Isra’ Mi’raj dan Imlek: Dari Toleransi Beragama Menuju Toleransi Bernegara dalam Pemilu

Isra’ Mi’raj dan Imlek: Dari Toleransi Beragama Menuju Toleransi Bernegara dalam Pemilu

- in Narasi
2
0
Isra’ Mi’raj dan Imlek: Dari Toleransi Beragama Menuju Toleransi Bernegara dalam Pemilu

Bulan Februari 2024 adalah bulan demokrasi sekaligus bulan (perayaan toleransi). Karena selain pemilu, di bulan ini ada dua perayaan keagamaan sekaligus. Umat Islam merayakan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW (8/2/24) dan umat Konghucu merayakan Tahun Baru Imlek (10/2/24).

Isra’ Mi’raj dan Imlek pada dasarnya dua entitas nilai spiritualitas yang berbeda secara prinsip keimanan. Tetapi, ada bentuk nilai kognitif keduanya yang menjadi titik-temu toleransi di dalamnya. Antara bentuk datangnya kewajiban shalat dalam Isra’ Mi’raj-nya Nabi sebagai (anil fahsa’ iwal mungkar). Serta, perayaan Imlek sebagai transformasi diri secara spiritual dalam mencapai ketenteraman sosial, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Secara sublimatif, toleransi di dalam spiritualitas Imlek dan Isra’ Mi’raj sebetulnya tidak tentang perkara pencampuradukan iman. Tetapi, toleransi berkaitan dengan rasa bentuk empati kita atas spiritualitas keimanan yang berbeda itu. Dengan melihat (potensi nilai) yang sama-sama bisa membawa maslahat bagi kehidupan sosial dan peradaban.

Saya tertarik dengan apa yang digagas oleh John S. Dune tentang “Passing Over” and “Come back”. Dalam konteks toleransi beragama, seseorang perlu memahami nilai-nilai spiritualitas agama lain bukan untuk meyakini kebenarannya atau-pun mencari kesalahannya. Tetapi, melihat bagaimana perbedaan dan persamaan yang harus kita sikapi dengan kesadaran yang bijaksana.

Proses melintasi batas agama berarti kita memahami agama lain. Lalu kembali dengan kesadaran beragama yang lebih mapan namun tetap tolerant. Artinya, toleransi tidak berpijak pada klaim kebenaran dalam tradisi agama. Tetapi lahir dari kesadaran kita dalam menghargai perbedaan sebagai keniscayaan dengan melihat agama secara potensial untuk membangun kerja-sama atas persamaan-persamaan nilai yang membentang di dalamnya.

Fastabikul Khoirot dalam Merayakan Toleransi Beragama dan Pemilu yang Tolerant

Saya tertarik dengan konsep Fastabikul Khoirot di dalam Islam. Bahwa, perbedaan-perbedaan yang mengingat di dalam kita, baik prinsip agama dan prinsip perbedaan pilihan politik. Itu disatukan dalam semangat (berlomba dalam kebaikan).

Dalam bentang sejarah, perbedaan kiblat telah terjadi sejak Nabi Ibrahim dan Ismail yang diperintah menghadap ke Ka’bah. Nabi Israil berbeda, karena menghadap ke Baitul Maqdis, begitu juga dengan orang Nasrani menghadap ke Timur. Menariknya, perbedaan kiblat ini sejatinya sama-sama berpijak pada prinsip, beriman kepada-Nya.

Mereka tidak saling mengganggu, mematuhi segala perintah-Nya. Lalu dituntut untuk berlomba dalam kebaikan/kebajikan (fastabikul khoirot). Jadi, perbedaan sebetulnya adalah bagian dari potensi (fastabikul khoirot). Kita bisa bersama berlomba-lomba dalam kebaikan demi kemajuan dan perbaikan bangsa meskipun kita berbeda. Sebagaimana, Indonesia ditakdirkan merdeka dengan semangat keragaman yang bersatu. Para pendahulu kita bersatu dalam kebaikan untuk memerdekakan bangsa ini.

Toleransi beragama pada dasarnya akan menjadi nilai potensial seseorang menjadi lebih mudah tolerant atas perbedaan pilihan secara politik. Karena benang-merah toleransi bukan tentang siapa yang paling baik, tetapi kita menyadari akan nilai kebaikan dalam tiap-tiap kita yang berbeda.

Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap ke arahnya. Maka, berlomba-lomba-lah kamu dalam berbagi kebajikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu” (Qs. Al-Baqarah:148).

Merayakan Toleransi dalam Isra’ Mi’raj dan Imlek

Menghargai perbedaan itu, baik perbedaan agama atau-pun perbedaan pilihan politik. Seperti kita menghargai keberadaan manusia lain. Mengapa? manusia dalam banyak hal diciptakan berbeda dan secara orientasi pasti perbedaan itu sebagai bagian dari nilai esensial dari jati-diri kita sebagai manusia yang majemuk.

Perbedaan agama telah menjadi sunnatullah. Sebagaimana, perayaan Isra’ Mi’raj dan Imlek di bulan yang sama dengan waktu yang berdekatan. Ini menjadi sinyal penting kita dalam merayakan toleransi dalam beragama sekaligus merayakan toleransi dalam perbedaan sikap politik kenegaraan dalam pemilu.

Facebook Comments