Kamis, 22 Oktober, 2026
Informasi Damai
Faktual

Faktual

Jangankan Politik, Lato-lato Pun Terkena Politik Identitas

Jangankan Politik, Lato-lato Pun Terkena Politik Identitas
Faktual
Mainan dua bandul bernama lato-lato memang mendadak populer di tengah masyarakat Indonesia. Lato-lato atau clackers ball menjadi mainan yang diburu anak-anak di pedesaan dan perkotaan. Tidak hanya itu, banyak isu yang berkembang di media sosial dari bahaya permainan ini hingga persoalan teori konspirasi. Memang permainan ini menjadi populer akibat media ...
Read more 0

Menuju Satu Abad NU: Jalan Panjang Menjaga NKRI dari Gerakan Bughat

Menuju Satu Abad NU: Jalan Panjang Menjaga NKRI dari Gerakan Bughat
Faktual
Tahun 2023 merupakan tahun istimewa bagi warga Nahdliyin. Tersebab, pada bulan Februari nanti, Nahdlatul Ulama (NU) akan genap berusia 100 tahun alias satu abad. Peringatan satu abad usia NU tentu menjadi momen istimewa yang teramat sayang jika dilewatkan begitu saja. Usia satu abad untuk organisasi sebesar NU tentu bukan perjalanan ...
Read more 0

Resolusi Bangsa Tahun 2023: Menguatkan Moderasi Beragama di Tahun Politik

Resolusi Bangsa Tahun 2023: Menguatkan Moderasi Beragama di Tahun Politik
Faktual
Ada perasaan gamang ketika akan meninggalkan tahun 2023 dan memasuki tahun baru 2023. Bagaimana tidak? Sebelum kita memasuki tahun 2023, berbagai prediksi yang kurang baik tentang kondisi tahun depan sudah kerap kita dengar. Dari sisi ekonomi, banyak kalangan memprediksikan tahun 2023 sebagai tahun kegelapan. Penyebabnya apalagi jika bukan resesi global ...
Read more 0

Menyoal “Laskar Taliban”; Dari Vigilantisme ke Radikalisme

Menyoal “Laskar Taliban”; Dari Vigilantisme ke Radikalisme
Faktual
Beberapa hari lalu viral video yang memperlihatkan segerombolan orang mengaku bernama “Laskar Taliban” tengah melakukan patroli di tempat hiburan. Video itu diketahui diambil di salah satu tempat hiburan di Tasik Malaya, Jawa Barat. Sontak, publik pun dibuat kaget atas peristiwa tersebut. Bagaimana tidak? Pasca dibubarkannya Front Pembela Islam (FPI) kita ...
Read more 0

Menguji Air Mata Umar Patek dan Masa Depan Ancaman Teror di Indonesia

Menguji Air Mata Umar Patek dan Masa Depan Ancaman Teror di Indonesia
Faktual
Hisyam Alias Umar Patek tidak kuasa menahan air matanya ketika mengucapkan permohonan maaf kepada keluarga korban Bom Bali 1 tahun 2002. Dengan rasa sesal yang tinggi, ia menumpahkan tangis dengan permohonan maaf khususnya kepada keluarga korban. Apa yang ia lakukan, menurutnya, akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Suaranya sempat hilang saat ...
Read more 0

Pesona Sepak Bola dan Sufisme Maroko dalam Melawan Ekstremisme

Pesona Sepak Bola dan Sufisme Maroko dalam Melawan Ekstremisme
Faktual
Perjuangan Maroko akan selalu menjadi kisah sejarah yang akan banyak dikenang dalam sejarah sepak bola dunia. Maroko mampu mengukir sejarah besar di Piala Dunia 2022 Qatar dengan secara mengejutkan masuk ke semifinal. Banyak kalangan tidak memperhitungkan. Namun, dengan mengalahkan Portugal di babak semifinal dengan skor 1-0, Maroko mencatat tinta baru ...
Read more 0

Biang Keladi Isu Kristenisasi di tengah Duka Bencana

Photo 2022 12 01 14.16.10
Faktual
Topik gempa Cianjur memang ramai diperbincangkan. Bencana yang telah menelan banyak korban dan penuh kesedihan ini telah mengetuk berbagai pihak untuk memberikan bantuan. Tidak peduli dari latar belakang apapun bantuan mengalir deras. Di tengah duka, sebaran hoax dan disinformasi pun mengalir deras. Salah satu yang marak adalah persoalan kristenisasi. Masyarakat ...
Read more 0

Mencopot label Gereja di Tenda Bantuan Gempa Bumi Cianjur demi Kehormatan Agama?

Mencopot label Gereja di Tenda Bantuan Gempa Bumi Cianjur demi Kehormatan Agama?
Faktual
Dengan sikap angkuh beberapa oknum mencopot label Gereja Reformed di tenda bantuan gempa bumi Cianjur. Mereka bertindak seolah menjaga “marwah/kehormatan agama”. Merasa “najis” dibantu oleh yang berbeda agama dengan sebuah alasan demi kehormatan agama dan lain sebagainya. Lantas, mengapa yang dicopot hanya label (tulisan) Gereja reformed saja? Mengapa tidak mencopot ...
Read more 0

Kontestasi Politik 2024 dan Bahaya Politisasi Rumah Ibadah

Kontestasi Politik 2024 dan Bahaya Politisasi Rumah Ibadah
Faktual
Nuansa politik 2024 mulai kencang meski perhelatannya masih dua tahun lagi. Beberapa tokoh mulai turun gunung. Beberapa partai mulai menjajaki dan membangun koalisi. Tidak lupa para calon sedang mencari simpati dan ada pula yang masih mencari dukungan partai. Sebelumnya Presiden Joko Widodo telah memperingatkan agar para elite politik untuk tidak ...
Read more 0

Mencegah Radikalisasi di Lingkungan Aparat Negara

Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan dengan penangkapan dua oknum aparat polisi di Lampung oleh Densus 88. Pendalaman dan penyidikan masih terus ditindaklanjuti. Apa yang mengagetkan bahwa aparat penegak hukum pun tidak imun dari paham dan jaringan terorisme. Persoalan ini memang bukan kali pertama. Salah satu mantan teroris yang kita kenal dari aparat kepolisian, Sufyan Tsauri, adalah bagian dari proses radikalisasi yang terjadi di tubuh institusi ini. Sebelumnya juga telah banyak berita dan cerita aparat kepolisian yang terpapar paham radikal. Tidak hanya di Polri, TNI dan ASN pun telah dimasukin kelompok ini. Apa yang perlu dipahami bahwa radikalisme sejatinya tidak melulu tentang tindak kekerasan, namun juga mengarah kepada sikap intoleransi. Radikalisme merupakan fase awal yang menyebabkan seseorang bertindak kekerasan. Biasanya pemahaman ini dimulai dengan sikap intoleran yang mulai menggugat berbagai keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai sebuah kekayaan bangsa. Virus intoleransi dan radikal memang lebih sangat berbahaya ketika merasuki lingkungan kerja pemerintahan. Mereka yang dididik dengan wawasan kebangsaan dan bekerja untuk pemerintahan saja masih mudah terpengaruh paham radikal. Bahkan tidak hanya pemikiran, tetapi ada pula yang sudah bergabung dalam organisasi dan jaringan yang terlarang. Pemerintah memang telah mengantisipasi dengan menerbitkan Surat Edaran Bersama Menteri PANRB dan Kepala BKN Nomor 2 Tahun 2001 No. 2/SE/I/2021 yang diterbitkan pada 25 Januari 2021. Yang berbunyi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB), Tjahjo Kumolo, melarang Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) berhubungan maupun mendukung seluruh organisasi yang dilarang pemerintah seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Front Pembela Islam (FPI). Tindaklanjutnya, Kemenpan RB menyebutkan telah melakukan langkah pemecatan sekitar 30 sampai 40 ASN tiap bulan karena berbagai pelanggaran, di antaranya tersangkut radikalisme maupun yang tergabung dalam organisasi terlarang dan tidak mengakui Pancasila dan UUD 1945. Memang tidak mengherankan karena menurut hasil penelitian The Habibie Center, seperti yang disebut Direktur Program dan Riset Muhammad Hasan Ansori, pada 2017 menunjukkan setidaknya 30%-40% ASN di Indonesia telah terpapar paham radikal. Memang banyak hal yang perlu dibenahi dalam membentengi wawasan kebangsaan para aparat negara. Bayangkan mereka akan menjadi duri dalam sekam yang memanfaatkan anggaran negara sementara mereka bisa memilih tergabung dalam organisasi yang intoleran, menolak Pancasila, dan mendirikan khilafah atau negara Islam. Tidak sedikitnya aparat negara yang memilih untuk bergabung dalam organisasi tersebut harus mendapatkan perhatian. Pemerintah memang perlu sangat tegas dan tidak boleh main-main dalam urusan ideologi di lingkungannya. Tidak toleransi bagi mereka yang memilih mengabdi buat negeri untuk memiliki pandangan yang bertentangan dengan NKRI. Pembinaan ideologi sejatinya tidak hanya dimarakkan kepada masyarakat umum, tetapi aparat pemerintah sejatinya garda depan untuk dilakukan pembinaan yang masif. Namun, persoalannya pemerintah tidak boleh hanya fokus pada sangsi. Semakin banyak yang menerima sangsi bahkan pemecatan sejatinya bukan suatu keberhasilan, tetapi justru menjadi kemunduran. Fokus utama yang dilakukan adalah mencegah dan menyembuhkan. Pemerintah harus mempunyai strategis dari hulu hingga hilir yang bisa mencegah dan mengantisipasi radikalisasi di lingkungan aparat negara. Pemecatan sejatinya langkah terakhir jika memang sudah jelas terbukti memiliki afiliasi dengan organisasi terlarang. Tetapi langkah pemecatan juga harus dibarengi dengan pendampingan. Jika tidak timbulnya balas dendam dan benci terhadap negara akan menimbulkan persoalan. Dan bukan tidak mungkin, ini akan menjadi alasan kuat untuk terjerat dalam jaringan radikal terorisme. Pemerintah harus mempunyai formula tepat dalam menanggulangi radikalisasi di kalangan aparat negara. Bukan sekedar sangsi, tetapi ikhtiar pembinaan ideologi mutlak dilakukan. Setelah mereka berikrar dan sumpah setia terhadap NKRI, persoalan selanjutnya adalah menjaga wawasan kebangsaan ini tetap teguh. Jika tidak, mereka hanya menjadi duri dalam daging. Keberadaannya bisa menjadi benalu dan virus yang bisa mematikan. Tidak besar tetapi dapat menggangu roda perjalanan.
Faktual
Beberapa waktu yang lalu kita dikejutkan dengan penangkapan dua oknum aparat polisi di Lampung oleh Densus 88. Pendalaman dan penyidikan masih terus ditindaklanjuti. Apa yang mengagetkan bahwa aparat penegak hukum pun tidak imun dari paham dan jaringan terorisme. Persoalan ini memang bukan kali pertama. Salah satu mantan teroris yang kita ...
Read more 0