Hijrah dan Nasionalisme Nabi Muhammad SAW

Hijrah dan Nasionalisme Nabi Muhammad SAW

- in Suara Kita
162
0
Hijrah dan Nasionalisme Nabi Muhammad SAW

Di tengah realitas kota Makkah yang penuh dengan kekejaman, kezhaliman dan kebencian terhadap Nabi Muhammad SAW dan ajaran-Nya. Hingga membawa kesepakatan yang diajukan oleh Abu Jahal untuk membunuh Nabi pada saat tidur. Lalu beliau mendapatkan Wahyu dari Allah SWT untuk tidak istirahat. Sehingga beliau menyelinap pada malam hari, lalu dibutakan penglihatannya para pemuda-pemuda yang ingin membunuh Beliau. Pada saat itu Beliau bisa pergi. Karena tempat tidurnya digantikan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dari sinilah kekecewaan sekaligus amarah para kelompok Musyrikin Quraysh semakin membludak ketika gagal membunuh Nabi.

Pada saat Beliau hampir menjauh dari perbatasan Makkah, di sinilah letak kunci kecintaan beliau kepada tanah airnya. Sikap nasionalisme dalam diri beliau terhadap kota Makkah yang tegak menjulang sangatlah kuat dan membekas. Beliau memandang kota Makkah dengan kesedihan dan sambil mengucapkan: (Annaki Khayrun Ardillahi wa Ahabbu al-Ardi ila-Allahi, walaula Anna ahlaki Akrujuni Mingka ma Kharajtu) Artinya: “Sesungguhnya engkau wahai kota Makkah, adalah sebaik-baiknya bumi Allah SWT dan negeri yang paling dicintai oleh Allah SWT. Seandainya pendudukmu tidak mengusir aku niscaya aku tidak akan meninggalkanmu” (HR. al-Tirmidzi dan Al-Nasa’).

Nabi mengajarkan kepada kita semua tentang arti mencintai tanah airnya. Tempat bagaimana kita bisa lahir, berpijak, memakan dan meminum air bumi tersebut. Maka daya kewajiban itu harus mengarah kepada kesadaran untuk menjaga, melindungi dan merawatnya dengan baik. Sebagaimana Rasulullah SAW mengatakan sesuatu kepada kota Makkah berdasarkan kecintaannya terhadap tanah airnya.

Baca juga : Hijrah dari Imajinasi Fiktif Gerakan Khilafah

Maka sebetulnya tidak ada langkah lain selain beliau sebagai teladan beragama Islam yang baik sekaligus di dalam mencintai negaranya yang baik. Islam yang beliau amalkan tentang rasa kemanusiaan. Menebarkan rahmat dan kasih sayang. Dalam hal kenegaraan beliau begitu mencintai tempat dia bisa berpijak. Kesadaran nasionalisme beliau sebelum meninggalkan Makkah sejatinya perlu kita jadikan renungan. Bahwa betapa cintanya Rasulullah sebagaimana beliau hijrah ke Madinah juga membangun puncak kegemilangan kota yang penuh dengan kezhaliman dan perpecahan antar sekat-sekat suku-suku lalu disatukan dalam wadah persaudaraan dalam kebangsaan.

Keteguhan dan Kelembutan Hati Nabi dalam Berdakwah

13 tahun lamanya Nabi Muhammad SAW hidup di kota Makkah beserta pengikutnya yang kerap mendapatkan siksaan yang sangat zhalim dan pedih. Hak kemerdekaan mereka dirampas. Mereka diusir, dicaci dan harta benda mereka disita. Membayangkan ketika Bilal bin Rabah disiksa oleh Umayyah bin Khalaf, untuk meninggalkan agama-Nya. Namun Bilal tetap berpegang teguh dengan keimanannya.

Kesedihan akibat tindakan kekerasan yang dialami Nabi Muhammad SAW dapat dilalui dengan kesabaran dan kualitas keimanan yang baik. Tetapi penderitaan itu baru dirasakan ketika sang istri tercintanya Sayyidah Khadijah meninggal. Tidak lama duka itu kembali datang kepada Nabi ketika Pamannya Abu Thalib yang setia membela dan melindungi setiap ancaman kelompok musyrikin Quraysh telah meninggalkan beliau selama-lamanya. Sehingga tercatat dalam sejarah Islam yang dikenal sebagai tahun duka-cita amul huzni.

Pada kondisi yang semacam itu Nabi Muhammad SAW semakin mendapatkan intimidasi. Pada akhirnya beliau ke Taif sebagai harapan terakhir untuk mendapatkan dukungan penduduk sekitar. Bagaimana tempat waktu kecil beliau pernah disusui oleh seorang perempuan dari keluarga Bani Sa’ad yaitu ibunda Halimah al-Sa’diyah. Tetapi masyarakat Taif menolak dan merespons sangat keras Nabi Muhammad SAW.

Bahkan ajaran Nabi Muhammad SAW oleh penduduk Taif disebarkan kepada kelompok Musyrikin dari Quraysh. Padahal Nabi sudah memintanya untuk tidak menyebarkan berita apa-pun terkait keberadaannya di Taif. Sehingga penduduk setempat memanggil orang-orang untuk melemparkan Nabi Muhammad SAW dengan batu. Menganggap Rasulullah gila dan memaki-maki dengan nada yang kasar dan menyakitkan.             Kekejaman dan kebencian kelompok Musyrikin kafir Quraysh semakin garang ketika mengetahui bahwa Nabi akan melakukan hijrah. Tetapi dengan penuh dengan kesabaran Beliau melewatinya dengan keteguhan hati hingga mampu mencapai puncak kesuksesan sepanjang sejarah Nabi Muhammad SAW membawa peradaban yang gemilang. Karena semangat hijrah beliau sejak dari awal adalah nasionalisme ya

Facebook Comments