Idul Fitri dan Harkitnas di Masa Pandemi; Bangun Narasi Kebangkitan, Bukan Keputusasaan

Idul Fitri dan Harkitnas di Masa Pandemi; Bangun Narasi Kebangkitan, Bukan Keputusasaan

- in Suara Kita
1489
0
Idul Fitri dan Harkitnas di Masa Pandemi; Bangun Narasi Kebangkitan, Bukan Keputusasaan

Ada perasaan sedih bercampur senang ketika Ramadan mendekati garis finish. Di satu sisi, ada rasa sedih karena bulan mulia yang penuh rahmat dan ampunan itu akan segera berakhir. Bagaimana pun juga, nuansa spiritual Ramadan tidak akan pernah bisa dihadirkan oleh bulan lainnya. Di sisi lain, ada juga rasa gembira lantaran itu artinya kita akan menyonsong Idul Fitri yakni hari kemenangan bagi umat Islam. Di hari Idul Fitri, umat muslim yang telah menjalankan ibadah Ramadan selama sebulan diganjar oleh kemenangan, lantaran Allah mengembalikan mereka pada kondisi fitrah alias tanpa dosa.

Momentum Idul Fitri tahun ini berdekatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 20 Mei. Meski tidak memiliki keterkaitan secara langsung, keduanya memiliki irisan dan makna yang sama pentingnya bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Idul Fitri sebagai momentum keagamaan telah menjadi semacam titik kisar perjalanan manusia. Oleh umat Islam, Idul Fitri biasanya dijadikan sebagai momentum untuk melakukan transformasi diri agar lebih baik dari tahun sebelumnya.

Sedangkan Harkitnas sebagai momentum kebangsaan memiliki makna penting bagi sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Harkitnas yang dinisbatkan pada hari lahir Boedi Oetomo pada 1908 adalah simbolisasi kebangkitan nasionalisme yang menjadi fondasi penting bagi revolusi kemerdekaan Indonesia di kemudian hari. Peringatan Harkitnas menjadi momentum penting untuk menyegarkan nasionalisme kita yang belakangan menghadapi banyak tantangan, terutama yang dilatari oleh pandemi Covid-19.

Tahun ini, perayaan Idul Fitri dan Harkitnas berlangsung di tengah pandemi Covid-19 yang melahirkan problem multidimensi. Tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, pandemi Covid-19 juga menimbulkan problem di sektor ekonomi, sosial, budaya dan agama. Dari sisi ekonomi, pandemi Covid-19 memukul perekonomian nasional yang menyebabkan munculnya gelombang PHK. Dalam konteks sosial-budaya, pandemi Covid-19 tidak pelak menimbulkan kecemasan masyarakat yang potensial melahirkan kekacauan sosial (social chaos). Sedangkan dari sisi keagamaan, pandemi Covid-19 melahirkan semacam krisis keagamaan yang mengarah pada pendangkalan keimanan.

Lawan Pandemi dengan Sabar dan Ikhlas

Pandemi Covid-19 yang digolongkan sebagai bencana non-alam idealnya dipahami dari sisi saintifik maupun teologis. Memahami pandemi hanya dari satu perspektif saja bisa dipastikan tidak akan melahirkan jawaban yang memuaskan. Dari sisi saintifik, penelitian yang dilakukan oleh banyak pakar sejauh ini baru mendapati hasil bahwa virus Covid-19 ini berasal dari hewan liar yang menular ke manusia. Bagaimana proses penularannya dan siapa yang pertama kali tertular ialah pertanyaan yang sampai saat ini masih berusaha dijawab oleh para ahli.

Baca Juga : Imajinasi Kebangkitan dan Kemenangan Melawan Covid-19

Sedangkan dari sisi teologis, pandemi Covid-19 bisa dimaknai sebagai sebuah bagian dari proses penciptaan dan pengaturan alam semesta oleh Tuhan. John Campbell-Nelson dalam makalahnya berjudul “Agama dan Bencana” menyebutkan bahwa bencana (alam maupun non-alam) seharusnya disikapi umat beragama secara rasional sekaligus spiritual. Secara rasional, manusia harus berusaha selamat dari bencana dengan mempertahankan diri serta mengambil langkah mitigasi. Sementara secara spiritual manusia juga diharuskan ikhlas dan sabar dalam menghadapi bencana.

Nelson mewanti-wanti agar manusia tidak saling menyalahkan, karena hal itu tidak akan membantu menyelesaikan persoalan. Sebaliknya, Nelson menyarankan bahwa kondisi keprihatinan akibat bencana itu bisa dimanfaatkan untuk mengajak manusia bertaubat dan memperbaiki kehidupannya. Satu hal penting yang dituturkan Nelson dalam makalahnya tersebut ialah ajakan agar umat beragama tidak larut dalam kedukaan karena bencana. Manusia tidak boleh kehilangan kepercayaan kepada harapan, apalagi kepercayaan pada rahmat Tuhan. Sebaliknya, manusia harus mampu membangkitkan optimisme bahwa semua bencana dan dampaknya bisa dilalui.

Pesan penting Nelson tentang kebangkitan di tengah bencana itu relevan dengan momentum Idul Fitri dan Harkitnas di tengah pandemi Covid-19. Saat ini, semangat masyarakat dalam melawan Covid-19 tampaknya mulai mengendur. Hal ini tampak dalam rendahnya kedisiplinan masyarakat dalam mentaati aturan pembatasan sosial. Bahkan, di sejumlah daerah yang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), keramaian dan kerumunan manusia tetap tidak bisa dihindarkan. Terlebih di hari-hari menjelang Idul Fitri ini, jalanan, pasar dan tempat-tempat umum di sejumlah daerah dipenuhi oleh jubelan massa. Satu hal yang sangat ironis mengingat hal itu berpotensi menimbulkan kluster penularan baru.

Membangun Narasi Kebangkitan, Bukan Keputusasaan

Di titik inilah spirit Idul Fitri dan Harkitnas kiranya bisa kita aktualisasikan dalam konteks melawan pandemi Covid-19. Spirit kemenangan Idul Fitri ialah idealnya dimanifestasikan dengan menahan hawa nafsu, bukan mengumbar hawa nafsu. Pemenang sejati ialah mereka yang merayakan kemenangannya dengan muka tertunduk tanda tawadlu’ serta tidak memamerkan gemerlap kemewahan. Apa yang ditunjukkan oleh Rasulullah pada peristiwa Fatkhul Makkah patut diteladani dalam hal ini. Idul Fitri seharusnya dirayakan dengan sederhana, tanpa mengurangi sakralitas dan kekhidmatannya. Terlebih saat ini kita tengah menghadapi pandemi yang menimbulkan keprihatinan bagi banyak orang.

Di tengah pandemi ini, Idul Fitri idealnya dirayakan dengan meningkatkan rasa solidaritas dan kemanusiaan kita. Kita barangkali masih beruntung bisa merayakan Idul Fitri dengan kegembiraan, bahkan mampu memenuhi berbagai kebutuhan baik primer maupun sekunder. Namun, di luar sana jutaan orang menderita lantaran kehilangan penghasilan dan pekerjaan. Padahal, mereka juga berhak merasakan kebahagiaan di hari Idul Fitri.

Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa di hari Idul Fitri, umat Islam harus memastikan tidak ada satu pun muslim yang merasakan kelaparan dan penderitaan lainnya. Maka, adalah hal yang sangat bijak jika kita menahan hasrat konsumtif kita di hari Idul Fitri tahun ini dan mengalokasikannya untuk membantu sesama. Hal itu akan jauh lebih mulia dan manusiawi ketimbang memaksakan diri memborong kebutuhan Idul Fitri dan mengabaikan pembatasan sosial.

Selain itu, kita juga perlu mengoptimalkan aktualisasi Harkitnas dalam konteks menangangi pandemi Covid-19. Belakangan ini, mengendurnya kepatuhan dan kedisiplinan masyarakat terkait pembatasan sosial direspons oleh tenaga kesehatan (nakes) dengan gerakan tanda pagar “Indonesia Terserah”. Ungkapan ini seolah menunjukkan sikap keputusasaan para nakes dalam menghadapi sikap masyarakat yang abai pada protokol kesehatan Covid-19.

Ungkapan para nakes yang termanifestasikan ke dalam tagar Indonesia Terserah ini sebenarnya terbilang wajar. Bagaimana tidak? Ketika sejumlah rumah sakit rujukan maupun non rujukan mulai kewalahan menangangi pasien Covid-19, ditambah sejumlah nakes harus gugur lantaran tertulat Covid-19 dari pasien yang dirawatnya, masyarakat justru abai pada aturan pembatasan sosial. Di titik ini, kekesalan para nakes tentu bisa dimaklumi. Namun demikian, penggunaan frase Indonesia Terserah agaknya dirasa kurang tepat karena berkonotasi sikap putus asa alias frustasi.Dalam kondisi yang demikian ini, yang sangat kita butuhkan ialah semangat kebersamaan untuk menumbuhkan kesadaran dan komitmen dalam melawan Covid-19. Salah satunya dengan disiplin dalam menaati pembatasan sosial. Masyarakat yang mulai lengah dan tidak disiplin dalam mematuhi aturan pembatasan sosial jangan lantas disikapi dengan narasi keputusasaan, melainkan dibangkitkan kembali semangatnya agar tetap berjuang melawan Covid-19. Narasi kebangkitan itu jauh lebih kita butuhkan saat ini ketimbang narasi keputusasaan.

Facebook Comments