Piala Dunia Qatar 2022 : Memperkenalkan Islam Rahmat dan Dialog Antar Budaya

Piala Dunia Qatar 2022 : Memperkenalkan Islam Rahmat dan Dialog Antar Budaya

- in Faktual
104
0
Piala Dunia Qatar 2022 : Memperkenalkan Islam Rahmat dan Dialog Antar Budaya

Saya begitu tertarik dengan Opening Ceremony World Cup Qatar 2022. Di mana, Morgan Freeman membangun sebuah pola komunikatif dengan Ghanim Al-Muftah tentang kondisi dunia yang semakin jauh dan berpecah-belah. Sebab, dalam pembukaan piala dunia 2022 ini, keduanya tidak banyak berbicara tentang persaingan atau-pun kompetisi, melainkan banyak berbicara tentang sebuah reputasi membangun (kebersamaan dan upaya saling mengenal) tanpa ada sentiment/stigmatisasi.

Dalam Opening Ceremony World Cup Qatar 2022, Morgan Freeman menyampaikan: “I remember even after hearing the call instead of seeing another way we dismissed it and demanded our own way and now the world feels even more distant and divide, how can so many countries, languages and cultures come together if only one way is accepted?”

Apa yang disampaikan oleh Morgan Freeman pada dasarnya menggambarkan realitas dunia barat yang mendominasi baik secara budaya dll yang dianggap sebagai (cara terbaik) dan membangun sentiment terhadap budaya Timur hingga dunia semakin jauh, berjarak dan terpecah-belah.    

Dari sinilah Ghanim Al-Muftah menegaskan bahwa Piala Dunia 2022 adalah ajang untuk bisa memperbaiki hubungan dunia untuk bisa saling memahami dan saling mengenal di tengah perbedaan budaya, bahasa dan bahkan agama. Menariknya, Ghanim Al-Muftah membacakan ayat suci (Qs. Al-Hujurat:13) tentang realitas umat manusia yang beragam untuk bisa saling mengenal satu-sama lain.

Pembacaan ayat tersebut pada dasarnya mencoba untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Islam bukan agama eksklusif, radikal dan tidak menerima perbedaan. Ghanim Al-Muftah meniscayakan satu kesadaran penting bahwa Islam adalah agama yang memiliki dasar nilai (membawa rahmat) bahwa perbedaan agama, suku, bahasa dan negara merupakan (rahmat/kehendak-Nya) untuk bisa saling mengenal satu-sama lain.

Bahkan yang menjadi daya tarik tersendiri, di sepanjang jalan dekat Stadion ada sebuah tulisan-tulisan tentang hadits Nabi yang berkaitan dengan kasih sayang, pentingnya saling memberi, untuk selalu mengucapkan perkataan yang baik agar tidak saling mencaci. Semua ini pada dasarnya menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang membawa rahmat, penuh kasih sayang dan menjadi satu kesadaran penting untuk menghapus stigma buruk tentang agama Islam.

Dari sinilah titik penting Piala Dunia 2022 yang mengupayakan semacam paradigma kohesi yang bisa membangun pola kesadaran negara di seluruh dunia akan nilai-nilai Islam yang penuh rahmat. Sebab, gelaran Piala Dunia 2022 ini tidak sekadar sebuah kompetisi melainkan ajang silaturahmi negara di seluruh dunia untuk mengupayakan kedamaian, kebersamaan, tanpa konflik perpecahan atau-pun stigma negatif terhadap keragaman agama atau-pun  budaya.

Masyarakat di seluruh dunia berkumpul menikmati sebuah pertandingan yang tidak biasa karena melibatkan seluruh negara untuk bertanding dalam ajang ini. Tentu yang kita dapatkan tidak sekadar sebuah proses untuk mengejar kemenangan. Sebagaimana dalam tema pembukaan dalam Piala Dunia 2022 ini, mampu membangun spirit penting sebuah tali kebersamaan untuk bisa saling kenal-mengenal sehingga dengan cara inilah kita bisa saling memahami, saling mengerti dan saling menghargai.

Sebagaimana dalam konteks agama Islam, gelaran Piala Dunia 2022 yang diselenggarakan di Qatar ini merupakan satu moment untuk membangun kohesi yang memperlihatkan nilai-nilai Islam yang penuh rahmat. Guna mengubur stigma negatif tentang ajaran Islam dan umat Islam akibat ulah kelompok radikal teroris itu. Sebab, dunia sepak bola tidak hanya tentang pesta olah raga tetapi (menyambung raga) diri untuk bisa saling mengenal dan saling memahami dan saling menghormati.

Facebook Comments