Kamis, 30 April, 2026
Informasi Damai
Narasi

Narasi

Memahami Natal Bersama; Bagaimana Relasi Agama dan Negara di Ruang Publik Disruptif?

Photo 2025 12 08 11.53.20
Narasi
Indonesia bisa dikatakan sebagai negara yang unik. Kita bukan negara agama, sekaligus juga bukan negara sekuler. Relasi agama dan negara dalam konteks Indonesia didesain dengan spirit yang moderat. Indonesia tidak didasari oleh hukum satu agama. Namun, sistem hukum kita tidak meminggirkan agama dari ruang publik. Maka, relasi agama dan negara ...
Read more 0

Menghargai Keberagaman dan Membangun Persatuan

Setiap peradaban besar mempunyai titik tolak dan momentum yang diperingati yang dikenal dengan sistem kalender. Kalender Gregorian adalah yang identik dengan umat Nasrani dan paling umum dikenal secara internasional diperkenalkan Paus Gregorius XIII pada tahun 1582 yang mengawali pada 1 Januari. Bangsa Yahudi dengan kalender Ibrani mengenal tahun baru Rosh Hashanah. Ada juga peradaban Tionghoa berbasis siklus bulan yang dikenal dengan Imlek. Ada pula Kalender Persia yang dikenal sebagai Kalender Iran dengan tahun baru yang disebut Nowruz. Dan tentu saja, peradaban Islam yang dikenal dengan tahun baru Hijriyah, dimulai bulan Muharram. Kenapa Islam akhirnya memutuskan harus mempunyai sistem kalender dan peringatan yang harus diperingati setiap tahun? Bukankah Nabi tidak mengajarkannya? Pertama tentu kita tidak boleh berasumsi Islam dengan ijtihad pemikiran dan kebudayaannya sudah selesai ketika Nabi wafat. Banyak sekali tantangan dan kebutuhan yang harus dilalui dan dilampaui umat Islam. Inovasi, kreasi dan kebaruan bukan bid’ah yang tabu dalam memajukan Islam. Adalah Khalifah Umar bin Khattab yang berinisiatif agar umat Islam mempunyai sistem penanggalan yang jelas karena ketiadaan catatan waktu dari dokumen untuk keperluan admistratif pemerintahan. Dipanggillah tokoh-tokoh untuk mendiskusikan sistem kalender dan awal mula tahun dalam Islam. Singkat kata, Islam mengawali pada momentum perpindahan dari Makkah ke Madinah yang dikenal hijrah. Sistem kalender ini pun dikenal dengan Tahun Hijriyah. Bukan merujuk pada sistem kalender Romawi, Persia dan sebagainya. Bukan pula merujuk pada kelahiran atau wafatnya Nabi. Pilihan cerdas umat Islam adalah momentum hijrah. Jenius dan tepat sekali ketika kalender Islam disandarkan pada momentum hijrah. Setiap tahun umat Islam diingatkan untuk kembali mengambil pesan dan semangat perpindahan mentalitas dan pemikiran dari kejumudan, fanatisme, dan kebencian menuju semangat komunitas Madinah yang dinamis, toleran, terbuka dan yang paling penting terikat dalam persaudaraan. Hijrah Nabi ke Madinah bukan sekedar pelarian dan pencarian suaka politik sebagaimana hijrah sebelumnya. Hijrah kali ini berbeda. Ada misi penyelamatan umat dari cengkraman penyiksaan kaum Qurays sekaligus misi perdamaian di Madinah sebagaimana permintaan para suku-suku yang selalu terlibat pertikaian di sana. Maka, yang paling sukses dan teringat dari hijrah ini adalah ikatan persaudaraan Madinah. Membangun sebuah peradaban yang diikat dengan tali persaudaraan. Tidak ada lagi kekerasan, kebencian dan ekslusifitas, tetapi semua berada dalam naungan konsitusi yang disusun dan diperjanjikan bersama. Sangat brilian apa yang dilakukan Rasulullah dengan gerakan hijrah dan membangun Madinah. Tidak ada yang merasa tersisihkan. Pendatang tidak mengalahkan pribumi. Perbedaan suku dan agama bukan halangan untuk saling melindungi. Negara dengan ide demokrasi yang pada saat bersamaan daratan lain masih bermegah-megah dengan sistem kekaisaran dan kerajaan. Dan tentu saja, tidak mengherankan ketika sahabat Umar, sang Khalifah dan mujtahid ini, tidak diragukan memilih momentum hijrah sebagai penanda awal tahun baru Islam. Bukan tanpa makna dan pesan. Umar tentu saja ingin umat Islam generasi berikutnya yang belum mengalami peristiwa hijrah mampu merasakan energi dan sensasi hijrah. Apa pesannya? Umat Islam diajak untuk melakukan muhasabah. Intropeksi dan refleksi. Meninggalkan kebiasaan penuh dendam, benci dan permusuhan menuju semangat saling bersaudara. Selamat Tahun Baru Islam, Mari Perkokoh Persaudaraan Kebangsaan Kita.
Narasi
Indonesia, sebagai negara yang kaya akan keberagaman, telah lama dikenal sebagai rumah bagi berbagai suku, agama, dan budaya. Sejarah toleransi beragama di Indonesia mencerminkan perjalanan panjang yang penuh tantangan namun juga harapan, mulai dari zaman kolonial hingga pasca-independensi. Toleransi bukan hanya sekedar menghormati perbedaan, melainkan juga tentang membangun kebersamaan untuk ...
Read more 0

Peran Negara dalam Menjamin Kerukunan dan Mendorong Partisipasi Sipil

Photo 2025 12 11 12.15.44
Narasi
Dalam sebuah negara yang majemuk seperti Indonesia, kerukunan antarwarga dan partisipasi aktif masyarakat dalam kehidupan berbangsa merupakan dua pilar fundamental yang menopang demokrasi dan stabilitas nasional. Negara, sebagai institusi tertinggi yang memiliki otoritas dan tanggung jawab atas kesejahteraan warganya, memegang peran sentral dalam menjamin harmoni sosial sekaligus membuka ruang bagi ...
Read more 0

Membangun Ketahanan Nasional Melalui Moderasi Beragama

Membangun Ketahanan Nasional Melalui Moderasi Beragama
Narasi
Ketahanan nasional bukan hanya soal kekuatan fisik atau militer, tetapi juga mencakup stabilitas sosial, harmoni kehidupan beragama, dan keadilan bagi seluruh warga negara. Di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia, moderasi beragama menjadi salah satu pilar penting agar bangsa tetap kokoh menghadapi tantangan internal dan eksternal. Sinergi antara ...
Read more 0

Meletakkan Simbolisme dalam Prinsip Agama Bermaslahat

Meletakkan Simbolisme dalam Prinsip Agama Bermaslahat
Narasi
Semakin ke sini, agama semakin hadir dengan wajah yang sangat visual. Mulai dari gaya busana, istilah bahasa, hingga panji-panji yang dikibarkan dalam kerumunan massa. Fenomena ini menandakan bahwa agama sedang mengalami revivalisme. Namun, di balik semaraknya ekspresi tersebut, muncul sebuah pertanyaan reflektif yang patut kita renungkan. Apakah melimpahnya simbol-simbol keagamaan ...
Read more 0

Ketika Bencana Datang, Waspada Banjir Narasi Pecah Belah di Tengah Duka Bangsa

Ketika Bencana Datang, Waspada Banjir Narasi Pecah Belah di Tengah Duka Bangsa
Narasi
Di tengah rumah yang runtuh, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, dan tangis pengungsian yang belum reda, ruang digital sering menjadi medan perang baru: bukan melawan alam, melainkan melawan ujaran yang memecah belah. Bencana semestinya menjadi momentum solidaritas, empati, dan kebersamaan, tetapi dalam beberapa kasus justru dimanfaatkan untuk meniupkan sentimen identitas. ...
Read more 0

Peran Anak Muda dalam Kampanye Moderasi: Membangun Toleransi di Era Digital

Benarkah Moderasi Beragama adalah Agenda Sekularisasi dan Anti-Islam?
Narasi
Di tengah arus informasi yang begitu deras dan polarisasi yang semakin menguat, kehadiran suara moderat menjadi sangat krusial. Anak muda, sebagai generasi yang tumbuh dengan teknologi dan media sosial, memiliki posisi strategis dalam mengampanyekan nilai-nilai moderasi. Mereka bukan hanya konsumen informasi, tetapi juga produsen konten yang dapat membentuk narasi publik ...
Read more 0

Pesantren Melawan Fanatisme untuk Kerukunan

Tiga Tips Memilih Pesantren yang Steril Radikalisme 
Narasi
Di tengah lanskap disrupsi digital yang ditandai oleh tsunami informasi dan fragmentasi wacana, institusi pendidikan tradisional dihadapkan pada uji relevansi yang fundamental. Pesantren, sebagai ekosistem keilmuan Islam yang telah berusia berabad-abad, kerap dipandang sebagai entitas konservatif. Namun, analisis yang lebih mendalam menunjukkan bahwa struktur epistemologis dan pedagogis pesantren justru menyimpannya ...
Read more 0

Menggali Arah Keberagamaan Milenial

Islam Kasih dan Pluralitas Agama dalam Republik
Narasi
Indonesia adalah negara dengan kekayaan keberagaman yang luar biasa, baik dari segi agama, suku, maupun budaya. Keberagaman ini tidak hanya menjadi kenyataan sosial, tetapi juga pondasi yang membentuk jati diri bangsa. Prinsip dasar negara yang tertuang dalam Pancasila, khususnya sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa,” menjadi landasan kuat yang memastikan ...
Read more 0

Merawat Bumi sebagai Keniscayaan, Melawan Ekstremisme sebagai Kewajiban!

Merawat Bumi sebagai Keniscayaan, Melawan Ekstremisme sebagai Kewajiban!
Narasi
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi dua persoalan besar yang sama-sama mendesak: kerusakan lingkungan dan meningkatnya ancaman ekstremisme. Dua isu ini pada dasarnya berbeda, namun keduanya bersumber dari cara pandang manusia yang keliru dalam memaknai keberagamaan dan peran sebagai khalifah di muka bumi ini. Alam terus mengalami tekanan mulai dari ...
Read more 0