Problem Identitas, Jarak Sosial dan Trilogi Ukhuwah

Problem Identitas, Jarak Sosial dan Trilogi Ukhuwah

- in Suara Kita
19
0
Problem Identitas, Jarak Sosial dan Trilogi Ukhuwah

Problem identitas ialah persoalan rumit. Demikian ujar peraih Amartya Sen, pemikir asal India sekaligus peraih Nobel Ekonomi. Dengan mengutip filosof Ludwig Wittegenstein, Sen menyebut bahwa identitas ialah proposisi yang diimajinasikan orang lain dan dilekatkan begitu saja pada individu atau kelompok. Dalam pandangan Sen, semua problem kemanusiaan yang mewujud pada praktik kekerasan dan konflik sosial yang terjadi di banyak negara saat ini sebagian besarnya merupakan ekses dari problematika identitas. Penegasan konsepsi identitas dari kelompok atau individu yang berbeda-beda tidak pelak telah menimbulkan ketegangan sosial. Menurut Sen, manusia tidak bisa mengedepankan pandangan soliteris dalam memahami identitas. Hal ini lantaran tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang memiliki identitas tunggal.

Pandangan Sen ini agaknya relevan untuk melihat situasi Indonesia kontemporer dimana persoalan identitas keagamaan dan kebangsaan kerap dihadap-hadapkan dan dipertentangkan. Seperti kita lihat belakangan ini, sentimen keagamaan yang menguat di sebagian kelompok Islam telah melahirkan praktik penegasan identitas yang dalam banyak hal cukup mengganggu kohesivitas sosial. Gelombang islamisasi ruang publik yang terjadi selama dua puluh tahun terakhir telah menyisakan residu persoalan baik dalam konteks politik, hukum maupun agama. Penegasan simbol dan identitas Islam secara berlebihan pada akhirnya menimbulkan problem terkait persatuan bangsa. Di saat yang sama, gelombang fanatisme keagamaan itu justru kerap dilawan dengan wacana nasionalisme sempit. Hampir sama dengan fanatisme keagamaan, gelora nasionalisme yang dipahami secara sempit kerapkali juga menimbulkan persoalan.

Pertentangan antara dua kutub identitas yang sama-sama berpikiran kaku itu lantas melahirkan sejumlah kesimpulan prematur. Di satu sisi, kelompok fanatis Islam merasa bahwa semua umat Islam hanya memiliki identitas tunggal, yakni identitas keislaman yang wajib dijunjung tinggi dan diprioritaskan kepentingannya. Di sisi lain, kelompok nasionalis sempit juga menganggap bahwa identitas masyarakat Indonesia bersifat tunggal, yakni identitas keindonesiaan. Pola pikir yang demikian ini pada dasarnya mereduksi fakta fundamental bahwa semua manusia pada dasarnya tidak mungkin memiliki identitas tunggal, sebagaimana disampaikan oleh Amartya Sen di atas. Logika ini sekaligus menghadirkan kesimpulan bahwa seolah-olah orang Indonesia tidak bisa menjadi nasionalis sekaligus islamis, atau sebaliknya relijius namun tetap nasionalis. Padahal kenyatannya tidak demikian.

Ancaman Konflik dan Kekacauan Sosial di Balik Problem Identitas

Pola pikir yang mempertangkan identitas keindonesiaan dan keislaman itu jika dibiarkan akan melahirkan apa yang disebut oleh Judee K. Burgoon sebagai “social distance” alias jarak sosial. Teori ini dimunculkan Burgoon untuk menjelaskan kecenderungan manusia yang memiliki kebutuhan akan afiliasi dan keterikatan dengan kelompok. Maka, dalam praktik kehidupan sehari-hari, manusia memiliki kehendak untuk berkumpul dengan orang-orang yang memiliki kesamaan identitas atau latar belakang. Pada saat yang sama, manusia akan cenderung mengambil jarak dengan individua tau kelompok yang berbeda identitas. Penjarakan sosial adalah fenomena yang patut diwaspadai lantaran bisa menjadi embrio lahirnya konflik atau kekacauan sosial (social conflict/chaos).

Baca Juga : Menemukan Tuhan dalam “Seporsi” Persaudaraan

Ketika manusia hanya mau bergaul atau bersosialisasi dengan kelompoknya, hal itu akan melahirkan segregasi sosial. Yakni tatanan kehidupan sosial dimana masyarakat hidup terkotak-kotak satu sama lain tanpa ada relasi komunikasi yang memungkinkan mereka saling terhubung dan bekerjasama. Segregasi sosial ini lantas menyebabkan struktur kohesivitas sosial masyarakat menjadi rapuh dari dalam. Dalam konteks masyarakat yang kohesivitasnya rapuh inilah, segala macam konflik yang timbul akibat miskomunikasi atau kesalahpahaman, apalagi provokasi bisa bereskalasi menjadi konflik dan kekacuan sosial yang lebih besar. Potensi inilah yang harus kita antisipasi sejak dini.

Aroma persaingan dua kubu (islamis kaku dan nasionalis sempit) yang terjadi belakangan ini menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Di satu sisi, kelompok islamis kaku kerap menuding kelompok lain sebagai anti-Islam, kafir, komunis dan label negatif lainnya. Di sisi lain, kubu nasionalis sempit kerap menuduh kelompok yang berseberangan dengan mereka sebagai orang-orang yang tidak berhak hidup di bumi Indonesia. Cara pandang yang demikian ini harus kita akhiri. Merujuk pada pandangan Amartya Sen di atas, kita tidak bisa menlihat identitas seseorang atau kelompok dengan pendekatan soliteris alias ketunggalan. Bisa dipastikan bahwa semua manusia di muka bumi ini memiliki identitas jamak. Dalam konteks Indonesia, umat Islam bisa tetap mempertahankan identitas keislamannya tanpa harus menghapus identitas keindonesiaannya. Begitu pula sebaliknya.

Membumikan Trilogi Ukhuwah

Dalam konteks inilah, bangsa Indonesia perlu membumikan konsep trilogi persaudaraan, yakni persaudaraan yang didasari oleh kesamaan identitas agama (ukhuwah islamiyyah), persaudaraan yang diikat oleh kesamaan identitas kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) dan persaudaraan yang disatukan oleh komitmen kemanusiaan (ukhuwah insaniyyah). Triologi ukhuwah inilah yang harus dikembangkan sebagai sebuah pendekatan dan cara pandang dalam melihat identitas. Pembumian pola pikir berbasis trilogi ukhuwah ini akan menghindarkan kita dari corak berpikir soliteris dalam memahami identitas. Sebaliknya, kita bisa melihat identitas dalam perspektif dan spektrum yang lebih luas.

Pendekatan soliteris akan melahirkan berbagai miskonsepsi, mispersepsi dan berujung pada kesalahpahaman-kesalahpahaman yang potensial menimbulkan perselisihan. Apalagi di tengah masyarakat yang heterogen seperti Indonesia dimana seseorang bisa memiliki identitas yang jamak. Dalam diri seseorang dimungkinkan menempel beragam identitas yang kompleks. Misalnya saja, seorang beretnis Jawa, seorang muslim taat, menyukai musik jazz, dan bekerja di perusahaan internasional yang taat membayar pajak pada negara serta aktif menyumbang untuk organisasi sosial. Dari seorang itu saja kita bisa melihat beragam identitas di sana, yakni keagamaan, kebangsaan sekaligus kemanusiaan yang integral dan tidak dapat dipisahkan. Di tengah dunia pasca-modern yang kian maju namun juga kian kompleks ini, yang perlu kita lakukan untuk menjaga kohesivitas sosial dan mencegah jarak sosial ialah dengan melampaui sekat-sekat agama dan ideologi. Manusia perlu melangkah lebih maju dengan mengendepankan orientasi kemanusiaan dalam setiap praktik sosialnya. Dalam logika berpikir yang demikian ini, semua umat manusia di dunia pada dasarnya terikat oleh jejaring persaudaraan yang disatukan oleh komitmen untuk saling peduli satu sama lain. Tantangan ke depan yang dihadapi manusia modern sungguh berat. Era kompetisi yang sesungguhnya terjadi di abad ini dan abad-abad selanjutnya. Namun, era kompetisi itu kiranya bisa kita lewati bersama-sama dengan jalan menjalin sebanyak mungkin kolaborasi berbasis kemajemukan identitas.

Facebook Comments