Warisan Walisongo Untuk Muslim Indonesia (Bag 2)

Warisan Walisongo Untuk Muslim Indonesia (Bag 2)

- in Keindonesiaan
2320
0

Strategi lain yang dipandang para sejarawan cukup efektif dalam proses Islamisasi Jawa adalah dakwah politik. Dalam menjawab pertanyaan sarjana Amerika, Marshal Hodgon, pengarang buku “The Venture of Islam”, tentang proses Islamisasi di Jawa yang begitu berhasil sempurna, Mark Woodward dalam bukunya “Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta” menjawab bahwa Islam oleh para penyebarnya, khususnya Wali Songo, telah berhasil dipeluk oleh kraton Jawa, sehingga seluruh rakyat mengikutinya.

Melalui tokoh Raden Fatah (putra Prabu Brawijaya V), Sunan Ampel (kemenakan permaisuri Majapahit), Sunan Giri (cucu Raja Blambangan), Sunan Kalijaga (putra Adipati Wilwatikta) dan lainnya, Islam masuk ke lingkungan kerajaan. Ini berbeda dengan di Asia Selatan, di mana proses Islamisasi mengalami benturan hebat karena berhadapan dengan para bangsawan secara frontal.

Budaya dan Tata Nilai Warisan Walisongo untuk Peradaban Nusantara

Selain metode dakwah, masih banyak warisan lain dari Walisongo yang turut membentuk peradaban Islam Nusantara. Diantaranya adalah sebagai berikut:

A. Pranata Sosial dan Nilai

Seperti lazimnya dakwah Islam di tempat lain, Islamisasi di Jawa juga mendorong perubahan tata nilai di wilayah yang dimasukinya. Salah satu tata nilai yang paling mendasar yang diusung oleh Islam adalah kesetaraan setiap manusia di hadapan Allah, dan hanya ketakwaan yang menjadi tolak ukur kemuliaan. Sebagai daerah yang semula menganut agama Hindu, masyarakat Jawa telah terbiasa dengan sistem Kasta Parsial yang mengkotak-kotakkan mereka. Sekurangnya ada empat kasta yang hidup di tengah masyarakat: Brahmana (agamawan), Ksatria (bangsawan), Waisya (warga biasa) dan Sudra (budak).

Bukan hal mudah mengikis tradisi kasta ini, terutama di kalangan bangsawan. Perjuangan penyetaraan umat manusia dan penghapusan perbudakan yang dilakukan walisongo pun akhirnya masih harus menerima kompromi dalam beberapa hal. Misalnya meski sudah tidak terlalu tajam, namun sisa tradisi kelas masih terlihat dalam strata sosial muslim Jawa dengan pembagian : Ulama (agamawan), Ningrat (Bangsawan) dan Rakyat jelata.[1]

Kelas ini kembali terbagi ketika penjajahan dimulai. Rakyat jelata yang baru saja menikmati hilangnya strata Sudra di masyarakat kembali menjadi seperti budak di tangan para penjajah. Bedanya, kali ini ulama dan sebagian bangsawan berada di pihak mereka, menjadi pengayom dan pelindung mereka dari kekejaman penjajah, sekaligus motor perlawanan melawan penjajah..

B. Tradisi Keagamaan Champa

Bersamaan dengan datangnya kalangan agamawan dan migrasi besar-besaran umat Islam dari Champa ke Nusantara akibat negeri Champa diinvasi oleh Vietnam, ikut terbawa pula tradisi keagamaan dan budaya Champa ke tanah air. Baik yang masih bercorak timur tengah, maupun yang sudah berasimilasi dan berakulturasi dengan budaya lokal. Di antara tradisi yang terbawa tersebut itu adalah[2] :

  • Tradisi peringatan hari ke-3, 7, 10, 30, 40, 100 dan 1000 kematian yang diisi dengan berdoa bersama.
  • Kepercayaan terhadap hantu, dan alam jin
  • Panggilan “emak” untuk ibu, “Kak” dan “Dik” untuk saudara kandung, “eyang” kepada harimau.
  • Acara selamatan atau kendurian pada momen-momen yang dianggap penting atau sakral

C. Kesenian dan budaya[3]

Peninggalan Walisongo paling banyak barangkali dalam khazanah kesenian dan kebudayaan, selain merupakan asimilasi dari budaya lokal juga sangat kental diwarnai tradisi tasawuf. Di antara peninggalan-peninggalan tersebut antara lain seni wayang purwo yang lakonnya telah diislamisasi, tembang dolanan anak, bedug di masjid, gamelan dan sebagainya.

Jejak tradisi sufistik juga terlihat dalam kesenian Debus di Banten, sekatenan di Solo dan Jogja, serta berbagai serat, suluk, tembang serta primbon Jawa yang diadaptasi dari berbagai kitab tasawuf. Juga dalam seni bangunan, yang menggabungkan tradisi arsitektur jawa dengan memberi filosofi Islami, seperti Masjid Demak yang atapnya berundak tiga, dan tata letak bangunan utama pemerintahan yang terdiri dari alun-alun, masjid agung dan pendopo.

D. Sistem Pendidikan Pesantren

Sering muncul pertanyaan dari mana asal sistem pendidikan pesantren? Puluhan –bahkan mungkin ratusan— peneliti, baik orientalis Barat maupun Timur dan lokal, mendatangi pesantren untuk mencari jawabannya.

Banyak versi yang dikemukakan para peneliti dan penulis kepesantrenan, tentang asal muasal bentuk pendidikan ala pesantren. H.J. De Graaf dan Th.G. Pegeaud misalnya, menduga bahwa pesantren merupakan Islamisasi dari dua bentuk pendidikan kuno di Jawa oleh Walisongo, yakni Mandala dan Ashram[4]. Belakangan pendapatan yang sama juga dikemukakan Ahmad Baso, penulis serial Pesantren Studies yang mendasarkan pendapatnya pada Kitab Tantu Panggelaran.[5]

Ada juga pendapat orientalis lain seperti F. Fokken dan B.J.O. Schrieke yang menduga pesantren berasal dari desa-desa perdikan yang oleh raja dibebaskan dari pajak dengan kompensasi tugas mandat tertentu seperti menjaga makam keramat atau mengajarkan agama. Namun pendapat terakhir diragukan oleh Martin mengingat dari 211 desa perdikan di Jawa pada abad 19, hanya ada empat desa yang di dalamnya terdapat pesantren yang dihidupi oleh penghasilan desa. Sementara sebagian besar pesantren lainnya tidak terkait dengan status desa perdikan tersebut.

Para peneliti barat menduga lembaga pesantren seperti yang ada di abad 19-20 belum ada di awal-awal masuknya islam di Nusantara, bahkan hingga abad ke-17 di Jawa dan abad 18 di Kalimantan dan Sulawesi. Pesantren pertama yang paling lengkap perangkat, besar dan representatif yang tercatat oleh orientalis adalah Pesantren Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur. Pesantren inilah yang diyakini menelurkan alumni yang kemudian menduplikasi sistem pesantren Tegalsari di berbagai tempat, baik daerah asalnya maupun daerah lain tempat mereka berhijrah mendakwahkan agama.

Mungkin yang dimaksud oleh para peneliti barat tersebut adalah pesantren dalam bentuk dan perangkat pengajaran yang komplit dengan standar minimal Pesantren Tegalsari Ponorogo, Jawa Timur di abad 18-19. Sebab Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo-nya sudah menyebut-nyebut Pesantren Syaikh Quro’ di Karawang yang hidup di abad 14 dan Pesantren Syaikh Datuk (Datul) Kahfi di sekitar Gunung Jati dan Gunung Sembung Cirebon pada awal abad 15, yang diantara santrinya antara lain Pangeran Walangsungsang dan Dewi Lara Santang, putri Prabu Siliwangi dari Putri Subanglarang (santri Syaikh Quro’), Pesanren Ampeldenta-nya Sunan Ampel dan sebagainya.[6]

  • 1. Agus Sunyoto Agus Sunyoto, Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta       Sejarah, Pustaka Ilman, Depok, 2012. hlm. 347
  • 2. Ibid, hlm. 370
  • 3. Ibid, hlm. 374
  • 4. Martin Van Bruinessen, Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, Mizan, Bandung, Cet. Ke-3, 1999. hlm 24.
  • 5. Lihat catatan kaki Ahmad Baso dalam buku Pesantren Studies seri 2a, Pustaka Afid, Jakarta 2012, halaman 61-62

 

 

Facebook Comments