Diskursus publik kita belakangan ini diuji oleh sebuah polemik yang sebetulnya tidak perlu diperdebatkan. Rencana Kementerian Agama (Kemenag) untuk mengadakan rangkaian perayaan Natal 2025 memicu reaksi keras dari segelintir pihak. Narasi-narasi menakutkan seperti “sinkretisme”, dan “pengadaian akidah”, dilontarkan ke ruang publik, menciptakan ketegangan yang tidak produktif. Reaksi reaktif ini menunjukkan ...
Read more 0 Narasi
Indonesia bukanlah sekadar nama di atas peta; ia adalah sebuah naskah rumit yang ditulis oleh takdir Tuhan, disusun dari ribuan pulau, ratusan etnis, dan beragam keyakinan yang saling menatap. Dalam filsafat sosial, keberagaman ini sering disebut sebagai pedang bermata dua: ia bisa menjadi mozaik terindah peradaban manusia, atau sebaliknya, menjadi ...
Read more 0 Banyak yang cemas soal inisiatif Kementerian Agama yang hendak menyelenggarakan perayaan Natal bersama bagi pegawainya, misalnya, langsung disambut dengan sirene bahaya. Reaksi seperti tuduhan sinkretisme dan pencampuradukan agama meramaikan ruang maya. Seolah-olah, sekadar hadir untuk menghormati kebahagiaan rekan kerja yang berbeda iman akan serta-merta melunturkan teologi yang telah dianut seumur ...
Read more 0 Penolakan kegiatan Natal Bersama Kementerian Agama menandakan bahwa sebagian umat beragama terutama Islam masih terjebak pada nalar dikotomistik. Nalar dikotomistik beragama dapat diidentifikasi dasi setidaknya tiga hal. Pertama, disparitas yang tajam atau mutlak. Dalam artian melihat segala sesuatu yang berbeda dengan pendekatan konfliktual. Maka, segala yang berbeda akan dianggap bermusuhan. ...
Read more 0 Belakangan ini, lini masa kita kembali riuh. Rencana Kementerian Agama untuk menggelar perayaan Natal bersama bagi para pegawainya langsung ditanggapi sebagian kelompok dengan kecurigaan: sinkretisme, penyamaan agama, hingga gadai akidah. Alih-alih melihat keberagaman sebagai anugerah yang menghidupkan ruang sosial, mereka terjebak pada dikotomi “hitam-putih” yang menutup pintu dialog dan lebih ...
Read more 0 Dalam spiritualitas Islam terdapat tiga kutub yang diyakini mewakili tiga bentuk pendekatan ketuhanan yang kemudian berkonsekuensi terhadap sikap keberagamaan. Tiga kutub itu adalah Syekh Abdul Qadir al-Jilani (yang mewakili pendekatan ibadah), Jalaluddin Rumi (yang mewakili pendekatan perasaan), dan Muhyiddin Ibn ‘Arabi (yang mewakili pendekatan pengetahuan). Saya tak hendak menyingkap dua ...
Read more 0 Indonesia adalah negara dengan kemajemukan yang luar biasa, di mana berbagai agama hidup berdampingan dalam satu nusantara. Setiap akhir tahun, ketika umat Kristiani merayakan Natal, muncul berbagai diskusi dan perdebatan di kalangan umat beragama lain, khususnya Muslim sebagai mayoritas. Di sinilah moderasi beragama menjadi sangat penting—sebagai pendekatan yang menyeimbangkan antara ...
Read more 0 Dalam kehidupan beragama di Indonesia, terdapat banyak perbedaan yang seringkali menimbulkan gesekan dan perdebatan, khususnya terkait dengan sikap yang cenderung “hitam-putih” dalam melihat praktik keagamaan. Pendekatan ini sering kali menciptakan batasan-batasan yang rigid, yang akhirnya memperuncing perbedaan dan menghilangkan esensi utama dari ajaran agama itu sendiri. Salah satu contoh aktual ...
Read more 0 Indonesia, dengan keberagaman agama yang diakui secara resmi, merupakan salah satu negara yang mengusung pluralisme sebagai salah satu prinsip dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai negara dengan enam agama yang diakui, Indonesia harus menciptakan iklim yang kondusif untuk hidup berdampingan antar umat beragama. Kementerian Agama (Kemenag) memiliki peran penting ...
Read more 0 Setiap menjelang peringatan Natal, ruang publik digital kita riuh oleh perdebatan tentang boleh tidaknya umat Islam mengucapkan selamat Natal pada umat Kristen. Tahun ini, debat itu kian riuh oleh rencana Kemenag mengadakan perayaan Natal Bersama. Natal bersama dianggap sebagai bentuk sinkretisme yang membaurkan ajaran agama-agama. Natal bersama dianggap sebagai upaya ...
Read more 0
