Merdeka dari Radikalisme

Merdeka dari Radikalisme

- in Suara Kita
211
4
Merdeka dari Radikalisme

Tanggal 17 agustus 1945, sekitar 74 tahun yang lalu. Terjadi satu peristiwa penting bagi rakyat Indonesia. Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia, pada hari itu, membacakan pernyataan merdeka yang telah ditunggu beratus-ratus tahun lamanya oleh seluruh warga Indonesia. Deklarasi yang bermakna bahwa kita telah terbebas dari belenggu penjajahan selama kurun waktu kurang lebih 350 tahun.

Memang, proklamasi sendiri hanya sebuah pengumuman. Sementara itu, “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.” (Proklamasi, 17 Agustus 1945). Karenanya, proklamasi merupakan sebagai akhir sekaligus awal bagi bangsa Indonesia. Sebagai akhir, karena dengan proklamasi, kita telah mengakhiri penindasan para penjajah di bumi pertiwi. Sebagai awal, karena ini merupakan tangga pertama yang harus dipijak untuk membangun, memperjuangkan, dan meraih cita-cita kemerdekaan. Sebagaimana yang dikatakan Soekarno pada hari dimana proklamasi dikumandangkan, bahwa baru empat hal yang sudah selesai: (1) naskah proklamasi itu sendiri, (2) bendera kebangsaan sang Merah-Putih dan lagu kebangsaan Indonesia Raya, (3) falsafah negara, yaitu: Pancasila, (4) Undang-Undang Dasar yang bersendikan palsafah negara.

Disadari ataupun tidak, kini sudah 74 tahun pasca pembacaan proklamasi dan selama itu pula juga kita merasakan kemerdekaan Indonesia. Beragam tantangan dan ujian kebangsaan telah kita hadapi bersama. Baik di ranah politik, sosial, ekonomi,, dan kebudayaan, kita bersama telah menghadapinya. Hanya saja, apakah kita telah benar-benar lolos dari ujian tersebut? Di usia kemerdekaan yang sudah tidak lagi belia, tentu saja pertanyaan ini direfleksikan dalam momentum kemerdekaan yang sedang kita peringati ini.  Mengingat, hingga hari ini problematika kebangsaan masih saja mewarnai perjalanan NKRI. Dan, cita-cita kemerdekaan sampai hari ini kita masih belum sepenuhnya direalisasikan.

Baca Juga : Merdeka Secara Diskursif

Di antara masalah yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam momentum kemerdekaan saat ini adalah intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Narasi radikalisme yang demikian kuat akhir-akhir ini menunjukkan bahwa sebenarnya kita belum benar-benar merdeka. Data yang dirilis Kementerian Pertahanan menunjukkan, sekitar 23,4 persen mahasiwa setuju dengan jihad dan memperjuangkan negara Islam atau Khilafah, sedangkan di tingkat SMA sekitar 23,3 persen. Sementara itu 18,1 persen pegawai swasta memgatakan tidak setuju dengan ideologi Pancasila, 19,4 persen PNS dan 9,1 pegawai BUMN.

Faktor-Faktor

Beberapa faktor penyebab maraknya ideologi radikalisme adalah dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Pertama, teori struktural. Teori ini mengaitkan terorisme dengan sebab-sebab eksternal seperti politik, sosial, budaya, dan ekonomi.  Faktor tersebut berupa akumulasi kekecewaan kelompok radikalis, terutama yang berkaitan dengan kegagalan elite dalam merealisasikan penegakan hukum (law enforcement) dan cita-cita politik Islam. Ini dapat dipahami karena gerakan keagamaan bercorak radikal selalu memiliki agenda politik seperti mendirikan negara Islam dan formalisasi syariah.

Kedua, teori psikologi. Teori ini menjelaskan motivasi seseorang sehingga terpesona dengan gerakan terorisme. Melalui penjelasan psikologi dapat diketahui latar belakang sosial dan kejiwaan pelaku terorisme, mulai proses rekrutmen, pengenalan, kepribadian, penanaman ideologi, hingga motivasi anggotanya.  Misalnya, ditemukan fakta bahwa pelaku terorisme adalah mereka yang mengalami keterasingan sosial (alienasi). Dalam kondisi ini, tak heran para pelaku terorisme dengan sukarela mereka siap menjadi ”pengantin” untuk melakukan bom bunuh diri.

Ketiga, teori pilihan rasional. Teori ini menjelaskan adanya kalkulasi untung rugi yang menjadi pertimbangan pelaku terorisme. Artinya, dalam teori ini, diperoleh penjelasan bahwa faktor cost and benefit bisa juga menjadi pertimbangan pelaku. Fakta itu menunjukkan adanya alasan ekonomi di balik keberanian mereka bergabung dengan gerakan radikalisme. Meskipun, ada juga individu yang tergoda masuk jaringan terorisme dengan pertimbangan keagamaan (baca: keinginan masuk surga), misalnya ingin mati syahid.

Merdekakan Diri!

Untuk memerdekakan diri dari jeratan ideologi radikalisme di negeri ini, hal yang harus dilakukan ialah tidak memberikan kesempatan terhadap kemunculan dan penyebaran tindakan radikal. Keinginan itu akan tercapai jika faktor-faktor yang menjadi pemicu terorisme berhasil diminimalkan. Termasuk persoalan ketidakadilan sosial, ekonomi, hukum, dan politik serta kepentingan elite.

Kita pahami, kondisi Indonesia saat ini sangat jauh dari terwujudnya keadilan dan kesejahteraan, meskipun kita telah menjadi bangsa merdeka sejak 74 tahun lalu. Ini terlihat dari maraknya kasus korupsi oleh elite politik dan logika hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Di sisi lain, sektor perekonomian kita juga masih sangat jauh dari kondisi sejahtera. Oleh sebab itu, langkah pertama menangani radikalisme adalah mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Hanya saja, selain hal tersebut, pilar-pilar civil society juga harus ditegakkan secara kuat di lingkungan masyarakat. Hal ini bisa dilakukan dengan penanaman nilai toleransi (tasamuh) kepada generasi penerus bangsa secara terus menerus dan berkelanjutan. Itulah hal yang harus dilakukan agar dapat benar-benar menjadi negara yang merdeka dari paham radikalisme. Wallahu a’alam.

Facebook Comments