Vaksin Anti-Radikalisme ala Kegiatan Kepramukaan

Vaksin Anti-Radikalisme ala Kegiatan Kepramukaan

- in Suara Kita
1061
0
Vaksin Anti-Radikalisme ala Kegiatan Kepramukaan

Mengendornya moderasi dan toleransi di Indonesia akan berakibat vatal karena akan menyuburkan radikalisme yang berbuntut aksi terorisme. Maka, upaya pencegahan radikalisme, atau yang kini diistilahkan dengan vaksinasi, dilakukan dengan mengencangkan dan menebarkan sikap moderat dan toleran ( Endang Turmudi, 2005: 10-11).

Jadi, ketika berbicara perihal vaksin anti radikalisme, maka yang dilakukan adalah menguatkan toleransi dan moderasi, karena dengan cara ini, radikalisme akan bisa diatasi. Terlebih jika mengacu studi yang dilakukan oleh Agus SB, yang kemudian dibukukan dengan judul Deradikalisasi Nusantara (Jakarta: Daulat Pres, 2016), bahwa menguatnya radikalisme di Indonesia disebabkan oleh beberapa hal.

Pertama, memang ada kelompok yang diuntungkan dengan munculnya kelompok radikalis. Kedua, belum terselesaikannya ekonomi, sosial, politik dan agama sehingga kelompok radikal bisa dengan mudah mencari ‘mangsa’ dan akhirnya meraja-lela. Ketiga, memiliki karakteristik yang trans-nasional. Artinya, jaringan kelompok radikal begitu kuat karena disokong oleh kekuatan-kekuatan trans-nasional.

Dengan demikian, memperkuat agenda toleransi dalam segala lini di abad ke-21 ini, menjadi agenda yang harus dilaksanakan dengan matang dan berkelanjutan serta tepat sasaran (Arief, 2017: 23). Toleransi sejatinya bisa dilakukan oleh siapa pun dan oleh lembaga mana-pun juga.

Zuly Qodir mencermati bahwa fakta lapangan menyebutkan tentang keterlibatan kaum muda dalam aksi-aksi intoleransi yang terus menggunung dan mengepung. Oleh sebab itu, menurutnya, kaum muda perlu dilibatkan dalam proses perubahan sosial yang kian keras. Namun, bibit intoleransi kaum muda memang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Baca Juga : Moderasi, Antibodi dari Radikalisme Saat Pandemi

Para psikolog sosial merumuskan beberapa penyebab mengapa kaum muda masih dekat dengan intoleransi. Pertama, mental yang belum matang, sehingga anak muda gampang ter-ombang-ambing (terpengaruh) oleh hal-hal yang disampaikan oleh orang yang lebih tua, meskipun hal tersebut buruk. Kedua, masih terjadinya ketimpangan ekomoni. Faktor ini juga turut menjadi penyebab munculnya perilaku negatif seperti intoleransi.

Ketiga, masalah pemahaman teks keagamaan. Zuly Qodir dalam poin ini memberikan penekanan bahwa masalah ini sejatinya merupakan produk lama yang senantiasa direproduksi oleh para pemberi “mandat teror” dan para “mandat intoleransi” bahwa agama mengajarkan untuk jihad dengan fisik dan ajaran radikal lainnya (Zuly Qodir, Kaum Muda, Intoleransi, dan Radikalisme Agama: Jurnal Studi Pemuda, Vol. 5, No. 01, Mei 2016).

Menyibak Nilai-nilai Toleransi

Melihat realitas sebagaimana yang dipotret dalam uraian di atas, maka pemuda harus memainkan peran dalam upaya membumi-hanguskan paham dan gerakan radikal di Indonesia ini yang kerap berlaku intoleran. Maka, dalam hal ini, perlu mengambil nilai-nilai dalam suatu gerakan yang di dalamnya didominasi oleh pemuda, yakni kegiatan kepramukaan.

Ada beberapa kegiatan kepramukaan yang mengajarkan, bahkan dapat meningkatkan sikap toleransi siswa anggota Pramuka itu sendiri. Yaitu sebagai berikut:

Pertama, Semaphore. Adalah bahasa sandi dalam kepramukaan yang berfungsi sebagai bahasa isyarat ketika dalam keadaan darurat. Sehingga dalam prakteknya, Semaphore ini menuntut siswa untuk cermat, teliti, bertanggung jawab, dan kesabaran.

Selain itu, ketika latihan Semaphore yang dipandu oleh Pembina Pramuka, maka tidak diperbolehkan siswa lain menganggu siswa yang sedang berlatih Semaphore. Inilah prinsip toleransi dalam pramuka, yakni tidak boleh menganggu siswa lain dan antar siswa dituntut untuk rukun dan tertib.

Kedua, Tali Temali. Kegiatan sekaligus keterampilan membuat tali temali ini sangat bermanfaat bagi siswa, karena tali temali ini akan berguna untuk berbagai hal, seperti memasang tenda, mengikat barang, membuat jemuran, rak sepatu dan lain sebagainya. Di dalam kegiatan tali temali ini ada prinsip kerjasama dan saling menghargai.

Hal tersebut tercermin dari praktek pembuatan tenda misalnya, di mana sebuah tenda itu didirikan dengan prinsip kerjasama dalam satu kelompok (regu), yang saling bekerja sama dengan prinsip saling menghargai dan menerima serta apresiasi segala usaha yang telah dikerjakan. Sungguh syarat dengan nilai-nilai toleransi, bukan?

Ketiga, Perkemahan.  Perkemahan menjadi kegiatan dambaan anggota Pramuka. Betapa tidak. Banyak hal yang menantang dalam perkemahan yang seringkali menimbulkan kesan mendalam bagi anggota Pramuka. Lazimnya, dalam suatu instansi sekolah, setahun minimal mengadakan Perkemahan sekali.

Dalam perkemahan terdapat beberapa kegiatan yang dapat meningkatkan sikap toleransi siswa, yaitu upacara dan pentas seni. Dua kegiatan ini menjadi “inti” sebuah perkemahan. Dalam upacara misalnya, terdapat sesi menghanimkan cipta. Bahwa semua pahlawan kemerdekaan, tanpa memandang agama, golongan dan sejenisnya dikenang dan didoakan oleh seluruh peserta upacara. Nilai-nilai kebebasan, penghargaan dan saling menghargai sangat terpatri dalam upacara.

Tidak hanya berhenti di situ saja, pentas seni sebagai bagian integral ceremoni atau upacara juga mengajarkan benih-benih toleransi kepada siswa. Pentas seni tidak dibatasi oleh agama tertentu atau suku tertentu saja, anggota pramuka dipersilahkan menampilkan kreativitas yang mereka miliki.

Keempat, Outbound. Kegiatan unggulan dalam rentetan kegiatan kepramukaan ini tidak hanya bertujuan untuk merefresh pikiran siswa karena suntuk dengan KBM di sekolah, lebih dari itu adalah bertujuan untuk memper-erat persaudaraan dan pertemanan antar anggota Pramuka. Pertemanan dan persaudaraan menjadi benteng toleransi dan sekaligus bekal untuk menuju kehidupan yang lebih baik dan sejahtera dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Itulah Pramuka!Tentu sangat sayang jika Pramuka sejak awal hingga detik ini penuh dengan ajaran untuk bersikap toleran diacak-acak oleh oknum yang tak bertanggung jawab yang mengajarkan benih intoleransi kepada anggota Pramuka.

Facebook Comments