Implementasi Ketakwaan Pasca Ramadan; Lawan Kebencian, Sebarkan Perdamaian!

Implementasi Ketakwaan Pasca Ramadan; Lawan Kebencian, Sebarkan Perdamaian!

- in Narasi
361
0

Bulan suci Ramadan telah sampai pada titik pungkasan dengan datangnya Idul Fitri. Tahun ini, untuk ke sekian kalinya hari Idulfitri terdapat perbedaan di antara umat Islam. Namun, perbedaan itu sama sekali tidak mengurangi kemeriahan dan kekhidmatan umat Islam menyambut Idulfitri. Perayaan Lebaran di seluruh penjuru negeri tetap meriah.

Jumlah pemudik tahun ini mengalami kenaikan sebesar 45 persen dibanding tahun lalu. Obyek pariwisata pun dipenuhi oleh pengunjung. Pedagang dan UMKM ketiban rejeki dari para pemudik dan pelancong. Triliunan rupiah berputar hanya dalam hitungan hari dan membuat ekonomi nasional menggeliat positif.

Dengan berlalunya Ramadan, kita tentu berhadap tidak diikuti dengan menurunnya tingkat kesalehan umat Islam. Bulan Ramadan ibarat sebuah fase isi ulang (recharging) energi spiritual dan sosial. Sebagai umat Islam, daya spiritual kita kerap mengalami penurunan. Demikian pula, sebagai manusia, energi sosial kita kerap melemah. Kehidupan zaman modern dengan segala tantangan dan problematikanya kerap membuat kita mengalami defisit energi spiritual dan sosial.

Ramadan sebagai bulan suci penuh rahmat ialah momentum yang tepat untuk mengisiulang daya atau energi spiritual dan sosial yang sempat melemah itu. Caranya ialah dengan melakukan ibadah-ibadah mahdah (utama) seperti berpuasa dan sholat wajib. Sekaligus juga menjalankan ibadah sunnah, seperti sholat tarawih, tadarus alquran, sholat malam, dan sejenisnya. Sedangkan, energi sosial kita bisa diisi ulang dengan cara berbagi pada sesama. Baik itu melalui mekanisme zakat, maupun sedekah atau infaq.

Bagaimana Mengimplementasikan Spirit Ramadan?

Maka, ketika Ramadan usai, dimensi spiritual dan sosial kita idealnya penuh oleh energi kebaikan. Energi spiritual dan sosial yang penuh itu kiranya mencukupi untuk mengarungi kehidupan setahun ke depan. Maka, kehidupan pasca Ramadan pada dasarnya merupakan ajang pembuktikan untuk mengimplementasikan apa yang sudah kita latih pada saat bulan Ramadan. Kehidupan pasca Ramadan ialah masa ketika nilai-nilai Ramadan diimplementasikan.

Lantas, bagaimana mengimplementasikan dimensi spiritual dan sosial bulan suci itu dalam kehidupan pasca Ramadan?

Dari sisi spiritual jelas bahwa kita harus menjaga spirit ibadah di bulan Ramadan. Jika kemarin kita rajin jemaah sholat wajib bahkan tarawih di masjid dilanjutkan membaca Alquran dan sholat malam, maka idealnya kita juga menjaga spirit ketakwaan tersebut. Di luar Ramadan, idealnya kita tetap menjaga ritmen ibadah wajib dan sunnah kita agar tetap ada dalam performa maksimal layaknya ketika menjalani puasa.

Ada satu kisah bahwa dalam sebuah majelis, Rasulullah ditanya apa ciri muslim yang mendapat malam Lailatul Qadar. Rasul pun menjawab bahwa ciri umatnya yang mendapat Lailatul Qadar ialah konsisten menjalankan ibadah seperti pada saat bulan Ramadan. Konsistensi (istiqomah) dalam menjalani ibadah wajib dan sunnah di luar Ramadan ialah bukti bahwa seseorang sukses dalam berpuasa.

Jadi, ketika Ramadan berakhir, tidak lantas perjalanan spiritual kita pun mencapai titik finish. Justru sebaliknya, perjalanan spiritual kita baru saja dimulai. Ibaratnya, Ramadan ialah madrasah untuk menempa sisi spiritualitas kita. Sedangkan kehidupan pasca Ramadan ialah ajang untuk membuktikan bahwa kesalehan dan ketakwaan kita tidak sekadar artifisial dan sementara.

Pasca Ramadan, Mari Lawan Kebencian dan Sebarkan Perdamaian

Sedangkan dari sisi sosial, implementasi nilai Ramadan dapat dimanifestasikan ke dalam sikap melawan kebencian, dan menebarkan perdamaian. Mengapa hal itu penting? Seperti kita lihat belakangan ini, salah satu problem berat bangsa ini berakar dari maraknya ujaran kebencian berlatar isu SARA. Sentimen perbedaan identitas yang dieksploitasi ke dalam kontestasi politik akhir-akhir ini telah menyisakan sejumlah residu persoalan.

Mulai dari renggangnya ikatan sosial, hingga munculnya retakan-retakan yang mengancam eksistensi bangsa. Narasi kebencian dan provokasi yang disebarluaskan melalui kanal-kanal media sosial benar-benar menggerus relasi kebangsaan kita. Kondisi kebangsaan kita hari ini ibarat rumput kering yang mudah berkobar hanya oleh sepercik api.

Terlebih saat ini kita tengah berada di tahun politik. Meski kontestasi demokrasi tahun 2024 baru akan dihelat beberapa bulan ke depan, namun aroma ketatnya persaingan sudah terasa sejak sekarang. Kita tentu berharap kontestasi politik 2024 berjalan aman dan damai. Namun, kita juga tidak bisa sepenuhnya menutup mata bahwa pesta demokrasi 2024 rawan ditunggangi pihak-pihak tertentu untuk menebar kebencian dan permusuhan.

Dalam konteks inilah penting kiranya kita mengimplementasikan kesalehan individual dan sosial yang kita tempa selama bulan Ramadan. Mari kita jadikan bulan-bulan di luar Ramadan layaknya bulan suci yang harus dihormati dengan menahan hawa nafsu kebencian dan menebarkan spirit perdamaian. Dengan begitu, bangsa ini akan terhindar dari malapetaka perpecahan dan konflik.

Facebook Comments