Bercermin Melihat (dan Mengembalikan) Watak Toleran Bangsa Kita

Bercermin Melihat (dan Mengembalikan) Watak Toleran Bangsa Kita

- in Suara Kita
250
1
Bercermin Melihat (dan Mengembalikan) Watak Toleran Bangsa Kita

Sebagai bangsa yang majemuk, terdiri dari berbagai macam suku bangsa, ras, dan agama, masyarakat Nusantara telah terbukti selama beradab-abad memancarkan karakter toleran dalam menjalani kehidupan. Karakter atau watak toleran ini kemudian membentuk masyarakat yang ramah dan terbuka, sehingga menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis, saling menghargai di tengah segala perbedaan.

Ketika sekarang bangsa ini didera persoalan terkait merebaknya kebencian, pertikaian, dan bisa menciptakan perpecahan, sudah selayaknya kita sama-sama berefleksi untuk mengarungi kembali wajah dan karakter bangsa sejak dahulu kala. Wajah bangsa yang sudah menjadi watak masyarakat Nusantara. Ini penting untuk proses bercermin, melihat dan mengenali jatidiri bangsa, sehingga dari sana kita bisa sama-sama belajar, berefleksi, dan evaluasi diri. Jangan sampai, kita menjadi masyarakat yang lupa jatidiri bangsa sendiri atau meninggalkan nilai-nilai luhur yang dahulu dipegang teguh para pendahulu kita.

Karakter toleran masyarakat Nusantara bisa kita telusuri dengan menyelami beberapa babak sejarah peradaban bangsa Indonesia. Di masa penyebaran Islam ke Nusantara, dalam hal ini tentang penyebaran Islam di tanah Jawa, kita melihat bagaimana nilai-nilai ajaran agama bisa diterima dengan damai di tengah masyarakat tanpa merusak tradisi dan budaya yang sudah mengakar di dalamnya. Malahan, perpaduan antara nilai-nilai agama dan khasanah sosial-budaya di masyarakat menghasilkan warna keberagamaan baru yang turut memperkaya khazanah budaya di masyarakat. Kita bisa melihat hal ini lewat berbagai tradisi, ritual, hingga arsitektur bangunan tempat ibadah yang mencerminkan adanya percampuran harmonis nilai-nilai budaya dan agama.

Menurut Masdar Hilmy (2008: 190), hal tersebut tak lepas dari watak dasar eklektik masyarakat Jawa, di mana masyarakat berpandangan terbuka: mampu berdialog, dan terus-menerus mencari dan menyaring nilai-nilai terbaik yang datang. Masyarakat Jawa memiliki keyakinan bahwa ketika seseorang mengadopsi nilai-nilai baru dalam hidupnya, maka dia akan semakin matang, arif, dan sempurna (kesampurnaan), di mana hal tersebut menjadi tujuan hidup yang sudah menjadi kesadaran kosmologi masyarakat Jawa.

Gambaran watak toleran masyarakat Nusantara juga bisa dilihat, misalnya di masa-masa kedatangan VOC di bumi Nusantara. Kita tahu, kongsi dagang Hindia Timur Belanda tersebut pernah mencoba menerapkan politik segregasi pemisahan kelompok ras atau etnis di Batavia (Jakarta). Hal ini dilakukan untuk mempermudah pengawasan setiap etnis, juga agar berbagai macam etnis yang di Batavia saat itu tidak bercampur dan bersatu melawan Belanda yang saat itu merupakan bangsa pendatang (minoritas).

Baca Juga : Natal Sebagai Pembelajaran Toleransi

Jejak politik segregasi VOC ini masih bisa kita lacak hingga sekarang, lewat adanya nama-nama atau sebutan kampung berdasarkan etnis tertentu. Seperti Kampung Melayu, Kampung Bugis, Kampung Makassar, Kampung Bali, dan sebagainya. Namun, seperti dijelaskan sejarawan UI, Bondan Kanumoyoso (Kompas, 5/11/2019), politik segregasi VOC tersebut terbukti gagal. Penduduk di Batavia tetap saling berinteraksi dengan harmonis meski sudah dikotak-kotakkan sesuai suku atau etnis.

Ketika memasuki abad ke-18, isi kampung-kampung di Jakarta tersebut pada kenyataannya sudah tak lagi murni dari etnis tertentu, melainkan sudah bercampur baur dari beragam etnis dan suku. Bahkan, lanjut Bondan Kanumoyoso, pada awal abad ke-20, sensus di kota Batavia tentang profil etnik penduduk Jakarta menunjukkan bahwa kategori etnis yang dibuat oleh politik segregasi VOC sudah tak lagi berbekas. Hal tersebut, jelas Bondan, membuktikan bahwa karakteristik masyarakat Indonesia itu mudah bercampur baur. Dengan kata lain, watak bangsa kita itu terbuka dan toleran.

Menyatukan

Watak toleran masyarakat Nusantara tersebut terus dijunjung tinggi dan mewarnai kehidupan sosial masyarakat. Watak toleran tersebut terbukti menjadi bekal bangsa ini yang kemudian bisa menyatukan dan mempersaudarakan beragam suku, etnis, maupun kelompok agama, yang ada di tengah masyarakat. Dengan watak dasar yang toleran: saling menghormati dan menghargai, masyarakat Indonesia terbukti sanggup menciptakan kehidupan yang damai dan harmonis, meski di tengah segala perbedaan.

Tak heran jika karakter toleran tersebut kemudian diabadikan dengan dijadikan sebagai spirit persatuan oleh para pendiri bangsa Indonesia. Dasar negara Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah bukti  bagaimana nilai-nilai toleransi, semangat saling menghormati, menghargai, gotong royong, dan kebersamaan, merupakan karakter-karakter khas masyarakat Nusantara yang kemudian dijadikan spirit untuk membangun bangsa Indonesia yang merdeka, serta diharapkan bisa terus dijaga untuk membangun bangsa ini melaju ke depan.

Toleran adalah jiwa bangsa Indonesia. Toleran adalah spirit masyarakat Indonesia. Sudah selayaknya kita terus menjaga dan merawat nilai positif tersebut dengan terus memupuk nilai-nilai saling menghormati dan menghargai sesama, mesti di tengah segala perbedaan yang ada. Karena hanya dengan sikap toleran, bangsa ini bisa hidup harmonis dalam perdamaian serta menyongsong kemajuan.

Facebook Comments