Esensi Agama: Menyatukan, Bukan Mencerai-beraikan

Esensi Agama: Menyatukan, Bukan Mencerai-beraikan

- in Narasi
1370
0
Esensi Agama: Menyatukan, Bukan Mencerai-beraikan

Perbincangan tentang agama seolah tidak pernah ada habisnya. Sosiolog Peter L. Burger pernah memprediksikan bahwa agama akan punah seiring dengan laju modernitas. Namun, tesis itu akhirnya ia revisi manakala melihat kenyataan bahwa agama masih eksis bahkan terus berkembang secara dinamis beriringan dengan modernisme.

Di saat yang sama, dinamika keagamaan di era modern ini melahirkan berbagai macam fenomena menarik sekaligus tantangan yang tidak ringan. Pakar kajian agama, Huston Smith menyebut bahwa di era modern ini, kebangkitan agama mewujud ke dalam setidaknya dua fenomena.

Pertama, fenomena spiritualisme agama yang berkembang pesat di kawasan Barat (Amerika dan Eropa). Kebangkitan agama dalam wujud spiritualitas itu terrepresentasikan dengan munculnya banyak gerakan atau aliran spiritualitas baru yang berakar dari agama namun berusaha lepas dari bentuk agama yang kaku, formal dan doktrinal. Dalam kajian agama, fenomena ini kerap disebut sebagai new religious movement.

Secara nyata kebangkitan spiritualitas baru ini terejawantahkan dalam meningkatnya popularitas berbagai praktik meditasi seperti yoga, reiki, dan lain sebagainya. Di Amerika dan Eropa khususnya, praktik meditas yang dikembangkan dari kultur agama tertentu ini sangat digemari oleh kalangan masyarakat kelas menengah urban yang sebelumnya cenderung agnostik.

Kedua, fenomena radikalisme agama (Islam) yang terutama berkembang di kawasan Timur Tengah dan menjalar ke sejumlah negara-negara muslim di Afrika dan Asia Tenggara. Radikalisme agama merupakan bentuk kebangkitan agama di era modern yang barangkali tidak disangka-sangka oleh sebagian besar pengkaji agama. Pasca pecahnya revolusi Islam-Iran pada dekade 1970-an, publik global, terutama masyarakat Barat menilai Islam dan agama-agama pada umumnya telah mengalami kebangkrutan secara ideologis dan politis. Namun, asumsi itu terbantahkan oleh peristiwa teror 11 September 2001 di Amerika Serikat. Pasca serangan itu hingga sekarang, radikalisme agama kian bereskalasi menjadi gerakan global yang mengancam tatanan dunia.

Analisis Smith di atas penting untuk membaca bagaimana fenomena keagamaan di Indonesia, utamanya pasca Reformasi ini. Dinamika keagamaan yang mengemuka di Indonesia barangkali memang lebih kaya ketimbang apa yang terjadi di lingkup global. Di Indonesia, segala jenis ekspresi keagamaan berkembang subur dan saling berkait-kelindan mewarnai lanskap sosial-politik nasional. Segala jenis aliran agama mulai dari liberal, moderat, progresif hingga konservatif bahkan radikal ada di negeri ini.

Namun, sayangnya berbeda dengan kebangkitan agama di Barat yang didominasi oleh corak spiritualisme, kebangkitan agama di Indonesia lebih banyak didominasi oleh corak konservatisme dan radikalisme. Memang dari segi jumlah, kaum konservatif-radikal bisa dikatakan minoritas. Namun, sepak terjang mereka yang agresif cenderung berhasil mengokupai ruang publik dengan narasi keagamaan yang provokatif dan memecah-belah.

Menggali Sisi Esoterisme Agama

Akibatnya seperti dapat kita lihat dalam dua dasawarsa era Reformasi ini, lanskap keagamaan di Indonesia nyaris tidak pernah sepi dengan gejolak. Praktik diskriminasi, persekusi bahkan kekerasan dan terorisme atas nama agama seolah telah menjadi menu wajib dalam keberagamaan kita. Di level akar rumput, kebangkitan agama dalam wajah dan coraknya yang konservatif-radikal juga telah membuat ikatan sosial tercerai-berai. Citra masyarakat Indonesia yang santun, ramah dan harmonis dalam kemajemukan perlahan luntur tergeser oleh merebaknya kultur arogansi keagamaan. Fenomena ini tidak diragukan telah menjadi semacam kanker dalam tubuh bangsa yang menggerogoti eksistensi bangsa secara ganas dari dalam.

Barangkali akan terdengar klise untuk mengatakan bahwa modal sosial utama untuk membangun peradaban bangsa ialah mengelola kemajemukan (budaya dan agama) agar tetap harmonis. Namun, itulah kenyataannya. Sejarah membuktikan tidak ada bangsa yang berhasil membangun peradaban di atas disharmoni. Perpecahan hanya akan menyisakan puing-puing kehancuran. Kita patut berkaca pada negara jiran kita, Singapura misalnya yang berhasil mengakselerasikan peradaban salah satunya karena berhasil mengelola mulitkulturalitas dan multirelijiusitas masyarakatnya.

Maka dari itu, apa yang kita butuhkan saat ini ialah corak keagamaan yang menyatukan masyarakat, bukan mencerai-beraikannya dalam kotak-kotak kecil yang segregatif. Dalam konteks ini, kita sebenarnya tidak kekurangan referensi sejarah sekaligus pemikiran yang bisa kita jadikan fondasi untuk mengembangkan corak keagamaan yang menyatukan masyarakat. Dari sisi sejarah, kita bisa belajar dari masa lalu bagaimana agama-agama yang berkembang di Nusantara lebih menonjolkan sisi humanitas dan universalitas ketimbang sisi arogansi dan kesewenang-wenangan.

Begitu pula dari sisi pemikiran. Gagasan-gagasan moderatisme agama yang ditawarkan oleh para intelektual terdahulu —sebut saja misalnya oleh Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid— kiranya cukup menjadi modal untuk membangun keberagamaan yang harmonis di tengah kemajemukan. Sisi sejarah dan kekayaan intelektual itulah yang saat ini dilupakan dan terkubur oleh gelombang arus konservatisme dan radikalisme agama. Upaya menggali warisan sejarah dan pemikiran ini penting untuk membendung arus keberagamaan masyarakat yang kian hari mengarah pada segregasi dan perpecahan.

Mengarusutamakan lagu keagamaan yang bertumpu pada aspek spiritualitas ialah kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar. Umat beragama idealnya tidak hanya mengeksploitasi sisi terluar (eksoteris) agama yang mewujud pada glorifikasi simbol, ritual dan identitas semata. Jebakan eksoterisme agama ini akan membuat umat bergama bersikap arogan dan menutup diri dari kelompok lain. Sebaliknya, umat beragama harus masuk dan mengeksplorasi wilayah inti terdalam agama (esoteris). Di situlah terdapat esensi agama yang sesungguhnya yakni ajaran tentang welas asih, perdamaian dan kemanusiaan yang meyatukan umat manusia ke dalam satu visi yang sama; visi keilahian.

Facebook Comments