Orang Beriman Pasti Toleran, Tidak Percaya?

Orang Beriman Pasti Toleran, Tidak Percaya?

- in Keagamaan
512
0
Orang Beriman Pasti Toleran, Tidak Percaya?

Berbicara iman tidak hanya berhenti pada persoalan keyakinan saja. Pembicaraannya pun tidak melulu tentang syirik, bid’ah, murtad dan kafir. Tema-tema itu terlalu menyeramkan untuk menjadi orang beriman. Menjadi orang beriman sederhana, memantapkan keyakinan dan berbuat kebajikan.

Iman dan kebajikan sosial adalah dua sisi dari mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Teman sejati orang yang beriman adalah perilaku sosial yang baik. Al-Quran banyak menyandingkan persoalan iman dengan kebaikan sosial. Contohnya : “Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bahwa bagi mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (QS : Al-Baqarah : 25).

Perintah dalam al-Quran terhadap orang beriman bukan hanya tentang keyakinan dan ibadah murni, tetapi juga perintah berbuat kebajikan. Misalnya, dalam Surat al-Hajj ayat 77 : “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Lalu, apa hubungannya iman dengan toleransi? Toleransi adalah salah satu bentuk kebajikan dengan cara mengakui dan menghargai keragaman. Iman dan toleransi begitu sangat dekat. Toleransi menjadi penghubung manusia dalam meyakini keagungan Tuhan.

Dalam Surah Al-Baqarah, Ayat 285, Allah berfirman: Rasul [Muhammad] beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, begitu juga orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya; kami tidak membeda-bedakan di antara seorang rasulpun, dan mereka berkata: ‘Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan hanya kepada-Mu tempat kembali.

Orang beriman mempunyai ciri yang sama beriman kepada Tuhan, kitab suci dan para utusan dengan tidak membeda-bedakan penghormatannya kepada salah satunya. Karena itulah dalam ayat lain : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati (Al-Baqarah : 62).

Apapun agama seseorang elemen orang beriman harus dilandaskan pada keyakinan teologis dan kebajikan sosial. Karena itulah, hal yang seringkali hilang dalam dimensi iman adalah kebajikan sosial yang berupa kepedulian sosial, penghargaan sosial dan keteraturan sosial.

Pembicaraa iman selalu dikerdilkan hanya pada persoalan hati dan keyakinan. Ia menjadi tumpul karena tidak bisa diekspresikan dalam bentuk kebajikan. Karena itulah, dalam Islam iman seperti ini belum dianggap sebagai keimanan yang sempurna. Hakikat kesempurnaan iman adalah kebajikan sosial. Atau dengan kata lain, bukti orang beriman adalah berbuat baik.

Pembuktian Iman Melalui Toleransi

Dalam memegang keimanan, kita juga harus mewujudkan praktek kebajikan salah satunya adalah toleransi dan pengampunan terhadap sesama manusia. Kita harus menjadi teladan dalam memperlakukan orang lain dengan hormat, bahkan jika mereka berbeda dalam keyakinan.

Toleransi bukanlah tanda kelemahan iman, justru menjadi tanda kesempurnaan iman. Ekspresi iman adalah tentang kedamaian dan kasih sayang. Iman membawa manusia untuk melihat manusia yang lain sebagai saudara dalam keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan.

Rasulullah bersabda : “Tidaklah beriman salah seorang di antara kamu, sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Tidak sempurna iman seseorang jika tidak dibuktikan dengan rasa kasih sayang dan cinta kepada sesama sebagaimana ia mencintai diri sendiri.

Orang beriman tidak egois yang hanya memikirkan diri sendiri, tetapi lupa terhadap lingkungannya. Pembuktian keimanan adalah menyayangi orang lain tanpa melihat latar belakangnya. Beriman berarti menghargai dan menghormati orang lain.

Nabi memberikan petunjuk yang lebih detail tentang ekspresi dan pembuktiaan iman. Misalnya dalam sebuah hadist : “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau diam. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

Secara rinci Nabi mengajarkan bagaimana sesungguhnya praktek keimanan itu tidak bisa dilepaskan dari toleransi. Toleransi yang pertama adalah menjaga lisan dengan tidak menyakiti orang lain dengan lisannya. Toleransi kedua penghormatan terhadap tetangga apapun latar belakangnya. Dan toleransi ketiga adalah memuliakan tamu tanpa melihat agamanya.

Iman pada akhirnya mengajarkan kita untuk berperilaku adil dan peduli terhadap hak-hak sesama manusia. Orang beriman tidak peduli dengan kepentingan dirinya, tetapi bagaimana bisa peduli dan berbagi dengan menjaga hak orang lain. Karenanya, jangan mengaku beriman apabila belum bisa mempraktekkan toleransi.

Saya ingin menutup dengan hadist yang menurut hemat saya memberikan pesan penting bahwa iman bukan sekedar pengakuan basa-basi tentang keyakinan atau juga bukan tentang toleransi teoritis tanpa bukti. Iman adalah sebuah sikap kepedulian terhadap sesama. “Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.” (HR At-Thabrani).

Facebook Comments