Merawat Pancasila, Meruntuhkan Nasionalisme “Tribal”

Merawat Pancasila, Meruntuhkan Nasionalisme “Tribal”

- in Suara Kita
170
2
Nasionalisme pada dasarnya memiliki pemaknaan yang baik, bahkan harus dimiliki setiap warga negara agar mencintai negaranya. Secara arti, nasionalisme merupakan paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, tanpa memandang dia dari suku, agama dan kebudayaan tertentu; masyarakat yang mencintai bangsanya juga ikut berperan andil dalam menjaga kehidupan yang adil dan damai. Nasionalisme menjadi barang rapuh ketika nasionalisme didasari pada sifat kesukuan (tribal). Maksudnya Nanaslime tribal merupakan berasal dari kesadaran dari sukuisme yang diperluas dengan komitmen untuk menyatukan semua orang yang memiliki darah yang sama atau asal-usul rohani yang sama (agama) untuk menandai pembeda “bangsa” di atas semua yang lain. Nasionalisme tribal akan mengakibatkan negara hanya mengayomi masyarakat mayoritas dan menindas masyarakat minoritas. Ironinya lagi, ketika agama tertentu dijadikan alasan nasionalisme tanpa melihat bahwa sifat nasionalisme harus dimiliki semua masyarakat tanpa terkecuali, maka akan mudah terjadinya peperangan atas nama kelompok bahkan agama tertentu. Meningkatnya nasionalisme “tribal” sangat kita rasakan saat kampanye akhir-akhir ini, di mana para politisi secara agitasi para politisi. Bahkan meraka memanfaatkan masyarakat yang memiliki nasionalisme “tribal” untuk kepentingan-kepentingan mereka sendiri, bahkan secara nyata para politisi ini mengabaikan kepentingan negara ini, terlebih negara ini merupakan negara kesatuan dari beberapa suku, agama dan ras. Agitas-agitasi yang menggunakan nasionaslime tribal telaah menciderai dasar negara Indonesia, Pancasila, di mana dasar negara telaah mengayomi semua masyarakat tanpa melihat siapa dirinya. Sebab Pancasila menerapkan prinsip kemanusiaan dan musyawarah; dua titik poin ini merupakan nilai yang tidak bisa diubah dalam menjalankan kehidupan berbangsa Indonesia. Kita tengok awal berdirinya Negara Indonesia, para pendiri bangsa tidak mementingkan nasionalisme “tribal”, ini sangat terlihat di mana pergulatan menganai sila pertama; apa harus menggunakan tujuh kata yang lebih mengarah kepada agama tertentu atau tidak. Dengan pertimbangan segala kepentingan, para pendiri lebih mengutamakan musyawarah dan kemanusiaan, di mana sila pertama yang bisa mengayomi semua masyarakat tanpa melihat apa keyakinannya tersebut. Tindakan para pendiri bukan bukan sebuah kekalahan melainkan titik awal kemenangan dalam ajaran Islam itu sendiri. Sebab ajaran Islam pada dasarnya adalah keselamatan kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Saat ajaran agama, melukai sedikit pun dalam kehidupan, bahkan melukai binatang, maka cara beragama patut dipertanyakan. Penulis tidak perlu menunjukkan dalil atau sejenisnya, sebab dalam beberapa literatur al-Quran dan Hadits menunjukkan bahwa keutamaan Islam adalah menjaga persaudaraan dan perdamaian. Dengan kehadiran Pancasila dengan mengedepankan rasa kemanusiaan, mengayomi semua perbedaan tetapi nilai-nilai Pancasila berlandaskan pada Ketuhanan yang Maha Esa. Landasan ini sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Karena, Tuhan ada kebenaran yang sejati, kebenaran yang murni. Mencapai kebenaran dalam kehidupan umat manusia sangat terlihat, salah satunya tanda adalah kebenaran itu dapat mengayomi semua perbedaan, tanpa melihat siapa dia, agamanya, sukunya serta bentuk wajahnya. Para pendiri menyadari bangsa Indonesia tidak hanya dibangun dan diperjuangkan satu suku semata, tetapi negara Indonesia diperjuangkan semua masyarakat dengan semangat kemerdekaan yang sama. Kita tidak bisa membayangkan, bila sila pertama dengan tujuh katanya tetap dipertahankan maka negara Indonesia bukan lagi menjadi negara yang demokrasi tetapi negara yang berdasarkan kepada agama atau suku tertentu. Selepas itu, di masa tenang dalam kampanye pemilu yang melelahkan ini, mari kita merawat dan menguatkan Pancasila pada setiap individu masyarakat terkecuali. Yang terpenting dalam merawat Pancasila adalah adanya suri tauladan para elitik negara, mereka harus memberikan contoh bagaimana kehidupan berbangsa yang mengayomi semua masyarakat tanpa suku atau agamanya. Para elite negara merupakan cerminan bagaimana kehidupan masyarakat yang dibawahnya, bila mereka mengendepankan nasionalisme tribal dalam menjalankan negara, maka masyarakat akan menjadi terkotak-kotak. Bila hal ini terjadi maka akan mudahnya terjadi konflik yang diterjadi karena kesenjangan sosial. Oleh karena itu, merawat Pancasila tetap menjadi ideologi Negara Indonesia, maka sama halnya menjadi merawat Indonesia tetap majemuk dan damai dalam perbedaan.

Nasionalisme pada dasarnya memiliki pemaknaan yang baik, bahkan harus dimiliki setiap warga negara agar mencintai negaranya. Secara arti, nasionalisme merupakan paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, tanpa memandang dia dari suku, agama dan kebudayaan tertentu; masyarakat yang mencintai bangsanya juga ikut berperan andil dalam menjaga kehidupan yang adil dan damai.

Nasionalisme menjadi barang rapuh ketika nasionalisme didasari pada sifat kesukuan (tribal). Maksudnya Nanaslime tribal merupakan berasal dari kesadaran dari sukuisme yang diperluas dengan komitmen untuk menyatukan semua orang yang memiliki darah yang sama atau asal-usul rohani yang sama (agama) untuk menandai pembeda “bangsa” di atas semua yang lain.

Nasionalisme tribal akan mengakibatkan negara hanya mengayomi masyarakat mayoritas dan menindas masyarakat minoritas. Ironinya lagi, ketika agama tertentu dijadikan alasan nasionalisme tanpa melihat bahwa sifat nasionalisme harus dimiliki semua masyarakat tanpa terkecuali, maka akan mudah terjadinya peperangan atas nama kelompok bahkan agama tertentu.

Meningkatnya nasionalisme “tribal” sangat kita rasakan saat kampanye akhir-akhir ini, di mana para politisi secara agitasi para politisi. Bahkan meraka memanfaatkan masyarakat yang memiliki nasionalisme “tribal” untuk kepentingan-kepentingan mereka sendiri, bahkan secara nyata para politisi ini mengabaikan kepentingan negara ini, terlebih negara ini merupakan negara kesatuan dari beberapa suku, agama dan ras.

Baca juga : Pemilu 2019; Damai dan Bersaudara dalam Demokrasi Pancasila

Agitas-agitasi yang menggunakan nasionaslime tribal telaah menciderai dasar negara Indonesia, Pancasila, di mana dasar negara telaah mengayomi semua masyarakat tanpa melihat siapa dirinya. Sebab Pancasila menerapkan prinsip kemanusiaan dan musyawarah; dua titik poin ini merupakan nilai yang tidak bisa diubah dalam menjalankan kehidupan berbangsa Indonesia.

Kita tengok awal berdirinya Negara Indonesia, para pendiri bangsa tidak mementingkan nasionalisme “tribal”, ini sangat terlihat di mana pergulatan menganai sila pertama; apa harus menggunakan tujuh kata yang lebih mengarah kepada agama tertentu atau tidak. Dengan pertimbangan segala kepentingan, para pendiri lebih mengutamakan musyawarah dan kemanusiaan, di mana sila pertama yang bisa mengayomi semua masyarakat tanpa melihat apa keyakinannya tersebut.

Tindakan para pendiri bukan bukan sebuah kekalahan melainkan titik awal kemenangan dalam ajaran Islam itu sendiri. Sebab ajaran Islam pada dasarnya adalah keselamatan kepada seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Saat ajaran agama, melukai sedikit pun dalam kehidupan, bahkan melukai binatang, maka cara beragama patut dipertanyakan. Penulis tidak perlu menunjukkan dalil atau sejenisnya, sebab dalam beberapa literatur al-Quran dan Hadits menunjukkan bahwa keutamaan Islam adalah menjaga persaudaraan dan perdamaian.

Dengan kehadiran Pancasila dengan mengedepankan rasa kemanusiaan, mengayomi semua perbedaan tetapi nilai-nilai Pancasila berlandaskan pada Ketuhanan yang Maha Esa. Landasan ini sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Karena, Tuhan ada kebenaran yang sejati, kebenaran yang murni. Mencapai kebenaran dalam kehidupan umat manusia sangat terlihat, salah satunya tanda adalah kebenaran itu dapat mengayomi semua perbedaan, tanpa melihat siapa dia, agamanya, sukunya serta bentuk wajahnya.

Para pendiri menyadari bangsa Indonesia tidak hanya dibangun dan diperjuangkan satu suku semata, tetapi negara Indonesia diperjuangkan semua masyarakat dengan semangat kemerdekaan yang sama. Kita tidak bisa membayangkan, bila sila pertama dengan tujuh katanya tetap dipertahankan maka negara Indonesia bukan lagi menjadi negara yang demokrasi tetapi negara yang berdasarkan kepada agama atau suku tertentu.

Selepas itu, di masa tenang dalam kampanye pemilu yang melelahkan ini, mari kita merawat dan menguatkan Pancasila pada setiap individu masyarakat terkecuali. Yang terpenting dalam merawat Pancasila adalah adanya suri tauladan para elitik negara, mereka harus memberikan contoh bagaimana kehidupan berbangsa yang mengayomi semua masyarakat tanpa suku atau agamanya.

Para elite negara merupakan cerminan bagaimana kehidupan masyarakat yang dibawahnya, bila mereka mengendepankan nasionalisme tribal dalam menjalankan negara, maka masyarakat akan menjadi terkotak-kotak. Bila hal ini terjadi maka akan mudahnya terjadi konflik yang diterjadi karena kesenjangan sosial. Oleh karena itu, merawat Pancasila tetap menjadi ideologi Negara Indonesia, maka sama halnya menjadi merawat Indonesia tetap majemuk dan damai dalam perbedaan.

Facebook Comments