Generasi Millenial Digital Natives, Mengisi Kemerdekaan di Ruang Virtual

Generasi Millenial Digital Natives, Mengisi Kemerdekaan di Ruang Virtual

- in Suara Kita
595
0

Buya Syafii Maarif pernah berujar bahwa kemerdekaan manusia yang sejati adalah kemerdekaan yang memberi manfaat sebesar-besarnya kepada sesama, tanpa diskriminasi, rasial, agama dan latar belakang sejarah. Dan di era kemajuan teknologi ini sudah sepatutnya spirit ini kita dengungkan baik di dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia maya manakala kita akses internet ataupun bersosial media (medsos).

Bangsa Indonesia beberapa waktu kedepan akan memasuki usia yang ke-73. Di usia yang bisa dikatakan tak muda lagi ini untuk ukuran manusia, tentu banyak setumpuk PR yang harus diselesaikan. Seperti yang kita pahami hingga detik ini Indonesia masih dibayangi mimpi buruk konflik permusuhan dan pertikaian yang tereduksi dalam sikap anti-Pancasila dan anti-Nasionalisme, terlebih manuver-manuver di dunia maya. Semboyan luhur Bhineka Tunggal Ika yang telah lama dicetuskan masih saja ada beberapa pihak yang berusaha merusak nilai-nilai luhurnya lewat konten-konten di portal online ataupun medsos.

 Sebagai generasi bangsa, penerus perjuangan dan pewaris kemerdekaan, generasi digital natives, yang literet akan teknologi, tentu tugas generasi muda ialah berusaha mengakses dan menyebarkan konten-konten positif dalam mengisi kemerdekaan ini, membumikan nilai-nilai mulia Pancasila yang diinternalisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan spirit kemerdekaan, mari kita kuatkan simpul-simpul persaudaraan kebangsaan untuk menyatukan langkah dalam mengisi kemerdekaan, membangun kemajuan dan perdamaian negara. Kita tentu sadar serpenuhnya, bahwa dalam menyambut HUT RI yang ke-73 ini tak hanya dalam bentuk seremoni upacara bendera atau dengan mengikuti berbagai macam perlombaan. Namun, lebih dari pada itu bagaimana bangsa ini memaknai esensi dari perayaan kemerdekaan ini, termasuk bagaimana merayakan kemerdekaan di dunia maya.

Perbedaan dalam kesukuan, ketidaksamaan dalam berbahasa, atau berbeda suku, etnis, maupun agama harus kita sikapi sebagai khasanah bangsa yang harus kita jaga dan kita bina, termasuk di dunia maya. Indonesia merupakan negara heterogen yang mengedepankan semangat kebersamaan. Walau bagaimanapun, kemerdekaan ini ialah hasil jerih payah para pahlawan dari berbagai lintas suku dan etnis. Jauh sebelum merdeka, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, seluruh perwakilan organisasi kepemudaan dari berbagai belahan nusantara juga bersatu padu mengikrarkan Sumpah Pemuda. Momen ini mampu menembus sekat-sekat perbedaan dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa dan menyuarakan Bhineka Tunggal Ika. Spirit inilah yang harus generasi millenial digital natives, untuk menyuarakan konten-konten positif perekat persatuan di dunia maya.

Sebagaimana kata bijak mengatakan, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Kita juga tahu dan menganalogikan, dengan satu lidi tak akan bisa membersihkan tumpukan sampah di halaman, akan tetapi dengan satu ikat lidi menjadi sapu akan bisa dengan cepat membersihkannya. Demikian juga bangsa Indonesia, kalau kita ibaratkan sampah itu adalah masalah, maka dengan persatuan dan kesatuan kita akan dapat menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang melanda negeri ini. Dan persatuan ini juga harus kita dengunkan di jagat maya, lebih-lebih para pemuda, generasi digital natives yang cinta damai, persatuan, dan kesatuan.

Selanjutnya, sikap toleransi antarumat beragama juga harus kita bumikan, termasuk di dunia maya Kata toleransi mungkin terkesan mudah diucapkan. Masyarakat sudah seharusnya sadar, bahwa kita harus hidup rukun. Mereka harus memiliki dorongan hasrat kolektif untuk bersatu padu. Karena sejatinya, sikap toleransi merupakan ciri kepribadian luhur bangsa Indonesia yang harus kita jaga dan kita pupuk, baik dinunia nyata maupun di jagat maya.

Situasi Indonesia yang sedang dalam masa pembangunan ini, tentu toleransi antar bangsa dan umat beragama sangat penting. Toleransi yang dimaksud dalam hal ini ialah bukanlah toleransi statis yang pasif, melainkan toleransi dinamis yang aktif yang juga menyasar ruang-ruang digital. Apabila sikap toleransi ini dapat terwujud dan mampu diimplementasikan oleh masyarakat, maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang aman dan damai.  Mengingat dengan sikap toleransi maka perbedaan suku, ras, dan budaya tidak menjadi persoalan. Meski berbeda kita harus selalu gotong royong membangun negeri ini.

Oleh karena itu, melalui spirit kemerdekaan ini sekali lagi ditegaskan bahwa negara Indonesia dibentuk dari berbagai macam suku, budaya dan bahasa. Bangsa ini ada karena perbedaan. Dalam menyikapi perbedaan itu, kita sebagai bagian bangsa Indonesia, harus menjunjung tinggi semangat persatuan dan kesatuan dalam mewujudkan perdamaian dan kemajuan negara, termasuk di ruang virtual. Semua cita-cita itu dapat terlaksana jika seluruh elemen bangsa bersinergitas baik dalam kehidupan nyata, maupun bersosial media di dunia maya.

Facebook Comments