Menyelami Akulturasi Teologi Dan Tradisi

Menyelami Akulturasi Teologi Dan Tradisi

- in Suara Kita
962
0
Menyelami Akulturasi Teologi Dan Tradisi

Lebaran atau bakda telah meninggalkan kita. Syariat telah menuntun umat Islam agar mengoptimalkan setiap momentum besar keagamaan tersebut. Khasanah budaya nusantara menambah daftar keanekaragaman bentuk tradisi yang berakulturasi dengan teologi Islam. Misalnya di tradisi Jawa. Tradisi telah muncul sejak sebelum Ramadan. Antara lain nyadran, ruwahan, apeman, megengan, padusan, dan lainnya. Saat Ramadan ada tradisi selikuran. Dan nanti setelah Ramadan atau saat Lebaran ada tradisi sungkeman, bakda kupat dan lainnya.

Sebagai bentuk akulturasi, semua tradisi tersebut memiliki nilai teologi sekaligus filosofi tradisi. Derasnya arus modernisasi diakui turut menyurutkan aktualisasi dan internalisasi nilai tradisi tersebut. Upaya pelestarian dan transformasi nilai yang berpedang pada tradisi dan teologi mesti terus dilakukan, khususnya bagi generasi muda.

Khasanah Tradisi

Beragam tradisi mulai jelang Ramadan hingga saat Lebaran dapat diteropong dari berbagai aspek. Pertama adalah nyadran. Lazimnya terdapat tiga kegiatan yang biasa dilakukan saat Nyadran. Pertama, menyelenggarakan kenduri diiringi pembacaan ayat Al-Quran, zikir, tahlil, dan doa, serta ditutup dengan makan bersama. Kedua, melakukan besik, yaitu bersih-bersih makam leluhur dari sampah dan rerumputan. Ketiga adalah upacara ziarah kubur, dengan berdoa kepada leluhur yang telah meninggal di area makam.

Makna simbolis dari ritual nyadran agar saat memasuki bulan Ramadan  harus benar-benar bersih dengan cara harus berbuat baik terhadap sesama dan lingkungan sosialnya (Maryuni, 2015). Melalui rangkaian nyadran,  orang Jawa merasa lengkap dan siap untuk memasuki ramadhan.

Tradisi kedua adalah padusan. Padusan berasal dari bahasa Jawa yaitu “adus” yang berarti mandi. Tradisi ini dipercaya akan menghilangkan dosa hingga jiwa raga menjadi suci saat memasuki bulan Ramadan. Padusan umumnya dilakukan sehari menjelang datangnya bulan pasa. Lokasinya antara lain di mata air, sungai, danau, pantai, kolam, dan lainnya. Tradisi serupa juga ditemui di Sumatera dengan sebutan Balimau (Nugroho, 2015).

Ketiga adalah ruwahan. Ruwahan merupakan perwujudan praktik doa bagi keluarga dan tetangga  yang masih hidup dengan saling bersilaturahmi, saling memaafkan dan membantu untuk siap memasuki ibadah puasa dengan rasa yang suci penuh suka cita menjadi kesadaran orang Islam Jawa. Filosofi Ruwahan melambangkan kesucian dan rasa sukacita memasuki ibadah puasa yang merupakan bentuk iman kesalehan individual dan sosial (Hananto, 2017).

Keempat adalah tradisi megengan. Megengan identik dengan sajian makanan ketan, kolak, dan apem. Makna dari ketiganya memiliki makna folosofis. Ketan yang lengket merupakan simbol mengeratkan tali silaturahmi. Kolak yang manis bersantan mengajak persaudaraan bisa lebih ‘dewasa’ dan barokah penuh kemanisan. Sedangkan apem berarti jika ada yang salah maka sekiranya bisa saling memaafkan.

Kelima adalah tradisi selikuran. Tradisi ini dilaksanakan pada malam selikur atau dua puluh satu Ramadan. Tradisi Malam Selikuran sudah ada sejak Kerajaan Demak, dan dilanjutkan oleh Kerajaan Pajang, Mataram, dan Kartasura untuk menyambut Lailatul Qadar. Hingga kini masih dilestarikan Kraton Surakarta dengan bentuk kirab. Sedangkan di masyarakat pedesaan juga masih dilaksanakan. Bentuknya dengan membawa nasi gurih, ayam ingkung, dan sayur untuk dikumpulkan dan di makan bersama saat berbuka dan sisanya di bawa pulang lagi.

Keenam adalah sungkeman. Tradisi ini dilaksanakan sesaat setelah usai Sholat Idul Fitri. Yang pertama di lakukan di rumah masing-masing. Sungkeman dilakukan antara yang muda ke yang orang tua. Selanjutnya dilakukan keliling kampung saling bersilaturahmi dan sungkeman dengan kerabat dan tetangga.

Ketujuh adalah lebaran ketupat atau bakda kupat. Tradisi ini umumnya dilakukan tanggal 2 syawal hingga sepekan kemudian. Dalam filosofi Jawa, Ketupat merupakan kependekan dari ’ngaku lepat dan laku papat’. ’Ngaku lepat’ artinya mengakui kesalahan dan ’laku papat’ artinya empat tindakan. Ketupat setelah masak dengan bervariasi masakan diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada mereka yang lebih tua. Hal ini sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.

Menyelami dan Nguri-Uri

Secara teologis, Islam sangat menganjurkan bahkan menuntut adanya upaya-upaya spiritual guna mempersiapkan dan menjalankan ibadah Ramadan hingga Lebaran. Selain itu adanya tradisi penting disinergikan dan dilestarikan melalui penyikapan yang bijak. Upaya nguri-uri tradisi dan tradisi mutlak diperlukan secara proporsional. Praktik yang dilakukan aman secara keagamaan dan optimal internalisasi nilai tradisinya.

Sikap membenturkan antara tradisi dan teologi penting diminimalisasi karena menyangkut tradisi yang diyakini khalayak.  Keterlibatan ulama diperlukan guna melakukan pembimbingan. Generasi muda penting dikenalkan baik secara prosedural maupun substansial.

Perbedaan adalah sunnatullah. Penyepakatan atau ketidaksepakatan terhadap tradisi mesti disikapi secara bijaksana. Bentuk ketidaksepakatan tidak disampaikan secara keras dan menyinggung pihak lain. Sebaliknya pengucilan mesti dihindari sebagai sanksi sosial kepada pihak ini.

Laku atau upaya nguri-uri tradisi penting dihormati dan diberikan jalan. Modernitas menjadi salah satu tantangan berat bagi kelestarian tradisi ini. Sedangkan dialektika hingga improvisasi tradisi dengan masuknya unsur-unsur lebih Islami terbuka potensinya tanpa harus menggerus total.

Tradisi-tradisi ini cukup potensial menjadi destinasi wisata. Nguri-uri memiliki potensi berkorelasi positif bagi ekonomi daerah dan masyarakat. Semua tradisi yang ada menjadi salah satu khasanah budaya Islam di Nusantara. Budaya ini layak digaungkan secara global.

Facebook Comments