Pentingnya Dakwah Santun di Ruang Publik Virtual

Pentingnya Dakwah Santun di Ruang Publik Virtual

- in Suara Kita
137
1

Penetrasi media sosial membuat pola hubungan manusia berubah dan menghilangkan sekat-sekat yang dulu ada. Tak terkecuali dalam hal ruang privat dan ruang publik. Hampir-hampir tidak ada batas lagi, mana dunia privat, tempat eksklusif yang pihak lain tidak bisa masuk; dan mana dunia publik tempat berinteraksi dan berdealektika bersama.

Kasus video Ustad Abdul Somad (UAS) yang bilang ada “jin kafir” dalam Salib adalah contohnya. Video itu viral dan menimbulkan perdebatan panjang. Pro-kontra, hujatan, cacian, dan ujaran kebencian antar dan antara pemeluk agama bak bola salju, menggelinding semakin membesar. Sebagian pihak mengganggap itu adalah penghinaan atas simbol agama tertentu. Sebagian lagi berkomentar, UAS berceramah di ruang privat, jadi tidak termasuk penghinaan.

UAS membela diri bahwa video itu tidak memenuhi unsur penghinaan agama, sebab ia ceramah dalam ruang privat, bukan dalam ruang publik. Selain itu, saya ceramah untuk menjawab pertanyaan, bukan dalam membahas khusus agama lain. Lagian ceramah itu sudah tiga tahun lalu, tambahnya. Perdebatan itu semakin mengalir, membanjiri lini media sosial, sebab pada akhirnya UAS tidak mau minta maaf dengan argumen teologis sambil mengutip ayat Al-Quran.

Dari peristiwa video UAS, setidaknya ada dua pelajaran penting yang perlu dikaji terutama dalam konteks dunia digital sekarang ini. Pertama, soal gaya dakwah, kedua tentang  perubahan lingkup ruang publik. Kedua poin ini penting, sebab manusia hidup dengan latar belakang yang berbeda, agama, budaya, dan tradisi masing-masing.

Baca Juga : Revitalisasi Dakwah Profetik Virtual

Dakwah agama (apapun itu!) perlu disampaikan dengan cara-cara terbaik yang tidak melukai hati agama lain. Ruang publik seharusnya diisi dengan narasi positif-rasional yang bisa diterima oleh semua tanpa mecederai rasa dan hati agama atau tradisi golongan lain. Dengan konteks inilah, kita perlu  merekonstruksi gaya dakwah agama di era virtual sekarang ini.

Pentingnya Dakwah Santun

Di sebagaian pemeluk agama –untuk tidak mengataka seluruhnya—masih ada logika bahwa dakwah santun, sejuk, adem, damai, dan toleran hanya perlu di ruang publik. Sementara di ruang privat, kita boleh kok eksklusif, merasa paling benar sembari menyalahkan agama dan keyakina orang lain. Logika ini tentu perlu ditinjau ulang kembali. Sebab batasan mana ruang privat dan mana ruang publik sekarang tipis sekali, bahkan hampir tak bisa dibedakan. Boleh jadi, yang dulu dianggap ruang privat, dalam konteks sosial media, digital, dan gemerlap informasi justru bisa dikonsumsi oleh khalayak umum.

Dalam konteks ini, dakwah dengan cara-cara menegasikan agama lain, membandingkan  agama kami dan agama mereka sembari menegasikan keyakinan orang lain perlu ditinggalkan, baik oleh pemeluk agama terlebih penganjur agama. Dakwah dengan cara-cara ahsan (paling baik) tidak bisa tidak, harus disemarakkan.

Dakwah ahsan adalah dakwah santu, merangkul, menyebarkan kebenaran tanpa melukai dan menyalahkan pihak lain. Dakwah ahsan bisa menjadi jalan keluar. Menyebarkan kebenaran agama yang kita anggap benar, tetapi tidak menyalahkan kebenaran agama lain. Menyerukan keagungan Tuhan yang kita sembah, sembari tidak mencaci-maki Tuhan dan sesembahan agama lain. Mengajak dengan doktrin dan dogma agama yang kita ikuti, pada saat yang sama tidak mengatakan sesat dan kafir kepada doktrin dan dogma agama orang lain. Semua ini adalah kerja-kerja dakwah ahsan yang penuh kesantunan.

Ini penting dilakukan, sebab dakwah sekarang sudah bisa diakses oleh semua pihak. Pernyataan, jawaban, fatwa, dan nasihat yang diucapkan oleh tokoh agama tidak lagi dikonsumsi oleh pemeluk agama tertentu saja, melainkan bisa didengarkan oleh pemeluk agama lain. Sekalipun tokoh agama ceramah di tempat eksklusif agamanya, tetapi melalu rekaman itu bisa didengarkan penganut agama lain.

Dengan Fecabook, Youtube, Instagram, Twitter, dan sebagainya, ceramah atau khubat agama menyebar kemana-mana, tidak berhenti hanya pada komunitas agama tertentu saja. Kita tidak bisa lagi mengatakan, “Itukan ceramah khusus agama kami, mengapa agama lain curi-curi dengar. Salah mereka sendiri!” Sebab, zamannya sekarang adalah era keterbukaan, kita hidup dalam ruang yang taka da sekat-sekat lagi.

Dakwah dengan cara provokasi, mencaci-maki, memfitnah, dan menegasikan yang lain sejatinya bukanlah dakwah. Agama apapun selalu mengajarkan, bahwa misi agama harus disampaikan dengan cara-cara terbaik (ahsan). Cara terbaik itu ukurannya adalah ketika pihak lain merasa nyaman dan tidak terusik dengan isi ceramah yang disampaikan.

Facebook Comments