Merajut Tenun Persaudaraan Melalui Medsos

Merajut Tenun Persaudaraan Melalui Medsos

- in Suara Kita
875
0
Merajut Tenun Persaudaraan Melalui Medsos

Media sosial (medsos) dewasa ini telah menjelma menjadi kekuatan luar biasa dalam hubungan antar sesama manusia di era cyber-information. Berbeda dengan media konvensional ataupun tercetak, medsos mempunyai potensi jauh lebih cepat dalam pembuatan dan persebaran informasinya. Bahkan, hanya dalam hitungan detik saja, informasi di medsos mampu menjalar dengan cepat. Informasi yang ada di medsos hanya sekali klik dengan jari saja mampu menyebar demikian cepat ke ruang virtual lainnya tanpa mempedulikan sekat batas suatu wilayah bahkan negara sekalipun.

Hadirnya medsos juga membuat adanya pergeseran yang sangat signifikan mengenai kontak manusia yang satu dengan lain. Kita tak perlu kontak langsung untuk sekadar bercakap-cakap. Bahkan, kini telah hadir fitur video call di hampir semua jenis medsos. Pendek kata, medsos mampu menembus sekat-sekat batas geografis. Tak hanya menghubungan manusia antar lokasi dekat saja. Antar desa, kecamatan, kota/kabupaten, provinsi, bahkan antar negara di berbagai belahan dunia asal ada jaringan signal dan akses internet yang memadai.

Dengan keunggulan yang demikian, tentunya medsos dapat berperan dalam merajut tenun persaudaraan atau ukhuwah dalam bingkai perdamaian sekaligus merawat dan menjaganya. Namun meskipun begitu, ibarat dua sisi mata uang koin logam, medsos juga bisa berpotensi sebaliknya, menjadi perusak tatanan persaudaraan. Tumpah ruahnya informasi hoax yang tak terkendali, bisa jadi membuat kita terprovokasi. Belum lagi, hasutan, fitnah, adu domba, dan ujaran kebencian lainnya akan sangat berbahaya bagi kekokohan bangunan persaudaraan atau perdamaian negeri ini. Bahkan, konten-konten medsos seperti ini mampu membuat kawan menjadi lawan.

Oleh karenanya, sebagai generasi digital natives, sudah saatnya menjadikan medsos sebagai sarana menjalin persaudaraan, bukan malah merusaknya. Caranya ialah dengan menggunakan medsos secara bijak. Konten medsos berkaitan dengan berita hoax, ujaran kebencian, dan adu domba harus kita hindari. Kita harus bisa memilah serta memilih informasi yang baik. Kita juga harus menyemai pesan-pesan damai serta ujaran kebaikan dan ujaran kasih sayang di medsos.

Lebih lanjut, medsos sebagai corong publik harus bisa hadir sebagai mitra di dalam pengembangan dan pelestarian persaudaraan kebangsaan. Jurgen Habermas dalam Stucturwandel der Offentlichkeit mengungkapkan bahwa ruang publik bisa menjembatani antara negara dengan masyarakat sipil. Seiring dengan berjalannya waktu, medsos yang merupakan ruang publik paling populer perlu adanya kontrol dan pengawasan, supaya konten informasi yang ada tetap sehat.

Oleh karena itu, medsos harus bersimbiosis mutualisme dengan pemerintah serta segenap rakyat Indonesia. Hal ini bertujuan agar iklim persaudaraan dalam bingkai perdamaian terjalin dan terjaga. Medsos harus bisa hadir sebagai jembatan positif untuk ukhuwah kebangsaan. Konten-konten yang ada pun harus steril dengan virus-virus penebar kebencian dan perusak persaudaraan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa medsos dapat berfungsi sebagai penguat persaudaraan mana kala masyarakatnya bijak menggunakannya. Hal ini dapat diupayakan melalui pendidikan literasi medsos dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di dalam keluarga orang tua harus bisa menjadi kontrol bagi anak-anaknya dalam penggunaan medsos.

Sementara itu, pendidikan literasi di sekolah dapat dilakukan dengan cara menggencarkan budaya literasi medsos. Mata pelajaran seperti Pendidikan Agama Islam (PAI) dan atau Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) tak hanya dipelajari saja, akan tetapi diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pergaulan di dunia maya.

Masyarakat harus bisa menjadi kontrol dan filter informasi yang beredar. Bila ada situs atau oknum yang menebar informasi berbahaya di medsos, harus segera dilaporkan. Dengan adannya simbiosis mutualisme antara medsos dengan pemerintah serta masyarakat, harapannya ukhuwah akan erat terjalin erat.

Facebook Comments