Dakwah Digital dan Influencer Islam Washatiyah

Dakwah Digital dan Influencer Islam Washatiyah

- in Suara Kita
954
0
Dakwah Digital dan Influencer Islam Washatiyah

Indonesia termasuk negara terbesar urutan ketiga setelah India dan China dalam hal penggunaan internet. Pertumbuhan pengguna internet di tanah air rata-rata mencapai 17 persen per tahun. Kondisi ini mengubah banyak hal, termasuk pola konsumsi generasi saat ini terhadap informasi atau konten keagamaan.

Mereka yang dulunya mencari informasi keagamaan melalui media cetak seperti buku, majalah, dan pengajian para ustadz atau kyai dari satu tempat menuju tempat lain–sehingga hanya orang tertentu saja yang bisa melakukan hal ini, kini mereka telah banyak bermigrasi ke media-media online yang menyajikan konten instan, interaktif dan mudah diakses oleh siapapun. Media-media itu, diantara wujudnya adalah Youtube, Instagram, Facebook, Website dan lain sebagainya.

Internet atau ruang maya bukan sekedar sebuah trend, melainkan sudah menjadi bagian hidup generasi saat ini. Fakta ini menyadarkan kepada kita semua bahwa alam digital menjadi garapan baru bagi dunia dakwah di tanah air. Artinya, ruang maya bak pasar bebas ini harus diisi oleh kaum agamawan dengan serius supaya konten di dunia maya tidak dijejaki oleh konten-konten hoaks, parsial atau yang menyesatkan.

Media sosial atau alam digital harus menjadi concern para da’i moderat karena beberapa sebab. Pertama, media dan alam digital merupakan saluran dan ruang komunikasi baru dan penggunanya sangat tinggi.

Kedua, jangkauan media atau alam digital sangat luas dan tak terbatas oleh ruang dan waktu. Artinya, selama terhubung dengan internet, seseorang bisa berselancar mencari dan membuntuti rasa keingintahuannya kapan pun dan di mana pun ia berada.

Ketiga, ia mampu mempengaruhi seseorang atau kelompok dengan sangat efektif (Dirga Maulana, 2018). Kita sangat paham bahwa kekuatan kata kata yang dibumbui dengan foto dan video sangat mudah membius seseorang. Sementara, kata kata, foto dan video bisa diedit sedemikian rupa supaya terlihat seperti aslinya. Pada titik inilah, media sosial dan ruang maya dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk membuat narasi dan propaganda kelompok radikal misalnya untuk meracuni pikiran umat dengan tujuan umat akan menaruh rasa percaya hingga akhirnya mereka bersedia gabung dalam barisan kelompok radikal tersebut.

Dengan demikian, jika alam maya dikuasai oleh kelompok radikalis misalnya, maka akan ada banyak orang yang terpengaruh dan akhirnya terpapar dengan paham radikal. Terkait hal ini banyak contohnya. Yang paling gampang dan mudah di temukan do internet adalah testimoni beberapa eks simpatisan ISIS. Kebanyakan dari mereka termakan oleh informasi yang menggiurkan yang diproduksi oleh kelompok pro ISIS.

Menjadi Influencer untuk Menebar Moderasi Islam

Alam digital sebagaimana diuraikan di atas sejatinya menjadi sebuah dorongan kepada para da’i untuk merambah ke dunia maya. Contoh kasus Aman Abdurrahman perlu dijadikan sebuah bahan renungan sekaligus menguatkan betapa menjadi digital influencer itu sangat penting.

Bayangkan saja, orang seperti Aman yang dipenjara karena menjadi pelaku terorisme masih bisa menancapkan pengaruhnya melalui narasi-narasi yang ia tulis dari balik jeruji ke dalam blog pribadinya (millahibrahim.com). Dengan cara ini, Aman tetap bisa mempengaruhi seseorang bahkan dari tulisan itu, ia mendapatkan apresiasi dari pembaca dan pengikutnya (Dirga Maulana, 2018).

Saat ini adalah era merebaknya pengguna sosial media. Bersamaan dengan itu, muncul istilah influencer. Yaitu kemampuan untuk mempengaruhi, merubah opini, dan perilaku seseorang (followers-red) secara online, umumnya melalui social networking (Binus, 2015). Dalam bahasa sederhananya, influencer adalah mereka yang memiliki pengaruh besar di sosial media, yang umumnya mereka mempunyai followers besar.

Para influencer tersebut, umunya bergerak pada ranah entertaiment-bisnis. Karena memiliki banyak pengikut—meskipun tak semua pengikut secara otomatis adalah fans setia, namun juga ada haters—dimanfaatkan oleh perusahaan tertentu sebagai bagian dari strategi pemasaran (endorse). Cara seperti ini terbukti cukup manjur karena ia memiliki banyak pengikut ‘fanatik’.

Nah, penulis membayangkan jika para da’i moderat menerapkan strategi yang sama seperti di atas dalam mempromosikan moderasi Islam. Jadi, orang-orang yang mempunyai pengikut yang banyak di media sosial yang sudah barang tentu memiliki pengaruh itu, melakukan kerja profetik seperti membicarakan Islam washatiyah.

Tentu saja dakwah digital dengan konsep influencer menjadi tugas berat dan pekerjaan rumah kita semua. Keberadaan influencer yang memiliki popularitas di dunia maya dan dikagumi oleh sekian banyak pengikutnya adalah sesuatu yang netral. Ibarat gelas yang tersedia, tinggal diisi menjadi media dan pangung dakwah (Sahroni, 2020).

Para da’i moderat memang harus merebut panggung digital, salah satu strateginya adalah menggandeng para influencer. Karena sosok selebgram dan influencer yang sudah menarik hati para pengikutnya akan lebih mudah menyampaikan pesan-pesan keagamaan dan nilai-nilai moderasi Islam, sehingga dapat diterima dengan mudah oleh para pengikutnya.

Kita harus mampu menangkap dengan lugas bahwa kehadiran influencer dapat menjadi pendakwah, memberikan tuntunan, dan memberikan pesan-pesan yang teduh, bukan gemar menuduh dan bikin gaduh. Tentu penyampainnya mengikuti pola konsumsi generasi kekinian.

Influncer menjadi pendakwah atau model dakwah influencer sangat efektif karena dakwah merupakan bagian yang sangat esensial dalam kehidupan seorang muslim, dimana esensinya berada pada ajakan dorongan (motivasi), rangsangan serta bimbingan terhadap orang lain untuk menerima ajaran agama Islam dengan penuh kesadaran (Samsul Munir Amin, 2009: 6). Dengan memiliki pengikut yang banyak, maka ajakan dan bimbingan itu akan mudah sampai kepada umat.

Selain kolaborasi dan menjadikan influencer sebagai pendakwah, para da’i muda moderat juga harus tampil merebut hati masyarakat di dunia digital. Hemat kata, tokoh-tokoh muda harus tampil dan memikat hati para netizen sehingga mampu menggait jutaan jamaah di kanal-kanal media sosial. Memang, influencer Islam washatiyah belum banyak. Namun demikian, semangat tokoh muda yang terjun dalam dunia dakwah digital sudah mulai muncul. Semoga kelak akan muncul para influencer yang gigih mendakwahkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, dan moderat.

Facebook Comments