga bangsa ini kembali menjiwai falsafah bangsa yang lahir dari nilai luhurnya sendiri. Itulah yang selalu didengungkan Soekarno untuk membangun Indonesia yang berdikari (berdiri dengan kaki sendiri).

Facebook Comments