RAMADHAN, BULAN TOLERANSI DAN PERDAMAIAN

RAMADHAN, BULAN TOLERANSI DAN PERDAMAIAN

- in Suara Kita
1608
0

Ramadhan bulan penuh berkah, barokah, pengampunan, dan perdamaian. Karena pada bulan Ramadhan, seluruh umat islam di berlahan dunia melaksanakan puasa dan mengharap pengampunan dari allah, swt. Semuanya berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik dan memberikan yang terbaik untuk bulan Ramadhan ini. semuanya menghormati bulan Ramadhan.

Di bulan Ramadhan tertulis sejarah perdamaian dunia. Misal, indonesia merdeka pada tanggal 17 agustus 1945 bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 1364 H, walaupun tanggal hijriahnya masih mengandung kontroversi.  Al-Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad pada tanggal 17 bulan Ramadhan sebagai pedoman dan petunjukkan dalam menjalankan kehidupan bagi umat manusia. Pembebasan mekkah, yang dikenal dengan (fathu makka) terjadi pada tahun 630 M. bertepatan pada tanggal 10 Ramadhan 8 H dimana nabi Muhammad bersama 10.000 pasukan bergerak dari madina menuju makkah dan membebaskannya tanpa ada pertumpahan darah. Dan beberapa sejarah yang lain terjadi di bulan Ramadhan

Rentetan sejarah di atas menandakan bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan toleransi dan perdamaian.  Pada era kontemporer ini, toleransi dan perdamaian harus dimiliki dan aplikasikan oleh seluruh umat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan umat islam masa kini harus menjadikan toleransi dan perdamaian sebagai basis dalam menjalankan kehidupan khususnya di bulan Ramadhan. Aplikasi toleransi dan perdamaian ini dapat dilihat dari perbedaan penetapan awal puasa, jumlah rokaat tarawih, dan pelaksanaan idhul fitri yang berbeda-beda. akan tetapi ummat islam satu dengan yang lain tidak saling menghujat ataupun menyalahkan keyakinan orang lain. Hal ini menandakan bahwa perbedaan adalah rahmat, khususnya perbedaan di bulan Ramadhan, dengan menghargai keyakinan masing-masing untuk memulai berpuasa dan melaksanakan sholat tarawih dengan jumlah yang berbeda, ada yang 11 rokaat, dan ada pula yang 23 rokaat menandakan bahwa islam mencintai toleransi dan perdamaian baik bagi muslim sendiri maupun orang kepada orang lain yang berbeda keyakinan.

Pengalaman unik yang dialami penulis saat melaksanakan sholat tarawih di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dimana masyarakat muslim di sana melaksanakan sholat tarawih secara bersama-sama walapun memiliki keyakinan yang berbeda dalam jumlah rokaat sholat tarawih. Ada yang 11 rokaat dan ada pula yang 23 rokaat. Mereka berbaris dalam satu barisan dan melaksanakan sholat berjamaah. Bagi yang melaksanakan sholat tarawih 11 rokaat memisah diri dari barisan tanpa mengganggu kekhusyu’an orang yang melaksanakan sholat tarawih 23 rokaat. Sungguh indah pemandangan ini di mana bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, toleransi dan perdamaian.

Begitu juga perbedaan waktu berbuka puasa di suluruh dunia telah menjadikan Ramadhan itu unik, toleran, dan penuh dengan perdamaian. Misalkan di indonesia, lama waktu masyarakat muslim indonesia kurang lebih sekitar 13 jam/hari. Terhitung sejak jam 4:15 sampai dengan 17:30 masyarakat muslim Indonesia berpuasa dengan menahan makan dan minum dan hal yang membatalkan puasa selama waktu tersebut. Hal yang berbeda dialami oleh masyarakat muslim di Islandia, dimana siang hari lebih lama dari pada malam hari kurang lebih sekitar 22 jam. Jadi masyarakat muslim yang ada di sana harus menahan lapar, haus, dan hal yang membatalkan puasa lebih sepanjang waktu tersebut dan lebih lama dari pada di Indonesia. Begitu juga di Amsterdam, belanda. Masyarakat muslim yang ada disana harus berpuasa selama 19 jam. Sebaliknya. masyarakat muslim yang ada di Cili lebih berpuasa sekitar 9 jam 34 menit perhari dan cepat berbuka puasa dari pada di indonesia, karena di Cili lebih panjang malam dari pada siang hari. Pertanyaan mendasar adalah apakah masyarakat muslim di berbagai belahan dunia ini mengeluh dan tidak menjalankan puasa? Jawabannya adalah mereka menjalankan puasa dengan mengharap pengampunan dari Allah. Karena puasa merupakan kewajiban bagi seluruh umat islam di belahan dunia, tanpa terkecuali apakah mereka tinggal di daerah kutub utara, kutub selatan, banua Amerika, dan lain. Selain itu, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keiman dan mengharap ridha dari Allah, maka dosa-dosa yang sudah berlalu akan diampuni oleh allah (al-Hadist).

Dari gambaran di atas menandakan bahwa Ramadhan, selain bulan penuh berkah, pengampunan juga merupakan bulan penuh toleransi dan perdamaian. Walaupun berbeda dalam permulaan awal romadha, jumlah rokaat tarawih, toh sama-sama berbuasa, sama-sama melaksanakan sholat tarawih, sama-sama berbuka puasa, dan mengharap ridha dari Allah tanpa melihat ras, bahasa, dan aliran. Semuanya berlomba-lomba untuk meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan dengan mengaji al-Qur’an dan beri’tikaf di masjid. Hal ini manandakan bahwa Ramadhan, merupakan bulan pemersatu umat manusia di seluruh penjuru dunia. dengan Ramadhan ini, toleransi dan perdamaian dapat terus tertanam dari di seluruh umat manusia. Jika sifat toleransi dan perdamaian di atas diterapakan dalam kehidupan sehari-hari di luar bulan Ramadhan, maka ketenangan hidup akan dicapai. Semoga.

Facebook Comments