Tumengeng Tawang: Penyikapan Budaya atas Sebuah Bencana

Tumengeng Tawang: Penyikapan Budaya atas Sebuah Bencana

- in Suara Kita
1561
1
Tumengeng Tawang: Penyikapan Budaya atas Sebuah Bencana

Aja turu sore kaki

Ana dewa nganglang jagat

Nyangking bokor kencanane

Isine donga tetulak

Sandhang kalawan pangan

Ya iku bageanipun

Wong sabar lan nrima

——Asmarandana.

Dalam khazanah budaya di masa silam, selain paceklik, terdapat pula suatu bencana yang sifatnya masal: “pageblug” yang barangkali sepadan dengan istilah the plague. Paceklik berkaitan dengan kelangkaan barang pangan. Adapun pageblug berkaitan dengan wabah yang sifatnya misterius. Dahulu lintang kemukus (komet) sering dikaitkan dengan sasmita (isyarat alam) tentang suatu hal yang akan terjadi.

Covid-19 atau virus corona yang kini juga melanda Indonesia adalah sebentuk pagebluk. Pada 09/03/2020 pemerintah resmi mengumumkan 19 WNI yang positif terjangkit covid-19. Sementara data mutakhir sampai malam ini sebanyak 117 orang. Saya menyebut “teror” covid-19 ini, secara kultural, sebagai sebentuk pagebluk karena di China sifatnya massal, sampai sanggup membuat matinya kota Wuhan, dan itu pun menyebar ke beberapa negara lainnya sehingga ditengarai mengancam perekonomian global.

Teror covid-19, saya kira, dapat dibaca dari berbagai perspektif. Seumpamanya dari perspektif kritis, selain bahwa covid-19 adalah sebuah “fakta,” tapi tak selamanya ia hadir secara apa adanya di mana tumbuh-kembangnya turut pula dikonstruksikan oleh kontestasi pada tataran diskursus. Di sepanjang sejarah orang yang tiba-tiba seperti terserang demam, sesak nafas, dan seterusnya, yang berujung kematian, bukanlah peristiwa yang sama sekali baru.

Konon malaria adalah sebuah wabah yang sudah ada sejak 2700 SM di China. Berbeda dengan covid-19 yang bersifat pandemik (menjalar melintasi berbagai batas negara dan benua), malaria tergolong sebagai endemi (berada pada wilayah tertentu). Tapi seperti halnya covid-19, awal mewabahnya bersifat misterius yang diiringi pula oleh berbagai mitos. Sebelum ilmu kedokteran modern membentuknya (menafsirkan, memoles dan memplotnya), kebudayaan masa silam mengaitkannya sebagai sebentuk “hukuman”—atau dalam kosakata agama disebut sebagai “azab.”

Baca Juga : Gotong Royong Menumpas Virus Corona

Di sinilah kemudian kontestasi penafsiran menemukan ruangnya. Perspektif budaya tradisional, yang erat kaitannya dengan mitos, mendamiknya sebagai sebentuk “kualat” (buah dari kesombongan atau tindakan penyepelean). Dalam jagat pewayangan, suasana gara-gara sering dilukiskan sebagai sebuah kondisi di mana, selain tergoncangnya tata nilai sekaligus tata kosmologis (Mahapralaya: Seputar Wayang, Gempa, dan Tsunami, Heru Harjo Hutomo, http://filsafatwayang.filsafat.ugm.ac.id), juga ditandai oleh adanya pagebluk: “Para kawula ingkang ketaman sesakit, lara esuk sore mati (banyak orang tiba-tiba terserang penyakit, sakit di pagi hari mati di sore hari).”

Konsepsi jagat cilik (mikrokosmos) dan jagat gedhe (makrokosmos) yang bersifat wengku-winengku (saling menopang) atau bersifat korelatif, sering dijadikan penjelasan tentang rusaknya tata kosmologis. Seumpamanya kacaunya jagat cilik atau manusia yang berkaitan dengan sebuah tata nilai, maka akan menyebabkan kacaunya pula jagat gedhe atau alam. Hal ini dapat dipahami mengingat di masa silam manusia tak pernah dikonstruksikan berseberangan dengan alam. Tapi ia hidup dengan dan bersama alam, bukannya di luar sekaligus di dalam alam.

Seperti di nusantara, paceklik dan pagebluk dikaitkan pula oleh suatu hal yang sifatnya mitis. Pada paceklik kerap ia dimaknai sebagai sebentuk aktifitas Nyi Rara Kidul. Atau di jagat pewayangan, di mana ia disebabkan oleh minggatnya Dewi Sri yang kemudian berbagai apa yang kini disebut sebagai hama—celeng demalung, tikus jinada, kutilapas, sapi gumarang, kebo andanu, kidang ujung, menjangan randi, bulus pas, uler greges—menyerang pertanian secara massif. Dan tentu saja, di masa silam, para leluhur menyikapi bencana yang sifatnya massif dan seolah mengatasi akal sehat tersebut dengan cara menggelar ritual tertentu.

Setali tiga uang dengan penafsiran agama, meskipun variannya banyak, tapi lazimnya terkait dengan bencana yang sifatnya massal dan tak terduga-duga tersebut kerap pula dikaitkan dengan konsekuensi atas pelanggaran atau perusakan tata nilai tertentu—di mana malaikat pun kemudian mengatakan: “Taste ye (the fruits) of your deeds!” (QS: 403). Tafsir agama seperti ini tentu saja hanya salah satu bentuk penafsiran dan bukannya satu-satunya penafsiran agama yang bersifat final dan mutlak.

Perspektif ilmiah tak pula mau ketinggalan untuk menafsirkan fenomena covid-19. Hal ini memang tak bisa disangkal, konon budaya (dengan segala mitosnya), agama dan sains, hadir untuk memberi penjelasan kenapa terjadi demikian. Pada tataran ini semua bentuk penafsiran, baik budaya, agama dan sains, memiliki status dan validitas yang sama.

Paul Feyerabend, salah seorang pemikir sains, pernah mengetengahkan teorinya tentang “anarkisme epistemologis” yang secara positif dapat mengilhami penyikapan dan penanganan yang sifatnya integratif dan komprehensif. Kontestasi penafsiran atau perebutan otoritas pengetahuan pada titik ini, saya kira, tak lagi menjadi sesuatu yang pokok mengingat dampak covid-19 yang tak lagi dapat disepelekan. 

Selain penyikapan ilmiah seperti misalnya social distancing, penyemprotan disinfektan, pola hidup yang sehat, dan seterusnya, mengingat dampaknya yang bersifat massal, dan agar lebih integratif sekaligus kompreshensif, maka covid-19 perlu pula mendapatkan penyikapan agama—pengamalan wirid-wirid tertentu sebagaimana yang telah banyak diijazahkan para tokoh agama—dan budaya. Di masa silam, para leluhur nusantara mewariskan se-pupuh tembang asmarandana tentang manfaat berjaga malam (melek) yang konon sering dilakukan ketika dirundung suasana prihatin.

Jangan bergegas tidur, Nak

Ada dewa mengitari jagat

Membawa bokor emas

Yang berisi doa tolak-balak

Sandang dan pangan

Itulah bagian dari orang

Yang sabar dan qanaah Ketika dalam suasana prihatin, dan ketika malam di mana keadaan menjadi remang, para leluhur di masa silam umumnya akan melakukan laku simbolik dengan menengadah ke langit (tumengeng tawang), melihat rembulan atau bintang-gemintang yang seakan dapat menumbuhkan harapan. Secara neurologis, kondisi gelombang otak manusia pada waktu demikian akan beriak halus dan lambat laiknya telaga—“…talaga kadi langit/ mambang tang pas wulan upamaneka/ wintang tulya kusuma ya sumawur.”

Facebook Comments