Yang Berisik, Yang Berbisik: Seni Sebagai Pendidikan Toleransi Sejak Dini

Yang Berisik, Yang Berbisik: Seni Sebagai Pendidikan Toleransi Sejak Dini

- in Suara Kita
156
0
Yang Berisik, Yang Berbisik: Seni Sebagai Pendidikan Toleransi Sejak Dini

Dalam khazanah budaya Jawa, toleransi sering disepadankan dengan istlah “tepa slira” atau lebih tepatnya “tepa sarira.” Istilah ini sebenarnya lebih mengacu pada sebentuk sikap untuk tahu diri, tepa berarti kenal dan sarira berarti diri.

Secara normatif hal ini berkaitan dengan kesadaran akan orang lain yang akan tumbuh ketika orang sadar akan diri sendiri. Tentang tepa sarira atau sikap etis mengenal diri sendiri yang berujung mengenal orang lainnya dan teranyamnya keberagaman ini saya kira dapat dengan mudahnya dimengerti dan dipelajari melalui dunia seni.      

Di bidang musik, gamelan Jawa merupakan salah satu contoh yang paling bagus tentang keberagaman dalam kesatuan dan toleransi yang membuat keberagaman itu tetap teranyam dan berlangsung. Pada dasarnya, tak ada satu pun instrumen gamelan yang dapat dimainkan secara tunggal.

Taruhlah cemplung ataupun siter yang biasanya kita saksikan pada para niyaga (pemusik gamelan) jalanan yang tengah mbarang atau ngamen. Secara teknis tetap saja permainan cemplung ataupun siter itu menggunakan aturan-aturan di mana pada beberapa bagian frase musiknya diisi oleh intrumen lainnya, entah kendhang, kempul ataupun gong. Sehingga, bagi yang telah ngeng pada gamelan (baca: peka), permainan cemplung ataupun siter itu akan terasa garing, kurang lengkap dan mantap.

Pada gamelan pula orang akan paham tentang keberadaan dan kekhasan instrumen-instrumen yang menjadi unsur-unsurnya. Ada yang berupa ricikan lanang (instrumen-instrumen bersuara keras semisal demung, saron, atapun bonang) dan ricikan wadon (instrumen-instrumen yang bersuara halus semisal gender barung, gender penerus, ataupun rebab). Dan pada gamelan pula orang akan belajar tentang apa yang saya sebut sebagai “jejer” (peran dan fungsi), pembagian tugas, dan wilayah (Akumu Adalah Jejermu: Wajah Lain Sufisme Nusantara, Heru Harjo Hutomo, https://www.idenera.com).

Baca Juga : Mencegah Potensi Intoleransi di Sekolah

Seumpamanya kendhang yang memiliki jejer sebagai pamurba irama (pemimpin keseluruhan penyajian musik), ia mesti bertanggungjawab pada keberlangsungan orkestrasi. Pada wilayah garap, orang akan belajar tentang kapan dan mana yang menjadi bagian dari ricikan lanang serta ricikan wadon. Atau dengan kata lain, kapan masing-masing instrumen mesti diam atau berbunyi. Seumpamanya pada bentuk gending sampak, tak ada gunanya ricikan-ricikan wadon berbunyi, karena konteks ataupun momen menuntut berbunyinya ricikan-ricikan lanang yang bersifat soran (keras).

Dengan demikian, seni pada umumnya atau musik pada khususnya, merupakan salah satu media yang efektif untuk belajar tentang toleransi. Tak sekedar berarti bahwa seni itu bersifat instrumental semata, hanya sekedar media untuk mengkampanyekan atau mempopulerkan, tapi lebih dari itu, seni justru adalah wahana pembelajaran atau bahkan pendidikan tentang toleransi.

Pada kasus gamelan Jawa, orang akhirnya sadar tentang jejer, rasa tahu diri atau batas diri, tanggung-jawab, kapan harus diam dan berbunyi atau empan papan, demi keberlangsungan orkestrasi. Saya kira, keberagaman akan senantiasa teranyam andaikata masing-masing orang, seperti halnya niyaga (para pemain gamelan), paham dan bertanggungjawab sepenuhnya atas peran dan fungsinya.

Barangkali, pada permainan gamelan Jawa, secara sekilas orang melihat tak diperkenankannya adanya disonansi pada musikalitasnya. Tapi saya kira pandangan ini keliru dan kurang memahami dunia musik atau seni pada umumnya. Pada gamelan Jawa ada istilah “mblero,” “melog,” atau “ora laras,” di mana kesemuanya merujuk pada sebentuk disonansi. Disonansi ini sebenarnya cukup dominan pada musik Barat, terutama musik jazz ataupun deathmetal. Tapi ada ruang khusus di mana disonansi ini diperkenankan dalam permainan musik gamelan Jawa.

Selain laras (tangga nada) slendro dan pelog, sebenarnya di Jawa ada satu tangga nada lagi yang secara “formal” (pakem) bukan bagian dari laras slendro maupun pelog tapi ada dan dipakai dalam komposisi gending-gendingnya. Ketika seumpamanya semua instrumen gamelan membunyikan nada 5 slendro, vokal dan rebab justru naik atau turun setengah nada atau sengaja tak tepat jatuh pada nada 5 slendro.

Pada perbendaharaan karawitan Jawa, disonansi ini disebut sebagai laras slendro barang miring atau pada khazanah musik Barat disebut sebagai nada-nada kromatik. Efeknya jelas, disonansi ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kegetiran. Umumnya, gending-gending yang bertemakan kematian, patah hati, kekecewaan, dan kesulitan hidup lainnya, banyak mengeksplorasi tangga nada slendro barang miring. Dan ricikan-ricikan lanang pun memberi ruang atau jalan pada disonansi ini untuk bersuara atau berbunyi. Mereka memilih tak berisik, sekedar berbisik (sirep).

Facebook Comments