Waisak dan Keberagamaan yang Membahagiakan

Waisak dan Keberagamaan yang Membahagiakan

- in Narasi
36
0
Waisak dan Keberagamaan yang Membahagiakan

Suatu kali, seorang biksu asal Australia bernama Ajahn Brahm ditelepon oleh seorang wartawan. Ia menanyakan, apa yang akan biksu itu lakukan jika ada orang yang merobek kitab suci agama Budhha lalu membuangnya ke toilet. Pertanyaan jurnalis itu merespons kejadian menggemparkan di Amerika Serikat ketika ada tentara yang tanpa sengaja membuang kitab suci agama tertentu ke toilet.

Tidak disangka, bukannya menunjukkan jawaban yang berkonotasi marah, Ajahn Brahm justru menjawab, “jika ada seseorang merobek kitab suci agama saya dan membuangnya ke toilet, maka saya akan segera memanggil petugas kebersihan agar saluran WC tidak mampet. Sang jurnalis pun tertawa mendengar jawaban biksu tersebut.

Jawaban Ajahn Brahm itu patut direnungkan ulang, terutama di tengah maraknya fenomena umat beragama yang mudah marah dan gemar mengumbar sikap arogan bahkan intoleran terhadap umat agama lain. Kian ke sini, kita semakin sering melihat umat beragama yang reaksioner, mudah tersinggung, dan mengumbar tindakan persekusi.

Ketika ada umat agama lain melontarkan kritik, maka akan segera dicap sebagai penistaan agama. Padahal, bisa jadi kritik itu benar. Ketika ada umat beragama lain yang mengekspresikan keimanan di ruang publik, maka segera akan dihalangi karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Pola keberagamaan yang demikian itu membuat agama seolah menjadi menakutkan. Padahal, beragama itu seharusnya membahagiakan.

Beragama akan menjadi sesuatu yang membahagiakan bagi diri sendiri dan sesama ketika umat beragama telah sampai pada hakikat pemahaman tertinggi atau terdalam dari agama yang diyakininya. Jawaban Ajahn Brahm yang jauh dari tendensi kebencian dan balas dendam itu menunjukkan kualitasnya dalam memahami ajaran Budhha, agama yang dianutnya.

Meneladani Sang Buddha dalam Keseharian

Iwan Setyawan dalam kolomnya berjudul “Waisak Adalah Keseharian” yang terbit di harian Kompas menyebutkan bahwa menjadi seorang Budhhist itu bukan saja mengimani ajaran Budhha Gautama, namun juga meneladani perilaku hidupnya dalam keseharian. Pernyataan ini senada dengan gagasan filosof eksistensialis Martin Heideger yang menyatakan bahwa spiritualitas atau agama itu idealnya menjadi pedoman laku hidup sehari-hari.

Gagasan “agama sebagai keseharian” sebagaimana dipopulerkan oleh Heideger ini mudah diucapkan, namun sulit dipraktikkan. Nyatanya, umat beragama kita lebih mudah memamerkan kesalehan beragama yang sifatnya simbolik, namun acapkali gagal mengejawantahkan ajaran agama dalam kehidupan keseharian. Konkretnya, banyak orang hari ini yang dari luar tampak sangat relijius, namun perilakunya justru bertentangan dengan nilai keagamaan.

Maka, alih-alih menciptakan kehidupan yang harmonis dan membahagiakan, perilaku keagamaan jutru kerap melatari munculnya tindakan kekerasan. Jika merujuk pada ajaran Budhha, jalan meraih kebahagiaan itu adalah dengan jalan melepaskan segala hasrat, keinginan, dan kehendak yang membelenggu dan memperbudak jiwa alias menimbulkan kesengsaraan.

Rumus sederhana yang diajarkan Sang Budhha adalah semakin banyak manusia memiliki keinginan atau hasrat, maka akan semakin dipenuhi hidupnya dengan samsara atau penderitaan. Sebaliknya, orang yang berhasil lepas dari samsara dengan membuang segala hasrat itu akan meraih jalan menuju nirwana alias kebahagiaan sejati.

Melepas Hasrat Arogansi Beragama

Kata hasrat atau keinginan tentu memiliki tafsir yang luas dan kontesktual. Di masa lalu, hasrat atau keinginan itu mungkin hanya sebatas kebutuhan biologis, seperti makan, minum, berhubungan seksual, dan sejenisnya. Semakin berkembangnya zaman, tafsiran terhadap hasrat atau keinginan pun berkembang. Hasrat tidak hanya merujuk pada kebutuhan biologis, namun juga kebutuhan psikologis dan sosiologis.

Misalnya hasrat narsistik seperti nafsu ingin dikenal, dihormati, bahkan dipuja. Juga keinginan yang bersifat eksistensialistik, yakni hasrat untuk selalu diakui oleh orang lain. Dalam beragama, hasrat atau keinginan yang mendatangkan samsara itu mewujud pada perilaku beragama yang ingin dianggap paling benar atau suci dan merasa harus lebih dominan ketimbang agama lain.

Hasrat menjadi dominan dan superior itu lantas menjerumuskan umat beragama pada perilaku samsara. Seperti tindakan intoleransi, bahkan persekusi. Umat beragama yang gemar melakukan tindakan intoleran dan persekusi itu dipastikan hidupnya tidak akan pernah bahagia. Hatinya diselimuti kegelisahan, kekhawatiran, ketakutan, dan kecemasan yang berujung pada kebencian.

Maka, jika kita ingin beragama secara bahagia, kita harus melepaskan hasrat untuk menjadi paling benar/suci dan hasrat menjadi paling dominan atau superior. Kita harus melepaskan hasrat untuk harus selalu dihormati dan diakui oleh kelompok lain. Perayaan Waisak ini kiranya bisa kita jadikan momentum untuk melepaskan segala hasrat arogansi dan intoleransi dalam beragama.

Dalam tradisi Budhha, seseorang yang mendapatkan atau mengalami pencerahan itu tidak harus selalu merasakan pengalaman spiritual yang luar biasa. Ketika seseorang bisa menjadi manusia yang melakukan kebaikan setiap hari, itu sudah dianggap mendapatkan pencerahan. Kebaikan yang dilakukan secara konsisten akan mendatangkan kebahagiaan.

Facebook Comments