Saling Jaga Meski Beda; Belajar dari Banser Riyanto

Saling Jaga Meski Beda; Belajar dari Banser Riyanto

- in Tokoh
220
0
Saling Jaga Meski Beda; Belajar dari Banser Riyanto

Saban kali memasuki bulan Desember dan menjelang perayaan Hari Natal, ingatan kita tertambat pada peristiwa heroik yang terjadi pada tahun 2000 silam. Kala itu perayaan Natal diwarnai oleh kisah pengorbanan seorang anggota Barisan Anshor Serbaguna (Banser) bernama Riyanto. Kala itu, Riyanto bersama empat rekannya mendapat tugas menjaga malam perayaan Natal di Gereja Eben Haezar Mojokerto.

Siapa nyana, malam itu akan menjadi malam terakhir Riyanto. Ibadah misa malam natal baru separuh jalan. Jam menunjukkan pukul 20.30. Tiba-tiba ada seseoarang melaporkan bahwa terdapat bingkisan hitam mencurigakan di depan gereja. Riyanto sigap memeriksanya. Betapa terkejutnya ia mendapati di dalam bingkisan itu ada rangkaian bom.

Alih-alih menyelamatkan diri, Riyanto justu mendekap bingkisan itu sembari menyuruh semua orang bertiarap. Sejurus kemudian, bingkisan itu meledak. Tubuh Riyanto yang dibalut seragam Banser itu koyak. Riyanto gugur malam itu sebagai pahlawan.

Sebagaimana profil anggota Banser pada umumnya, Riyanto adalah sosok yang sederhana. Pria berusia 25 tahun itu berasal dari kalangan kelas menengah bawah dan tidak berpendidikan tinggi. Sehari-hari konon ia bekerja serabutan. Boleh jadi, ia tidak pernah kenal apa itu teori toleransi atau pluralism agama. Barangkali ia juga tidak paham betul apa itu koeksistensi antar-agama. Namun, ia menunjukkan dedikasinya bahkan berani berkorban untuk melindungi kelompok agama lain.

Toleransi Bukan Sekadar Wacana dan Retorika

Kisah Riyanto ini penting untuk kita ceritakan ulang. Bukan sebagai bentuk glorifikasi atawa romantisasi. Namun, sebagai sebuah pelajaran penting tentang komitmen untuk menjaga dan melindungi kelompok agama lain. Prinsip saling jaga meski berbeda itu nyata dipraktikkan oleh Riyanto tanpa mengumbar retorika dan wacana.

Diakui atau tidak, selama ini konsep toleransi kita masih berada di permukaan alias basa-basi. Di satu sisi, kita memang mengakui keberadaan kelompok agama lain. Namun, di saat yang sama kita kerap kali enggan untuk menunjukkan komitmen saling melindungi dan saling menjaga. Sebaliknya, kelompok mayoritas justru kerap unjuk kekuatan (show of power) untuk menekan kaum minoritas.

Misalnya, kasus yang baru-baru ini terjadi ketika seorang Bupati Lebak, Iti Octavia yang melarang umat Nasrani melakukan ibadah Natal di wilayah Maja, Kabupaten Lebak, Banten. Ia meminta umat Kristen melakukan ibadah Natal di luar wilayah Maja. Kebijakan itu ia keluarkan dengan alasan adanya kesepakatan tertulis yang sebelumnya dikeluarkan oleh FKUB (Forum Kerukuan Umat Beragama).

Kasus ini sebenarnya bukan pertama dan satu-satunya. Kejadian serupa juga terjadi di Sumatera Barat. Setidaknya ada dua kabupaten di Provinsi Sumatera Barat dimana umat Kristen dilarang melaksanakan ibadah perayaan Natal. Dua kabupaten itu ialah Dharmasraya dan Sijunjung. Sama dengan yang terjadi di Lebak, Banten, pelarangan ibadah Natal di Sumatera Barat itu juga dipicu oleh tekanan kelompok-kelompok tertentu.

Intervensi perayaan Natal apalagi sampai terbitnya larangan, merupakan langkah mundur dalam kehidupan keberagamaan kita. Dua dekade lebih era Reformais bergulir, cita-cita demokrasi yang salah satunya ialah mewujudkan kebebasan beragama tampaknya justru kian jauh panggang dari api. Apa yang diidealkan terasa semakin jauh dari realita.

Pentingnya Toleransi di Tengah Arus Konservatisme-Radikalisme

Pasca Reformasi, konservatisme agama yang melatari praktik intoleransi dan kekerasan justru kian menguat. Sentimen perbedaan agama kian diperuncing kembali dengan naiknya sentimen politik identitas. Kita kembali dipecah-belah oleh narasi-narasi provokatif bernuansa kebencian terhadap liyan. Situasi itu lantas membuka celah bagi berkembangnya ideologi radikal.

Intoleransi dan radikalisme ibarat dua sisi mata uang yang mustahil dipisahkan. Intoleransi akan memicu suburnya radikalisme. Sebaliknya, radikalisme juga berbasis pada nalar intoleran dan kebencian. Sikap intoleran muncul dari perilaku pengabaian terhadap hak dan kebebasan entitas lain. Pengabaian ialah awal menuju tahapan selanjutnya yakni kebencian. Dan kita tahu, kebencian adalah akar semua kekerasan.

Kaum radikal akan selalu membonceng isu publik yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan gejolak. Termasuk isu polemik perayaan Natal yang saban tahun menuai perdebatan. Ada kelompok yang mengkafirkan muslim yang mengucapkan selamat Natal. Ada kelompok yang sibuk melakukan sweeping simbol Natal di ruang pubik. Ada pula kelompok yang menghalang-halangi ibadah Natal. Di balik fenomena itu, ada kelompok radikal yang tertawa girang merasa tujuannya tercapai.

Kemajemukan tidak bisa dihadapi dengan sikap apatis, apalagi pasif. Toleransi tidak boleh berhenti pada sikap menghormati dan menghargai. Toleransi harus mewujud ke dalam sikap menjaga dan melindungi. Toleransi yang hakiki ialah ketika kita berkomitmen untuk bersikap adil dan memposisikan liyan dengan setara serta menjamin haknya terpenuhi. Dari anggota Banser Riyanto kita belajar bagaimana teori toleransi itu diejawantahkan ke dalam sebuah aksi nyata. Ia rela menjadi martir untuk melindungi kelompok yang berbeda.

Facebook Comments