Mencerdaskan Masyarakat melalui Debat Cerdas

Mencerdaskan Masyarakat melalui Debat Cerdas

- in Suara Kita
388
1
Mencerdaskan Masyarakat melalui Debat Cerdas

Setiap orang bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan, terlebih dalam era keterbukaan sosial media ini. Di mana setiap individu bisa menyuarakan sebuah argumen dan kemudian disanggah atau di dukung dengan argumen lainnya. Keterbukaan ini menjadikan setiap individu bebas menyuarakan apa yang dianggap salah atau benar. Keterbukaan ini kemudian menjadi ajang menguatkan apa yang dianggap benar, tetapi lupa mengenai kebenaran lainnya.

Yang kita tahu, setiap individu dibekali akal untuk memilih atau membuktikan kebenaran. berbeda, bukan unsur yang membuat manusia lebih unggul. Akal mempunyai dua aspek dalam penggunaannya; jika digunakan secara benar akan meningkatkan taraf kemanusiaannya, jika digunakan tidak benar, akan menurunkan derajat kemanusiaannya menjadi binatang, bahkan lebih dari binatang.

Evolusi kehidupan yang digambarkan oleh Darwin  tersebut lebih didasarkan pada pertimbangan biologis. Akan lebih baik jika proses evolusi ini dilanjutkan dengan didasari pertimbangan humanis-filosofis. Dengan demikian, evolusi kehidupan ini akan menggambarkan manusia baik yang terdiri dari unsur benda, kehidupan, hawa nafsu, akal serta moral.

Kekuatan moral dibutuhkan untuk mengendalikan akal dan nafsu  sehingga kehidupan manusia menjadi lebih bermakna. Dengan moral, manusia akan melakukan segala tindakan, perkataan serta perbuatan dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, kehidupan manusia tidak hanya sekedar melangsungkan spesies, tetapi bagaimana dapat memberikan manfaat dalam kehidupannya. Moral juga memberikan batas-batas nafsu agar tidak melampaui batas yang mengakibatkan ketidakseimbangan dalam kehidupan manusia.

Baca juga : Perlunya Etika Debat dan Debat Beretika

Dalam mengasah moral, tidak hanya berhenti dalam satu ruang atau waktu semata, melainkan moral harus diasah diperbarui sesuai dengan konteks budaya dan waktu. Moral yang dibangun pada zaman dulu, akan memiliki pergeseran dalam memaknai suatu tindakan. Semisal, dulu dalam moral silaturahmi, kita harus bertatap muka dan berkunjung ke rumah, dengan hadirnya teknologi yang dihasilkan dari akal manusia akan menggeser pemaknaan silaturahmi. Di mana silaturahmi di bangun tidak hanya berkunjung, tetapi bisa berteman dan komunikasi melalui sosial media (sosmed).

Sosmed sebagai hasil manusia bila tidak diimbangi dengan moral, maka sosial media akan menjadi bom waktu. Bom yang bisa merusak tatanan sosial dan kehidupan masyarakat ketika dekadensi moral dibiarkan. Seperti yang disebutkan, akal manusia seperti alat dan siapa yang menggunakannya. Begitu juga dengan sosmed merupakan alat komunikasi yang siapa saja bisa miliki, tanpa adanya moral maka sosmed akan menjadi alat untuk merusak kehidupan masyarakat.

Seperti riset yang dilansir oleh DailySocial.id menyebutkan bahwa sosmed tidak hanya diisi dengan moral kemanusiaan, tetapi demoral kemanusiaan sehingga manusia berkecamuk dan memaksa satu sama lain. Bagi manusia yang memiliki akal tetapi nirmoral atau dekadensi moralnya rendah, menjadikan sosmed untuk kepentingan pribadi yang merugikan orang lain. Yang paling ketara dekadensi moral di sosmed adalah menciptakan dan menyebarkan hoax.

Di sosial media bebas untuk menyebarkan atau memproduksi hoax. Di sisi lain, banyak masyarakat yang belum mengetahui cara menggunakan sosial media secara sehat, banyak dari mereka yang muda membagikan segala jenis informasi tanpa menyaring dan sering sebelum membagikannya. Dalam riset  tersebut menyebutkan bahwa 72% responden memiliki kecenderungan untuk membagikan informasi yang bagi mereka adalah penting, tanpa meverifikasinya terlebih dahulu.

Dalam riset tersebut juga menjelaskan bahwa saluran terbanyak penyebaran berita bohong dijumpai di sosial media; yakni facebook di urutan pertama, kemudian disusul Whatsapp kemudian diikuti oleh instagram . Riset ini dilakukan terhadap 1.032 responden yang menggunakan telepon genggam di penjuru Indonesia. Melihat riset ini, memberikan gambarkan mengenai hoax menjadi musuh yang sangat berbahaya dalam diri internet yang begitu tinggi manfaatnya.

Dengan tingginya hoax yang ada di sosmed memperlihatkan dekadensi moral masih cukup rendah. Untuk mengikis serta mempersempit hoax di sosmed, maka kita harus meningkatkan moral dengan mengisi narasi-narasi yang baik di sosmed. Di mana narasi-narasi ini akan membuat masyarakat akan sadar mengenai kemanusiaan yang akan meningkatkan moral masyarakat.

Masyarakat yang tiap hari menikmati narasi-narasi akan membentuk pola akan akal yang sehat yang diiringi dengan moral yang tinggi. Bila ini nalar ini sudah dimiliki masyarakat sosmed, maka hoax atau ujaran kebencian akan mengikis secara perlahan. Sebab  mudah menyebarnya hoax disebabkan masyarakat sosmed males untuk mencari informasi dan hilangnya moral, serta rasa kemanusiaannya.

Narasi yang dibangun tidak berupa tulisan, melainkan segala bentuk simbol komunikasi harus dibangun untuk mewujudkan kedamaian. Seperti pada saat ini di musim politik, maka para calon kepala daerah harus memperlihatkan narasi-narasi politik yang santun dan beradab yang mengedepankan etika. Di mana para calon harus memperlihatkan narasi-narasi yang dapat diterima secara akal tetapi naluri tidak berlainan.

Facebook Comments